
Abian mulai duduk di tepi ranjang di samping Alina, yang membuat jantung Alina semakin deg-degan di buatnya.
Alina hanya bisa menunduk menyembunyikan perasaannya yang begitu bercampur aduk, antara malu, takut, dan gelisah bercampur menjadi satu.
Tangan Abian mulai menyentuh tangan Alina yang membuat Alina menengadahkan wajahnya ke atas untuk bisa menatap wajah sang suami yang kini sedang menatapnya.
Tangan Abian mulai membingkai wajah Alina, detik kemudian Abian mulai mendekatkan wajahnya pada Alina yang membuat Alina memejamkan matanya.
Tidak butuh waktu lama akhirnya bibir mereka menyatu satu sama lain.
Setelah beberapa detik, Abian melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Alina.
Kini Abian mulai mendekatkan wajahnya pada leher jenjang sang istri, dan mulai menciumi leher Alina sehingga membuat tanda kepemilikan disana.
Nafas mereka kini sama-sama memburu, menahan hasrat yang sebentar lagi akan tersalurkan.
Abian menatap lekat wajah Alina sebelum dia melanjutkan ke langkah berikutnya.
Mata Alina terlihat sayu, dan dia sepertinya pasrah dengan apa yang akan di lakukan oleh suaminya itu.
Abian mulai menindih tubuh Alina, dan kini Abian mulai ke tahap penyatuan mereka berdua.
Mereka melewati malam panjang mereka dengan perasaan yang sama-sama begitu bahagia.
Hingga Alina, dan Abian tertidur saat permainan mereka telah selesai.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Pagi telah tiba dengan sinar mentari yang membawa kehangatan bagi seluruh alam semesta.
Alina terlihat mulai membuka matanya, dan yang pertama kali Alina lihat adalah wajah sang suami yang kini sedang tidur di sampingnya. seraya tangan Abian memeluknya dengan sangat erat.
Alina mulai mengingat kembali kejadian semalam yang membuatnya tersenyum seraya matanya menatap wajah sang suami yang kini masih memejamkan matanya.
Dengan awas mata Alina menatap wajah Abian lekat-lekat dari jarak yang begitu dekat.
Alis yang tebal, hidung yang mancung, serta bibir yang menurut Alina begitu ****.
Ternyata kalau di lihat dari dekat seperti ini, dia terlihat begitu tampan. suara hati Alina.
Detik kemudian jari tangan Alina mulai menyentuh hidung Abian karena dia begitu gemas ingin menyentuh hidung mancung itu.
Seketika perbuatan Alina membuat sang suami terbangun, dan membuka matanya yang membuat Alina begitu terkejut.
Abian menatap wajah Alina yang kini menatapnya, detik kemudian Abian mulai menggeser kan tubuhnya supaya bisa lebih dekat pada tubuh sang istri.
Namun Alina memilih menggeser kan tubuhnya juga untuk bisa menjauhi tubuh sang suami.
Melihat itu Abian malah bersemangat untuk menggeser kan kembali tubuhnya supaya bisa lebih dekat kembali dengan tubuh sang istri.
Namun lagi-lagi Alina menggeser kan kembali tubuhnya hingga kini tubuhnya berada di tepi ranjang.
Dengan semangat Abian kembali menggeser kan kembali tubuhnya supaya bisa lebih dekat dengan istrinya itu, namun naas gerakan Abian membuat tubuh Alina terjatuh ke atas lantai yang di susul oleh Abian yang ikut terjatuh juga di atas tubuh Alina.
Bruuggh..!
"Aduhh..!"lirih Alina. Kini keduanya saling pandang dengan posisi wajah mereka yang begitu dekat. Saking dekatnya mereka sampai bisa merasakan nafas mereka satu sama lain.
Abian mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Alina, hingga kini bibir mereka kembali bertaut.
Dan mereka pun mulai melakukan hubungan suami istri kembali.
Setelah tiga puluh menit berlalu, akhirnya mereka telah selesai melakukan aktivitas mereka yang sungguh sangat melelahkan itu.
"Al, kita harus segera pulang ke Indonesia." tutur Abian saat Alina keluar dari kamar mandi.
