Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Pertunangan


Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Ujian kelulusan kini sudah di depan mata. Alea dan semua murid kelas dua belas sudah siap untuk hari ini.


Tapi satu hal yang membuat Alea sedikit terganggu. Yaitu tentang kejadian kemarin antara dirinya dan Reihan.


Semalam dia tidak bisa tidur saat mengingat bagaimana wajah Reihan yang begitu dekat dengannya saat dia mencium bibir gadis itu.


Tapi kini, pria itu tampak biasa saja. Tanpa rasa bersalah telah menciumnya. Rei tengah duduk santai di kursinya menunggu ujian dimulai.


Alea menghela napas panjang. Lagi-lagi dia pusing kepala menghadapi Reihan. Di tambah lagi, sikap Raffa yang beberapa hari ini juga mengganggunya. Raffa meminta Alea untuk menerima sebuah kejutan dalam waktu dekat. Entah apa itu, tapi Raffa sekarang sedang sibuk mempersiapkannya.


Alea tidak tahu apakah dia bisa melewati ujian kelulusan ini dengan tenang atau tidak. Karena pikirannya kini di penuhi oleh dua pria yang membuatnya dilanda kegalauan itu.


Setelah bel tanda ujian berbunyi, semua murid tenang di kursi masing-masing. Mereka harus fokus mengerjakan soal-soal itu.


Hingga beberapa hari berlalu, ujian pun telah selesai. Tapi masih saja Reihan bersikap dingin padanya. Alea tak habis pikir. Dia yang di rugikan malah pria itu bertingkah mengesalkan di depannya.


"Huh masih saja membuatku kesal, awas saja kamu gak dapat maaf dariku!" gumam Alea.


Saat pulang sekolah, tanpa Alea tahu. Raffa sengaja menemui Reihan. Dia tahu masalah Rei mencium pacarnya. Raffa jelas sangat marah, tapi dia tak bisa menghajar pria di depannya ini karena dia sahabat baik Alea.


"Aku gak tahu setelah melewati maut kamu masih sangat berani untuk menantang ku!" ucap Raffa sambil menatap tajam Reihan yang berdiri di depannya. Keduanya saling memberi tatapan memusuhi.


"Huh hanya menciumnya kenapa aku harus takut! Aku bahkan akan merebutnya jika kamu menyakiti dia!" tantang Reihan. Pria itu bahkan tidak terlebih dahulu menyaring kata yang keluar dari bibirnya.


Raffa mulai terpancing emosi,kedua tangannya mengepal siap untuk memukul Reihan. Tapi tak urung dia lakukan, karena suara Alea memanggilnya dari seberang.


"Aku gak peduli dengan niatmu merebut dia, yang jelas aku gak akan melepas Alea begitu saja!" Raffa mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.Lalu melemparnya ke arah Reihan.


"Itu bukti bahwa aku serius dengannya,jangan ganggu hubungan kami lagi!" imbuh Raffa,setelah itu dia pergi meninggalkan Reihan, bersiap menghampiri Alea.


Reihan mengambil kertas yang jatuh di depannya. Membukanya dan melihat isi di dalamnya.


Sebuah undangan pesta pertunangan antara Alea dan Raffa. Hati Reihan seperti tersayat saat melihatnya. Dia meremas undangan itu.


"Sial!" rutuknya.


"Apa yang kalian ucapkan?" tanya Alea pada Raffa, karena kebetulan dia tahu bahwa pria itu bertemu dengan sahabatnya.


"Hanya menyapanya saja," jawab Raffa singkat.


Kemudian keduanya segera masuk ke dalam mobil, mereka hendak pulang ke rumah Alea.


Alea sedang membuka botol minuman, dia sangat haus siang ini.Sedangkan Raffa masih fokus mengendarai mobilnya.


"Alea," panggil Raffa.


"Hemm," jawab Alea sambil meminum isi di botol yang dia pegang.


"Aku sudah mempersiapkan pertunangan kita Alea," beritahu Raffa.


Seketika Alea menyemburkan air yang belum sempat dia telan. Dia terkejut dengan ucapan Raffa barusan.


"Pertunangan?" tanya Alea memastikan bahwa kedua telinganya masih normal.


"Ya,kita tunangan seminggu lagi!" jawab Raffa santai.


"Hah kamu serius?" Alea tambah terkejut mendengar waktu yang telah di tentukan pria di sampingnya itu.


Raffa tidak pernah memberitahukannya tentang masalah pertunangan mereka. Alea merasa sedikit kesal karena pria itu hanya memutuskan sepihak saja.


"Tentu saja." Jawab Raffa, Alea terdiam cukup lama.


"Kenapa diam, kamu gak mau tunangan sama aku?" tanya Raffa pada Alea yang masih terdiam setelah apa yang dia beritahukan tadi.


"Tentu saja aku mau, tapi kenapa mendadak seperti ini?" tanya Alea.


"Maaf Alea tapi karena aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya. Lagi pula setelah ini aku harus kembali ke Inggris terlebih dahulu. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Raffa.


