
Setelah tiba di negaranya, Andrew membawa istri dan kedua anaknya ke rumah mereka.Pria itu juga tak lupa memberitahukan kepada keluarga besar keduanya bahwa Alea telah kembali.
Berita itu dengan cepat sampai di telinga Zulian dan juga para keluarga lain.
Bahkan mereka segera berbondong-bondong untuk pergi ke rumah Andrew dan Zelia.
James dan Liana tak mau ketinggalan, mereka juga datang bersama para anggota keluarga Jhonson yang lain.
Zelia dan Andrew menyambut para tamunya dengan senang hati. Sebagai rasa syukur telah menemukan Alea. Andrew menjamu makan malam bagi keluarga besarnya.
"Alea sayang, akhirnya kamu kembali, ini nenek sayang," ucap mommy Zelia pada Alea. Sebelum menerima pelukan dari wanita itu, Alea melihat ke arah Zelia.
Zelia lalu mengangguk dan Alea menerima pelukan dari neneknya. Serta satu persatu dari mereka saling memeluk Alea. Rasa syukur telah menyelimuti semua orang yang berada di sana. Kembalinya Alea menambah kebahagiaan keluarga besar itu.
Setelah semuanya selesai makan, mereka melanjutkan berbincang-bincang di ruang tamu. Di sela-sela perbincangan itu Zelia tiba-tiba berdiri dan mengatakan sesuatu.
" Untuk semuanya saya ucapkan terima kasih karena kalian sangat perhatian pada Alea,kembalinya dia ke keluarga kita sangat saya harapkan bertahun-tahun ini. Dan satu lagi, kebahagiaan kami akan bertambah dari Tuhan."
Zelia menatap ke arah Andrew, pria itu hanya membalas dengan senyuman lalu berjalan mendekati Zelia dan merangkulnya.
"Saat ini saya telah hamil lagi," ucap Zelia seketika membuat semuanya terkejut, begitu juga dengan Andrew. Dia bahkan belum tahu bahwa istrinya telah hamil kembali.
"Kamu serius sayang?" tanya Andrew.
"Iya, maaf baru cerita ke kamu sekarang Ndrew, aku udah ke dokter sebelumnya. Dokter bilang baru empat minggu usianya."
Andrew lalu memeluk istrinya,rasanya begitu sempurna kehidupan pria itu saat ini. Apalagi dia akan menerima calon bayi mereka lagi.
"Ya ampun Zelia, selamat ya sayang, Alea dan Arkan akan mendapatkan adik mereka," ucap mommy. Semua orang berucap syukur atas kebahagiaan Andrew dan Zelia.
"Makasih mom, semuanya juga makasih banget."
"Yeee aku akan punya adik!" teriak Alea kegirangan. Semua orang tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan itu.
Sedangkan Arkan hanya bersikap biasa saja, meski dia senang dia tak akan bertingkah seperti adiknya.
Setelah selesai berkunjung, satu persatu anggota keluarga berpamitan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. James dan Liana juga begitu.
Zelia dan Andrew segera membawa kedua anaknya ke kamar mereka agar keduanya beristirahat.
Keesokan harinya Andrew kembali beraktifitas seperti biasa. Dia pergi ke perusahaan bersama Han di sampingnya.
"Han," panggil Andrew saat keduanya berada di ruang kerja Andrew.
"Ya tuan," jawab Han.
"Bagaimana keadaan Flo saat ini, apa ada perkembangan?" tanya Andrew.
"Belum tuan,saat ini dia masih koma," jawab Han yang mengetahui betul bagaimana keadaan rekan kerjanya itu.
"Lalu bagaimana hasil penyelidikan kasus itu? aku sangat curiga semua ini berhubungan dengan keluarga itu!" ucap Andrew geram mengingat kematian kakeknya.
"Orang kita dan polisi masih mendalaminya tuan, ada saksi dan bukti sesaat sebelum mereka merusak rem mobil tuan Afzriel. Apa sebaiknya kita segera ke sana hari ini tuan?" tanya Han.
