Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Di kejar Musuh


"Ada yang bisa saya bantu pak?"tanya Alina yang kini sudah duduk di sebuah kursi persis di hadapan bosnya itu.


"Eumm.. begini Alina, ada yang ingin saya tanyakan sama kamu."sahut Devan yang memilih untuk menutup laptopnya yang kini berada di atas meja kerjanya.


"Menanyakan apa ya pak?"kembali Alina bertanya karena jujur saat ini Alina begitu penasaran dengan apa yang akan di tanyakan bosnya itu.


"Apa kamu mengenal Abian?"tanya Devan yang langsung pada inti.


Alina tidak langsung menjawab. "Umm.. maksud saya apa kamu kenal dengan pak Abian?"sambung Devan.


"Hah.. pak Abian ya?"jawab Alina yang terlihat sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan bosnya itu.


"Iya pak Abian."seru Devan yang terlihat tidak sabar dengan jawaban Alina.


"Saya-." lirih Alina yang mulai mengingat kembali saat di pesta semalam Abian tidak ingin masuk bersamanya ke acara pesta.


Yang membuat Alina berpikir jika sang suami tidak ingin orang lain tahu tentang status pernikahannya.


"Iya, saya mengenal pak Abian pak."jawab Alina sambil menunduk.


"Oh ya, sebaik apa kamu mengenal pak Abian?"lagi-lagi Devan melontarkan sebuah pertanyaan yang seharusnya sih nggak di tanyakan karena ini masalah pribadi Alina bukan masalah kantor.😥


"Kami cukup dekat sih pak."seru Alina dengan seutas senyum di bibirnya.


"Dekat seperti apa? teman, atau kekasih mungkin?"Devan terus menggali kebenaran dari Alina yang membuat Alina merasa tidak nyaman.


"Mungkin lebih tepatnya seperti seorang teman, iya begitu pak."sergah Alina masih dengan tersenyum manis.


Mendengar itu Devan hanya manggut-manggut. "Apa ada yang lain pak?"tanya Alina yang merasa sudah ingin cepat keluar dari ruangan bosnya itu.


"Tidak ada."jawab Devan singkat.


"Kalau begitu saya permisi pak!"pamit Alina yang beranjak dari duduknya.


Devan hanya mengangguk, detik kemudian Alina berjalan keluar dari ruangan Devan dengan mata Devan yang terus menatap punggung Alina hingga punggung itu menghilang di balik pintu.


Alina membuang nafas kasar saat sudah keluar dari ruangan bosnya itu.


Jam menunjukkan pukul 17:00, terlihat Alina sedang berjalan keluar dari perusahaan Yogaswara.


Seperti biasa mobil Ferrari merah milik Abian sudah nampak menunggu di luar gedung besar Yogaswara.


Tidak menunggu di perintah lagi, Alina langsung masuk sendiri ke dalam mobil milik suaminya itu.


"Hanya teman, tapi sampai di jemput seperti itu."gumam Devan yang tidak sengaja melihat Alina masuk ke dalam sebuah mobil yang Devan sendiri sudah tahu betul siapa pemilik mobil itu.


Di dalam mobil tidak ada pembicaraan antara Alina, dan Abian masih saja sebuah kecanggungan yang ada di antara mereka berdua.


Terlihat Abian fokus dengan setir mobilnya, sedangkan Alina dia melihat ke sisi kiri jalan untuk sekedar melihat kendaraan lain yang berlalu-lalang memenuhi jalanan sore itu.


Kening Abian berkerut saat melihat dari kaca spion mobilnya, jika ada sebuah mobil sport warna hitam yang Abian rasa terus mengikuti mobilnya dari tadi.


Abian mulai menginjak pedal gas untuk bisa menghindari mobil itu, yang membuat Alina sedikit terkejut dengan laju mobil yang kini kecepatannya di atas rata-rata.


"Ya ampun kamu apaan sih?aku nggak mau mati konyol ya!"gerutu Alina sambil tangan berpegangan erat pada hand grip.


Abian tidak menjawab ucapan sang istri dia malah semakin mempercepat laju mobilnya yang membuat Alina kesal sekaligus takut setengah mati.


