Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Rindu Mama


kini lea dan juga Leon berada di bawah selimut yang sama, akan tetapi hanya Lea saja yang belum bisa tertidur.


Wanita itu terus melirik ke arah Leon dengan Tatapan yang sangat sulit di artikan, lalu ia memiringkan tubuh nya untuk menghadap ke arah Leon yang sedang terpejam.


Lea berfikir jika beberapa bulan lagi suami nya itu akan lulus dari sekolah SMA Tunas Bangsa, begitupun dengan Satria dan juga Putra, Mungkin nanti dia akan merasa bosan jika berada di sekolah tanpa ada nya ketiga lelaki Berandal itu.


"I love you suamiku yang ganteng". ujar Lea Seraya mengusap lembut wajah suami nya itu


"I love you too istriku yang paling cantik sedunia". sahut Leon yang membuka mata nya dan langsung bangkit dari tidur nya, seraya mengukung Lea di bawah tubuh nya


"Sayang, Kenapa kamu bangunin singa yang sedang tidur hah? ". Ucap Leon seraya tersenyum smirk


"Mas... Awas ih!! jangan macam-macam ya". Ucap Lea sedikit ketakutan atas sikap suami nya itu


"macam-macam gimana? lagian kan kita sudah halal loh, jadi aman-aman aja dong. Apa kamu mau nambah lagi hemm". Ucap Leon seraya menaikan satu alis nya


" Dihh apaan sih, udah ahh.. ayo tidur lagi!".


"Ayo Mas, kita tidur lagi yukkk, aku udah ngantuk nihh". Ucap Lea


" Hufftt Ya udah, ya.. ya..". sahut Leon yang langsung berbaring lagi di sebelah kiri Lea dan membawa istri nya itu ke dalam pelukan nya.


Lea sendiri langsung mengeratkan pelukan dari suami nya itu seraya tersenyum saat membayangkan betapa aneh nya tingkah mereka berdua dulu, saat pertama kali bertemu dan ujung-ujung nya mereka menikah, dan akhir nya wanita itu langsung memejamkan mata nya untuk menjelajahi dunia mimpi


...****************...


Sedangkan di tempat lain Satria tengah tidur dengan nyenyak, namun saat kaki nya mengarah ke arah tempat tidur yang di isi oleh Putra, ia langsung terbangun saat merasa tempat tidur itu terasa kosong.


mata Satria mengerjap ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan Putra, malam ini Putra ingin sekali menginap di rumah Satria, karena lelaki itu masih merasa sangat sedih dan masih terbayang-bayang sosok mama nya yang berada di rumah nenek nya.


lelaki itu juga enggan untuk kembali ke rumah nya, karena ia sudah bertekad jika rumah itu akan ia Sumbangkan semua.


kini hanya tersisa uang tabungan nya saja dan Putra sendiri akan mencari kerjaan paruh waktu untuk menambah keuangan nya, Satria langsung mengusap-ngusap mata nya dan langsung bangkit dari tempat tidur untuk mendekat ke arah Putra yang berada di balkon.


Satria menepuk pundak Putra yang sedang melamun di atas balkon, Putra sendiri tidak terkejut sama sekali, karena Ia terus menatap lurus ke arah depan dengan Tatapan yang sangat sulit di artikan.


"Lo kenapa sih belum tidur? ini udah menjelang pagi loh, udah hampir jam 03.00 pagi. Kenapa Lo? ". tanya Satria


" Cihh.. ya Ini semua karena lo sih, lo berisik banget kalau tidur, ngorok Lo kayak sapi. nyesel deh gue nginep di sini". Omel Putra


"Ya udah Nginep di rumah tetangga aja sono Lo".


"ada anak gadis nya nggak di sana? ".