"Benar, sebaiknya kita segera mengurus ini. Tapi bantu aku menyelesaikan ini semua!" ucap Andrew sambil menunjuk beberapa berkas di depannya.
"Baik tuan," Han menuruti perintah tuannya.
Siangnya Andrew dan Han segera ke kantor polisi. Keduanya meminta penjelasan atas kasus kakeknya. Polisipun sudah menemukan sedikit titik terang.
Dari saksi yang berada di tempat, dia melihat seseorang mengutak-atik mobil milik Afzriel Tan saat mobil itu di parkiran perusahaan.
Hari itu memang sang kakek sedang berada di perusahaan untuk mengurus sesuatu. Tapi sayangnya dari hasil rekaman Cctv pula di temukan bahwa orang yang menyabotase mobil ternyata memakai penutup kepala.
Tapi dia juga meninggalkan sidik jari di dalam mobil itu. Dari situlah polisi akhirnya bisa menemukan pelaku.
"Lalu bisakah saya bertemu dengan pelakunya pak?" tanya Andrew.
"Boleh silahkan tuan Andrew ikut saya."
Han dan Andrew mengikuti polisi itu ke ruang tahanan, dimana pelaku itu di tahan.
"Keluar kamu! ada yang ingin bertemu denganmu!" ucap polisi itu setelah membuka ruang berpagar jeruji besi di depan mereka.
Seorang pria tinggi dengan badan tegap keluar dari ruang itu. Langkahnya sedikit pincang karena kaki kirinya telah di perban. Kemungkinan dia melawan saat para polisi menangkapnya, dan alhasil dia mendapatkan timah panas di kakinya.
Andrew menatap ke arah pria itu dengan tatapan ingin membunuh. Han yang mengetahui bahwa tuannya sedang menahan marah hanya bisa berdoa agar tuannya tak berbuat hal aneh di sini.
"Tuan," panggil Han mengingatkan setelah Andrew tak mengatakan apapun untuk beberapa saat.
"Huft," Andrew menghela napas panjang untuk meredakan amarah di dalam hatinya.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Andrew tegas.
Pria itu tampak gugup ketika menatap kedua mata Andrew. Dia tak berani mengatakan apapun dari mulutnya.
"Siapa!" teriak Andrew.
Han dan pria itu terkejut mendengar teriakan Andrew.
"Tidak ada yang menyuruh saya!" jawab pria itu sambil menundukkan kepalanya.
Andrew hanya tersenyum sinis mendengar jawaban itu. Dia sudah tahu bahwa tak mudah untuk mengungkap siapa dalang sebenarnya dari kejadian itu. Andrew ragu jika pria di depannya itu hanya melakukannya sendiri.
"Kamu tahu kan bagaimana hukumannya jika membohongi pihak kepolisian dengan menyembunyikan para pelaku utama?" ancam Andrew.
"Saya, saya tidak tahu, saya hanya di suruh saja mereka membayar saya!" ucap pria itu ketakutan setelah mendapat intimidasi dari Andrew.
"Siapa orang itu?" tanya Andrew lagi.
"Saya tidak tahu tuan, ampuni saya, saya melakukan pekerjaan ini demi keluarga saya, mereka mengancam saya!" ucapnya lagi.
"Han kita pergi!" ucap Andrew tak memperdulikan pria itu lagi. Polisi lalu membawa pria itu kembali ke ruang tahanan.
"Baik tuan!" Han mengikuti Andrew keluar dari kantor polisi. Saat di dalam mobil, Andrew meminta Han untuk mencari tahu tentang pria itu.
Andrew merasa ada hal yang sengaja di tutupi di belakang kejadian ini. Andrew penasaran tujuan utama orang yang membunuh kakeknya.
"Apa sebenarnya yang mereka incar, apa karena kekuasaan? atau memang keluarga itu di balik ini semua!" batin Andrew berkecamuk.
Jika memang mereka mengincar keluarga Tan, maka dirinya dan juga keluarganya dalam bahaya. Andrew segera meminta Han memperketat keamanan di rumahnya sebagai jaga-jaga jika hal terburuk terjadi pada keluarganya.