
Paginya ketika Zelia dan Andrew membuka mata. Keduanya saling memandang satu sama lain. Suara burung berkicau di luar rumah terdengar sangat nyaring.
Bahkan embun di kaca jendela kamar mereka masih terlihat sangat jelas. Andrew dan Zelia enggan beranjak dari ranjang mereka. Karena masih terlalu pagi untuk memulai aktifitas keduanya.
"Ndrew apa yang akan kamu lakukan pada Liera?" tanya Zelia mengingatkan masih adanya satu masalah di depan mata mereka.
Andrew tampak berfikir sambil memegang dagunya. Zelia menikmati wajah Andrew yang semakin tampan jika seperti itu.
"Aku belum menerima info tentang pria yang menghamilinya, jadi belum memikirkan hal itu," jawab Andrew berterus terang.
Hal yang paling penting adalah Zelia sudah memaafkannya dan mempercayainya lagi. Urusan Liera dia tak terlalu memikirkannya saat ini.
"Aku punya ide brilian tentang dia," ucap Zelia sambil tersenyum.
Andrew merasakan firasat buruk tentang senyum sang istri. Terakhir kali dia bergidik bila harus berurusan dengan ide dari Zelia.
"Apa itu?" ragu-ragu Andrew menanyakannya, tapi mulutnya langsung saja berbicara.
Zelia lalu membisikkan sesuatu ke telinga Andrew, membuat pria itu mendelik tak percaya.
"Kamu yakin?" tanya Andrew.
"Tentu saja, bagaimana bagus kan ideku?" tanya Zelia sambil tertawa puas.
Tapi di mata Andrew tawa istrinya barusan terlihat begitu menakutkan.
"Aku rasa tidak memprovokasi perempuan lebih memperpanjang umur hidup kita," batin Andrew sambil menelan salivanya.
Setelah membicarakan rencana, keduanya memulai aktifitas mereka. Zelia kembali ke kampus seperti biasa. dan Andrew ke perusahaan terlebih dahulu.
Andrew memilih kelas sore saat ini, karena pekerjaan di perusahaan menantinya terlebih dahulu.
Setelah mengantar Zelia, Andrew segera ke perusahaan. Ketika sampai pria itu melihat keributan di depan ruangannya.
Beberapa pegawai mengelilingi seseorang, dan sekertarisnya sedang menahan wanita di bantu oleh security di sana.
"Ada apa ini?" tanya Andrew tegas.
"Andrew," panggil wanita yang membuat keributan itu. Dia tak lain adalah Liera.
"Kenapa kamu membuat keributan sepagi ini?" tanya Andrew dingin.
"Aku hanya ingin bertemu kamu, tapi mereka menghalangiku Ndrew," jawab Liera.
"Aku yang meminta mereka melakukan itu jika kamu datang," ucap Andrew membuat Liera sedikit terkejut.
"Kalian kembali bekerja!" perintah Andrew pada karyawannya.
"Baik pak," perlahan kerumunan mulai bubar. Begitu pula sekertaris dan security di sana kembali ke tempat mereka.
Sesampainya di dalam Andrew duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Liera masih berdiri di depan meja Andrew.
"Apa yang kamu mau?" tanya Andrew pada intinya. Dia sudah muak dengan akting yang di lakukan oleh Liera.
"Ndrew aku hamil anakmu, aku gak mau uangmu, aku mau kamu bertanggung jawab,hiks hiks."
Liera di mata Andrew saat ini bagaikan aktris profesional yang memainkan akting dengan sempurna. Bahkan jika itu orang lain pasti akan percaya begitu saja. Tapi Andrew sudah tahu kebusukan wanita di depannya itu. Dia tidak akan mudah percaya begitu saja.
Namun demi rencananya dengan Zelia, Andrew harus tetap berpura-pura percaya pada wanita menjijikkan itu.
"Aku tak mungkin menikahimu, tapi kamu bisa melahirkan anak itu. Setelah itu aku akan memberikan rumah megah beserta isi serta uang tiga milyar untukmu, tapi kamu harus bersembunyi selama masa hamil ini."
"Aku gak mau, aku mau kamu menikahiku!" Liera tak terima dengan apa yang di ucapkan Andrew. Dia menangis tak mau berhenti. Andrew tahu itu juga bagian dari akting wanita itu.
Andrew masih terdiam memikirkan hal terbaik yang akan diputuskannya. Setelah berpikir cukup lama. Andrew menghela napas dalam.
"Baiklah, tapi hanya demi anak itu," ucap Andrew akhirnya.
Liera tersenyum puas, dia lalu menggapai lengan Andrew. Namun pria itu langsung menepisnya.
"Kamu hanya akan punya status, bukan memiliki tubuh atau hatiku," ucap Andrew dingin.
Liera tampak kecewa, tapi dia memendamnya.
"Tidak apa-apa asal aku bisa menikah denganmu,suatu saat hati dan tubuhmu akan menjadi milikku seutuhnya," batin Liera.
"Kalau sudah tak ada perlu lagi,silahkan keluar."
Mendengar itu Liera merasa keberadaannya benar-benar tak diinginkan. Dia lalu pergi meninggalkan Andrew begitu saja.
Andrew tersenyum puas bisa membuat Liera kesal pada dirinya. Ini adalah permulaan bagi wanita itu yang ingin main-main dengannya.
Lalu dia menghubungi seseorang dari ponsel pribadinya.
"Halo Han, bagaimana hasilnya?" tanya Andrew kepada orang di seberang telepon.
"Aku sudah mengikutinya beberapa hari ini tuan, ada satu pria yang tak mau berhenti menemuinya,saya akan mencari tahu lagi lebih detail tentang pria itu," jawab Han.
"Bagus, sebaiknya kamu lebih hati-hati agar dia tak curiga, dan secepatnya memberi kabar," pinta Andrew.
"Baik tuan," balas Han. Lalu telepon terputus.
Andrew tersenyum smirk mendengar berita barusan.
"Siapa suruh main-main denganku, maka aku akan meladenimu sampai akhir," batin Andrew.