Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Selamat Dari Bahaya


Di antara semak-semak belukar, seorang pria yang penuh dengan luka berjalan gontai tak tentu arah. Kakinya terseok-seok saat berjalan, beberapa luka membuatnya meringis kesakitan.


Tapi dia merasa beruntung bisa lolos dari tempat yang tak pernah dia inginkan. Entah apa yang akan terjadi jika dia tak bisa keluar dari tempat itu.Nyawanya mungkin menjadi jaminannya.


Dia tak tahu harus kemana, hingga sebuah rumah kosong tak terurus menjadikannya tujuan sementara. Demi memulihkan luka-lukanya dia harus merawatnya sendiri.


Kakinya perlahan melangkah ke dalam rumah itu, dari keadaan rumah sepertinya belum terlalu lama di tinggal oleh penghuninya.


"Aku sebaiknya disini dahulu sampai lukaku membaik," batinnya.


Masih ada kotak obat di dalam rumah itu, meski tak lengkap itu bisa membantunya. Namun sayangnya tak ada bahan makanan di rumah itu.


Dia hanya bisa menahan lapar semalam di sana, hingga keesokan harinya dia memutuskan untuk berjalan ke luar daerah itu. Untuk mencari bantuan.


Benar saja dia mendapatkan bantuan dari seorang pria paruh baya yang kebetulan lewat di dekatnya. Melihat pria itu penuh dengan luka. Sang kakek segera membantunya.


Dia membawa pulang dan memberikan obat salep ke seluruh luka pada pria itu. Serta merawatnya hingga pria itu benar-benar pulih seutuhnya.


Namun di sayangkan bekas luka dibagian wajahnya tak bisa sepenuhnya hilang. Masih terdapat bekas luka bakar yang lumayan parah. Membuat wajah pria itu tampak sedikit menakutkan.


"Bagaimana nak Bram, apa sudah lebih baik?" tanya sang kakek yang di ketahui namanya adalah kakek Alfan.


"Sudah membaik kek, terima kasih sudah merawatku selama ini," ucap Bram, ya pria itu adalah Bram. Dia bisa selamat dari kobaran api yang membakar tempatnya di kurung.


Entah itu di sengaja atau tidak bagi Bram semuanya sama saja, asalkan dia bisa lolos dari sana. Tapi sekarang dia tak punya tujuan apapun selain ingin bertemu dengan Liera dan anaknya.


Bram menatap wajah keriput pria di depannya itu, sudah satu bulan tak terasa dia hidup satu atap dengannya. Andai tak ada dia mungkin Bram sudah terbujur kaku di tengah semak belukar itu.


"Ada seseorang yang mengurung saja di sebuah tahanan terpencil keluarga itu. Tapi suatu hari ada yang membakarnya, entah itu di sengaja atau tidak. Untung saja saya masih bisa meloloskan diri dari kobaran api, hingga selanjutnya bertemu dengan kakek."


"Kenapa mereka mengurungmu Bram?" tanya kakek Alfan.


"Karena saya terlibat dengan wanita yang menipu orang-orang itu kek, demi kesalahan wanita itu saya harus mengalami hal ini," ucap Bram.


Sang kakek mengangguk paham, kisah percintaan anak muda sekarang begitu rumit baginya. Kakek Alfan memutuskan untuk tak menanyakan apapun lagi pada pria di depannya itu.


"Baiklah, kamu istirahat saja dulu sekarang," ucap kakek Alfan.


"Tunggu kek, bagaimana saya bisa kembali ke kota?" tanya Bram.


"Kamu ingin kembali?"


Bram menganggukkan kepalanya, dia harus kembali untuk menemui Liera. Bram masih mencintai wanita itu. Apapun kesalahan yang telah di perbuatnya. Bram akan memaafkan Liera.


"Baiklah besok akan ku antar kamu sampai ke pinggir perbatasan desa," balas kakek Alfan.


"Terima kasih sekali lagi kek, kakek telah banyak membantu saya," Bram baru kali ini merasakan memiliki sebuah keluarga. Meski hanya berdua tapi entah mengapa dia merasa kakek Alfan seperti kakeknya yang telah meninggal.


Hanya kakek yang dia punya waktu itu, tanpa kedua orang tua yang berada di sisinya. Bram tumbuh menjadi pria yang kuat. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Liera, wanita yang dia cintai itu. Sayang Liera tak begitu serius dengan perasaannya.