"ada tuh, gadis nya punya cucu 8". jawab Satria dengan santai


" Maksud lo gue cowok apaan Hah". Ucap Putra yang langsung menoyor kepala Satria


" gue cuma rindu sama almarhum mama gue". ujar Putra tersenyum dengan manis


Satria langsung menghela nafas nya dengan panjang dan mengusap punggung sahabat nya itu, sehingga membuat Putra menatap ke arah Satria dengan tatapan tajam, lalu putra menepis nya dengan kasar.


"please ya Satu bang*sat, Gue nggak selemah itu yang harus membutuhkan hal kayak gitu".


"ya sudah, Lo harus ikhlas ya". ujar Satria


"Oh... Lo ini sok belajar kuat dari siapa sih? penasaran deh gue? ".


" Belajar sama nenek moyang lo tuh". jawab Putra dengan ngasal


"Ck! sialan Lo".


"gue itu sebenar nya gk sekuat itu, gue tuh Manja kok, cuma karena keadaan yang ngajarin gue semua nya. jadi kalau lo mau belajar kayak gue, enggak bisa. karena lo enggak boleh ngalamin hal seperti gue". jelas Putra


" gue pastikan Gue tetap ada di Garda terdepan buat lo" ucap Satria tersenyum lalu menatap lurus ke arah depan


"Idihh Nggak minat gue di kasih dukungan sama Lo! ".


"sialan lo! ". ketus Satria


" Oh ya, gue mau tanya sama yang tadi lo sore bilang, kalau Lea sama Leon Udah nikah. apa itu benar? ". tanya Satria dengan serius karena ia baru saja teringat soal itu lagi


" Sejak kapan lo percaya sama kata-kata gue? ckckck yang nggak lah, itu kan gue cuma bercanda aja kali". jawab Putra berbohong


"Oh ya ya, Ya udah kalau gitu ayo tidur, Besok kita ke rumah Leon yuk soal nya kan besok hari Minggu". ucap Satria dan Putra pun langsung menganggukan kepala nya


Satria mendorong tubuh Putra untuk masuk ke dalam, namun ia langsung menepis nya.


"Awas lo ah ntar gue di kira homo lagi sama lo".


"Woi kalau emang gue suka sama cowok, Lo juga bukan tipe gue kali. dihhh najong banget!!". ketus Satria


"yakin lo? gue bukan tipe lo? secara Gue ganteng gini, ya nggak kalah sama Leon sih. gue sama dia sebelas dua belas lah kami berdua". Jawab Putra bersikap Sombong dan merasa percaya diri


" Idih halu lo!!". Ejek Satria yang langsung berlari masuk ke dalam kamar


"dasar sialan lo". ucap Putra yang langsung masuk melemparkan botol minuman ke arah Satria, namun berhasil di tangkap oleh lelaki itu dan ia langsung meminum nya.


Putra langsung terbaring di atas ranjang begitu, pula dengan satria.


saat satria sudah hampir tertidur pulas, Putra langsung menendang nya hingga terjatuh ke bawah


"Aaaakkhhhh Sialan!!, aduhh pinggang gue patah dah ini". Umpat Satria mengerang kesakitan


" Mending Lo tidur di kursi sofa dehh, soal nya gk muat ini kasur Lo! ". Ucap Putra dengan santai dan tak merasa bersalah sama sekali


"rumah-rumah gue, kamar juga kamar gue, kok gue Pula tidur di sofa, kalau bukan karena lo..".


"karena lo Apa? karena gue anak yatim piatu gitu?". jawab Putra memotong pembicaraan Satria


" Eh brengsek, Lo itu bukan anak yatim piatu ya, sialan!". sahut Satria yang langsung berjalan menuju ke arah sofa dan merebahkan tubuh nya yang terasa sakit


"kan sama aja, dahlah bodo amat". jawab Putra


kini mereka berdua Langsung tertidur walaupun masih terdengar ringisan dari Satria, karena pinggang nya yang masih terasa sakit.


Beberapa menit kemudian tidak lagi terdengar suara apapun, kecuali helaan nafas mereka berdua yang teratur, yang menandakan mereka sudah tertidur dengan pulas.