"Arrggh!"teriak Alina yang membuat Abian seketika menginjak pedal rem yang membuat Alina sampai terpentok ke depan dashboard mobil.


"Apaan sih?"tanya Abian yang merasa tidak melakukan hal yang salah.


"Kamu bilang apa? apa kamu mau kita mati tabrakan? kamu saja sendiri, aku masih mau hidup."decak Alina kesal seraya keluar dari mobil suaminya itu.


"Ayo naik lagi!"pinta Abian yang kini sudah berada di depan Alina yang tengah ngambek.


Alina menggeleng cepat." Enggak."tolaknya.


"Saya bilang naik lagi!"kembali Abian memberikan perintah.


"Aku bilang nggak mau."jawab Alina yang kini malah berjalan meninggalkan suaminya itu.


Tanpa ba-bi-bu Abian langsung menggendong tubuh Alina untuk masuk ke dalam mobilnya.


Alina begitu terkesiap dengan apa yang di lakukan oleh suaminya itu, sehingga membuatnya hanya bisa diam seribu bahasa.


Abian mendudukan tubuh Alina ke jok mobil, detik kemudian tangan Abian memasangkan sabuk pengaman pada Alina yang membuat Alina menjadi deg-degan dengan sikap suaminya itu.


Saat Abian memasangkan sabuk pengaman pada Alina wajah mereka begitu dekat, sampai sempat mata mereka beradu pandang untuk beberapa detik.


Detik kemudian Abian langsung bergegas untuk kembali memasuki mobilnya, karena dia tahu jika mobil yang tadi mengikutinya pasti tidak akan lama lagi akan menyusul mobilnya.


Abian masuk ke dalam mobil, memutar kunci mobil, dan langsung melajukan kembali mobilnya.


Setelah beberapa menit, benar saja jika mobil yang tadi Abian berhasil hindari kini kembali mengikutinya dari belakang yang membuat Abian kembali kesal di buatnya.


"Sial!"umpat Abian dengan tangan memukul setir mobilnya.


Alina hanya kebingungan melihat sikap sang suami.


"Pegangan yang kuat!"intrupsi Abian sebelum akhirnya melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


"A-apa?"tanya Alina memastikan dengan tangan yang sudah kembali berpegangan pada hand grip.


Bisa saja Abian melawan preman yang berada di dalam mobil sport hitam yang sedang mengikutinya saat ini jika dia sendirian


Namun, karena ada Alina yang ikut bersamanya membuat Abian tidak bisa mengambil resiko itu.


Ya Abian tahu jika mobil yang sedang mengikutinya saat ini adalah beberapa preman suruhan dari pesaing bisnisnya, dan bagi Abian ini bukan hal yang baru yang dia hadapi.


Namun, entah kenapa kali ini Abian tidak ingin jika Alina sampai celaka sehingga Abian memilih untuk menghindari para preman itu.


Terlihat langit sudah mulai gelap, Abian masih mencoba menghindari mobil yang masih saja mengikutinya saat ini.


Melihat Abian yang terus melihat ke arah kaca spion mobil membuat Alina ikut-ikutan melihat kaca spion.


"Apa kita sedang menghindari mobil di belakang itu?"tanya Alina yang mulai penasaran.


"Hemm!"jawab Abian singkat dengan mata yang terus fokus menyetir.


"Kenapa kita harus menghindari mobil itu?"kembali Alina bertanya.


"Bisa diem nggak?"decak Abian yang membuat Alina terlihat kesal.


Abian terus melajukan mobilnya, dan tidak lama kemudian hujan turun dengan begitu lebat.


"Ini kita mau kemana sih sebenarnya?"tanya Alina yang mulai khawatir karena selain langit yang sudah gelap, jalan yang mereka lewati pun terlihat sepi di tambah lagi dengan hujan yang turun begitu deras membuat Alina benar-benar sangat ketakutan.


Abian menghentikan mobilnya. "Ayo turun!"ajak Abian.


"A-apa tapi?"ucap Alina yang terlihat sedikit keberatan.


"Ayo cepat turun, sebelum mereka kesini."ajak Abian yang membuat Alina mau tidak mau menuruti sang suami untuk turun dari mobil.


Abian, dan Alina berjalan memasuki sebuah hutan sambil hujan-hujanan.