"Ada hal kecil yang harus aku selesaikan, kamu tenang saja aku tidak akan lama di sana," ucap Raffa.


"Ya baiklah, aku menuruti apa kemauan mu," jawab Alea. Lagi pula ini juga demi kebaikan mereka berdua. Alea memang mencintai Raffa, jika memang harus bertunangan lebih baik begitu.


Beberapa hari kemudian tiba saatnya pertunangan keduanya. Acara kali ini hanya untuk dua keluarga dan para sahabat saja yang di undang.


Alea tengah turun dari tangga hotel mewah milik salah satu keluarga Raffa. Di balut dengan gaun biru laut dan beberapa berlian sebagai aksennya. Alea tampak begitu cantik.


Raffa dan beberapa pria lain bahkan takjub dengan kecantikan Alea. Semuanya telah siap, termasuk cincin pertunangan keduanya.


Acara inti segera dimulai Raffa menyelipkan cincin yang sudah dia pesan khusus untuk keduanya. Begitu juga dengan Alea. Semua orang saling bersorak senang, meminta Raffa untuk mencium Alea.


Padahal ini hanya sebuah pertunangan tapi dua keluarga itu begitu antusias. Di saat kebahagiaan itu hadir bagi mereka. Tapi tidak bagi salah satu orang yang berdiri tak jauh dari Alea dan Raffa.


Dia adalah Reihan, hatinya benar-benar sudah hancur kali ini. Tapi dia mencoba untuk tetap tersenyum. Dia mendekat ke arah Alea dan Raffa.


Tatapan mata Raffa langsung memburu. Dia tak suka jika Reihan terlalu dekat dengan Alea. Sadar mendapat tatapan seperti itu Reihan justru tidak bergeming. Dia tampak biasa saja. Karena tujuannya adalah Alea, bukan Raffa.


"Alea selamat ya untuk pertunangan ini, semoga kalian bahagia," ucap Reihan sambil memeluk Alea begitu saja. Raffa yang kecolongan merasa sangat kesal.Dia lalu menarik Alea kedalam dekapannya.


"Terima kasih, tapi tunangan ku tidak perlu pelukan darimu!" ucap Raffa protektif.


"Baiklah-baiklah, tenang saja Raffa, dia sudah menjadi milikmu!"


Setelah mengucapkan hal itu Reihan meninggalkan keduanya dan juga tempat itu. Dia pergi dengan membawa luka.


Alea mencoba mengejar pria itu, setelah memohon kepada Raffa dari lirikan matanya. Raffa terpaksa menyetujui Alea kali ini.


"Reihan tunggu!" panggil Alea saat keduanya sudah berada di luar hotel.Rei menghentikan langkahnya, dia memunggungi Alea.


"Aku tahu kamu pasti sangat terluka karena pertunangan ini. Maaf Rei tentang perasaanmu padaku," ucap Alea merasa bersalah karena dia tak bisa membalas perasaan sahabatnya.


Rei lalu berbalik ke arah Alea, menatap lekat gadis itu. Satu kata di hatinya, cantik untuk gadis itu.


"Ya aku baik-baik saja, selagi kamu bisa bahagia dengannya."


Alea terdiam mendengar ucapan tulus Reihan. Sahabat yang bisa membuatnya begitu nyaman saat bersama pria itu. Kini Alea telah menghancurkan hatinya. Alea merasa tak pantas lagi bersamanya.


"Bolehkah aku memelukmu terakhir kali sebelum kamu benar-benar bersama dia?" tanya Reihan. Alea menganggukkan kepalanya.


Rei perlahan memeluk Alea, membenamkan wajah gadis itu dalam dada bidangnya.


"Alea aku akan selalu mencintaimu."


"Rei sudah cukup, kamu pasti bisa menemukan gadis yang lebih baik di luar sana."


Alea melepaskan pelukan itu,dia meyakinkan Reihan pasti pria itu bisa mendapatkan gadis yang lebih baik darinya.


Tapi bukan Reihan jika dengan mudah dia bisa mencintai gadis lain di luar sana.


"Ya, kalau begitu sampai jumpa," Rei pamit pergi. Alea hanya bisa memandang punggung pria itu yang semakin menjauh.


Di tempat parkir, Mila sudah berdiri di samping mobil milik kakaknya. Dia menghela napas panjang melihat betapa tidak ada semangat kakaknya itu.


"Apa kakak yakin akan pergi sekarang?" tanya Mila.


"Ya Mila, kakak yakin."


Reihan menatap Alea dari jauh, seperti tak pernah rela untuk melepas gadis itu.


"Sampai jumpa Alea, jika memang ada pertemuan selanjutnya kita pasti bisa bertemu lagi, semoga kamu bahagia Alea."


Luka yang kini Reihan rasakan masih terlalu basah. Dia harus bisa mengeringkannya terlebih dahulu. Dan itu tak semudah membalikkan kedua tangannya.