
Usai sarapan Alea memutuskan untuk pergi ke sebuah perpustakaan kota tak jauh dari tempat tinggalnya.Kebetulan hari ini libur sekolah.
Alea memang suka membaca novel serta berbagai cerita lainnya di waktu luangnya. Bahkan karena hobinya itu dia di sebut kutu buku oleh kedua saudaranya. Di tambah lagi panggilan culun karena dia memakai kacamata minusnya melekat di gadis itu.
Alea tak mempermasalahkan sebutan apapun untuk dirinya dari kedua saudaranya itu. Dia tipe gadis yang masa bodoh dengan penampilan. Meski sebenarnya jika di lihat secara teliti Alea sangat cantik seperti mamanya, Zelia. Sayangnya gadis itu belum mengerti arti pentingnya penampilan.
Di saat dia asik membaca buku di perpustakaan itu. Alea merasa ada beberapa pasang mata yang mengawasinya.
Merasa tak nyaman Alea mencoba mencari tempat lain untuk membaca novelnya.
Lagi, meski sudah berpindah tempat Alea masih merasa risih karena beberapa gadis seusianya memperhatikannya.
"Apa yang salah sebenarnya, kenapa mereka tak berhenti memperhatikanku?" batin Alea bingung.
Rasa was-was pun hinggap di hati gadis itu. Alea memilih untuk segera pergi dari perpustakaan itu setelah mengembalikan novel yang sudah dia baca.
Alea berjalan cepat keluar dari perpustakaan, sesekali dia menengok ke arah belakang. Barangkali para wanita itu mengikutinya. Untung saja itu tak terjadi.
Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti saat di persimpangan jalan menuju ke rumahnya. Segerombol gadis tadi mencegatnya di sana.
Alea tak habis pikir bagaimana mereka bisa tiba-tiba sudah berdiri di sana. Dengan wajah serius kelima gadis itu mendekati Alea. Alea yang ketakutan perlahan melangkah mundur.
"Ka-kalian mau apa?" tanya Alea panik.
Kelima gadis itu membawa paper bag di kedua tangan mereka, yang entah berisi apa. Alea hanya memperhatikan sekilas. Mereka kini bahkan semakin mendekatinya.
"Kak Alea tolong kami!" ucap salah satu di antara mereka.
"Eh kok tiba-tiba berubah gini wajah mereka?" tanya Alea dalam hati melihat perubahan wajah pada kelimanya. Yang tadinya terlihat ingin menelan mentah-mentah Alea, sekarang mereka malah memohon kepadanya.
"Ad- ada apa ya?" tanya Alea gugup. Firasat buruk sepertinya akan menghampirinya.
Tiba-tiba kelimanya maju dan menyerahkan paperbag ke Alea. Sontak gadis itu bingung harus menerimanya di mana. Kedua tangannya penuh dengan beberapa paper bag, bahkan salah satu diantara mereka menaruhnya di leher Alea.
Penampilan gadis itu sudah tak lagi rapi seperti sebelumnya. Rambutnya tak karuan lagi.
"Ini apa ya maksudnya, buat siapa?" tanya Alea geram.
"Aku beli buat kak Arkan, tolong sampaikan ke dia ya kak, kalau aku cinta banget sama dia," ucap salah satu gadis itu malu-malu.
"Aku lebih cinta lagi kak, barangkali kak Arkan mau kencan sama aku,iiihh aku mau banget!" gadis yang lainnya juga ikutan berbicara, bahkan dia sambil memikirkan kencan dengan kakaknya.
"Ih jangan mimpi kamu, kakak Arkan itu buat aku!" gadis lain tak mau kalah. Akhirnya kelima gadis itu saling berebut. Dan naasnya Alea masih diantara mereka. Membuat dirinya terjebak dalam atraksi jambak menjambak di antara gadis-gadis itu.
"Diaaaaam!" ucap Alea geram. Bukan lagi rambutnya yang acak-acakan tapi baju bahkan kacamatanya sudah tak nyangkut di hidungnya.
Kelima gadis itu akhirnya diam, Alea lalu pergi meninggalkan mereka tanpa berkata apapun. Dengan kedua tangan masih memegang paperbag dan juga di lehernya.
Alea berjalan diantara komplek perumahannya dengan sempoyongan. Tak lagi dia perdulikan penampilannya dan tatapan beberapa orang yang melihatnya. Alea ingin sekali segera sampai di rumah.
Belum juga keinginannya tercapai,Alea harus berurusan dengan anak-anak bau kencur seusia adiknya. Alea sudah tahu apa yang akan terjadi.
"Kak Alea yang cantik, aku titip ini ya kak, buat pangeran Arya," ucap salah satu dari mereka sambil memberikan bungkusan entah berisi apa.
"Aku juga titip ya kak Alea," satu lagi memberikan hal yang sama pada Alea. Dan beberapa lagi dari gadis bau kencur itu untuk Arya.
Alea hanya bisa pasrah, kedua tangannya penuh dengan barang-barang pemberian dari para fans gila Arkan dan Arya.
Alea semakin geram dan segera mempercepat langkahnya agar dapat sampai di rumah.
Arkan dan Arya yang kebetulan sedang nonton televisi di ruang keluarga tak sadar bahwa Alea sudah pulang.
Gadis itu bahkan melempar semua bingkisan yang dia terima ke arah Arkan dan Arya. Membuat keduanya terkejut.
"Aduh kak, apaan sih ini?" tanya Arya.
"Iya dek apaan sih kok main lempar aja?" ucap Arkan.
"Masih tanya lagi ya, ini semua gara-gara kalian. Lihat nih aku harus berantakan kayak gini. Harus bawa barang segini banyaknya!" ucap Alea menggebu-gebu, dia sudah siap meledakkan amarahnya.
"Hah kok kita sih kak?" tanya Arya polos.
"Itu semua dari fans fanatik kalian, coba lihat kakakmu yang cantik ini," ucap Alea sambil memperlihatkan dandanannya yang sudah berantakan sekali.
Arkan menahan tawanya melihat adiknya yang kacau seperti itu.
"Jadi kalian kalau di luar gak boleh tebar pesona. Aku juga yang susah!" ancam Alea pada kedua saudaranya.
Keduanya hanya terdiam saat mendengarkan cuitan dari bibir Alea yang tak berhenti. Meski keduanya tak tebar pesona, namun pesona mereka memang sudah terlihat jelas dari dulu.