"Hah.. Emangnya ada apa?" tanya Alina yang terlihat kebingungan.
"Barusan bi Inah telpon katanya mama jatuh dari tangga, dan papa sedang nggak ada di rumah." tutur Abian seraya berjalan menuju kamar mandi.
"Apa? Ya sudah kalau gitu aku beresin koper ya." ucap Alina yang di jawab anggukan oleh Abian sebelum Abian menutup pintu kamar mandi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Akhirnya Alina, dan Abian kembali ke Jakarta dengan selamat.
"Mah, kok bisa sih mama jatuh dari tangga?" tanya Abian khawatir yang kini sudah tiba di rumah, dan berada di dalam kamar sang mama.
" Mamah gak apa-apa kok Bi, Kenapa kalian harus sampai pulang ke Jakarta? "tanya Lisa yang merasa tidak enak hati karena gara-gara dirinya jatuh dari tangga membuat Abian, dan Alina harus kembali lebih cepat dari Amerika.
"Enggak apa-apa kok mah, Lagipula aku sudah bosan di sana. " seru Alina sambil tersenyum, yang sekarang tengah duduk di tepi ranjang di samping mertuanya itu.
Mendengar itu Abian sepertinya tidak terlalu suka, sehingga matanya menatap tajam ke arah sang istri.
"Sekali lagi mama minta maaf ya, karena mama udah ganggu liburan kalian! " lirih Lisa yang masih tidak enak pada anak dan menantunya itu.
"Padahal mama sudah bilang sama bi Inah supaya nggak usah ngasih tahu kalian."sambung Lisa.
" Ya nggak mungkin dong bi Inah nggak ngasih tahu Abi, apalagi sekarang papa sedang ke luar kota. "jawab Abian.
" Sekarang lebih baik mama istirahat ya,! "ucap Alina yang di jawab anggukan oleh Lisa.
Alina membantu mama mertuanya untuk berbaring, dan mulai menyelimuti tubuh Lisa dengan selimut hingga ke leher.
Alina, dan abian mulai berjalan keluar dari kamar Lisa.
" Ahh..! "lirih Alina saat tangannya tiba-tiba saja di tarik Abian, dan Abian mulai menghimpit tubuh Alina ke dinding.
"Abi, apa yang kamu lakukan?" tanya Alina yang merasa tidak nyaman, karena sikap Abian yang seperti ini saat mereka sedang berada di luar kamar mamanya.
"Apa tadi kamu bilang, kamu sudah bosan di Amerika padahal kita baru satu hari disana." Abian meminta penjelasan dari kata-kata Alina tadi.
Mendengar itu Alina malah tersenyum. "Aku cuma bercanda kok tadi." sergah Alina yang masih melukiskan sebuah senyuman di bibir tipisnya itu.
"Tapi aku nggak suka dengan cara bercanda kamu." decak Abian yang terlihat kesal.
"Ih, kamu ngambek?" tanya Alina seraya menengadahkan wajahnya ke atas untuk bisa melihat wajah manyun sang suami yang jauh lebih tinggi darinya.
"Tau ah." jawab Abian sambil membuang muka.
"Ih, kamu beneran marah?" tanya Alina kembali, masih dengan seutas senyum di bibirnya.
"Jangan ngambek gitu, kalau ngambek kamu itu jelek tau." sambung Alina seraya tangannya mencubit hidung Abian dengan sangat keras.
"Aduh..! Al sakit tahu." lirih Abian seraya tangannya mengusap-ngusap hidungnya yang terlihat sedikit memerah.
Alina hanya terkekeh kecil melihat suaminya yang kesakitan seperti itu.
Tanpa babibu Abian langsung mencium bibir Alina, yang membuat Alina terkesiap dibuatnya.
" Abi, kamu apaan sih ini kita lagi ada di rumah Mama loh. " decak Alina saat Abian sudah melepaskan bibirnya dari bibir Alina.
Mendengar itu Abian hanya diam, dan justru kini Abian mulai mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Alina, yang membuat Alina risih karena takut ada orang yang melihat mereka.
" Papa, papa sudah pulang?" ucap Alina yang membuat Abian menengok ke belakang, sedangkan Alina dia langsung berlari menuju kamarnya.