Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Aksi Afzriel Tan


Zulian tengah fokus di ruang kerja perusahaan yang tengah dia pegang saat ini, tak sedikit berkas-berkas yang memerlukan tanda tangannya.


Namun matanya kini fokus ke arah pintu di ruangan itu, yang mulai terbuka karena dorongan dari luar, tanpa ada yang mengetuk sebelumnya.


Sesosok wanita yang pernah ada dalam hatinya kini berjalan dengan angkuh menuju ke arah Zulian.


Merrie mengenakan pakaian super ketat yang mampu menunjukkan lekuk tubuhnya yang mempesona itu, tapi itu dahulu bagi Zulian, sekarang dia tak sedikitpun tertarik dengan wanita itu.


"Mengapa kamu kesini lagi?" tanya Zulian kesal.


Sebelum menjawabnya Merrie duduk di depan meja kerja Zulian, menatap pria itu intens.


"Aku berhak di sini karena perusahaan ini telah separuh sahamnya menjadi milikku," ucap Merrie membuat Zulian sedikit terkejut.


"Sejak kapan kamu memiliki saham di sini, tanpa persetujuanku dan papa semua tak bisa kamu tentukan sendiri," ucap Zulian membantah perkataan Merrie barusan.


Dari arah pintu Argeil datang menghampiri keduanya, tampak Zulian sudah mulai kesal melihat mereka berdua.


"Jelas saja dia berhak, jika tidak percaya, lihatlah ini!" ucap Argeil sambil melempar sebuah dokumen ke atas meja Zulian.


Zulian meraih dan membacanya, dia sangat kesal setelah mengetahui isi dari dokumen itu adalah separuh saham perusahaan itu akan menjadi milik Merrie jika Zulian telah menceraikannya, dan di situ juga terdapat tanda tangan Zulian.


Entah bagaimana mereka melakukannya tapi Zulian tak bisa tinggal diam begitu saja.


"Kalian sengaja menjebakku!" ucap Zulian penuh amarah sambil menggebrak meja,hanya ada tawa dari kedua orang di depannya itu, tawa kemenangan bagi mereka.


Plok plok plok


Tapi sebuah suara tepuk tangan seseorang menghentikan tawa mereka, lalu mereka menoleh ke arah sumber suara tersebut.


Afzriel Tan di ikuti Flo berjalan mendekat ke Zulian, dia tersenyum penuh arti kepada dua orang penghianat di depannya itu.


"Merrie Xie, Argeil Aksen kalian benar-benar luar biasa bisa memainkan rencana sebagus ini," ucap Afzriel Tan penuh dengan penekanan di setiap kata-katanya.


Keduanya masih diam tak merespon, Afzriel Tan menatap dokumen yang berada di tangan putranya dan memeriksa dengan teliti.


"Hahaha ini lucu sekali, sepintar-pintarnya kalian mencoba menipu putraku, tapi kalian lupa, siapa penguasa sebenarnya?" tanya Afzriel Tan setengah mengejek keduanya.


Merrie dan Argeil menggertakkan gigi mereka, kesal jika harus menghadapi pria tua di depannya itu.


"Sial, dia pasti akan membalikkan keadaan," batin Merrie mengenali bagaimana watak mantan mertuanya itu.


"Kalian bergerak lambat, asal kalian tahu semua aset dan juga saham perusahaan ini sudah ku alihkan kepada pemilik yang seharusnya, jadi tanda tangan Zulian itu tak berguna, apalagi tanda tangan palsu seperti itu," ucap Afzriel Tan.


"Kamu!" teriak Argeil kesal, dia ingin sekali memukul Afzriel tapi Flo dengan cepat menahannya, bahkan Argeil harus mendapati tubuhnya di kunci oleh Flo, pria itu tak bisa bergerak dengan kedua tangannya di tarik kebelakang oleh Flo.


"Jangan gegabah anak muda, kamu sepuluh tahun terlalu cepat untuk menghancurkanku," ucap Afzriel Tan.


Merrie ingin menyelamatkan Argeil tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


"Dan untuk kamu wanita yang tak tahu diri, coba lihat kejutan yang akan aku berikan kepadamu," Afzriel Tan mengisyaratkan sesuatu lewat siulan di mulutnya.


Seorang gadis cantik masuk ke dalam ruangan itu, dia adalah Liana.


Merrie membelalakkan matanya tak percaya siapa yang datang barusan.


"Kamu terkejut, kenapa? bukankah dia darah dagingmu?" tanya Afzriel Tan.


"Atau kamu sudah tak mengakuinya?" imbuhnya lagi.


Merrie hanya bisa terdiam mematung.


"Tujuan?"


"Kamu tidak salah menanyakannya, bukankah kamu sudah tahu siapa aku, seharusnya kamu tak berurusan denganku," ucap Afzriel lagi.


"Haruskah kamu ku seret ke jeruji besi, atau kamu pergi sejauhnya dari keluargaku?" tanya Afzriel Tan, lebih seperti sebuah ancaman bukan sebuah pertanyaan.


"Heh bukti apa yang bisa membuatmu menjebloskanku ke penjara?" Merrie tak gentar dengan ancaman Afzriel Tan, wanita itu yakin bahwa pria tua itu hanya mempermainkannya.


"Bukti? tak cukupkan sebuah kematian dari mantan suamimu yang terdahulu sebagai buktinya?" ucap Afzriel Tan.


Liana dan juga Zulian terkejut dengan apa yang mereka dengar, tapi Merrie dan Argeil jauh lebih terkejut hingga membuat keduanya gemetar ketakutan.


Afzriel Tan tersenyum puas bisa membuat keduanya tak berkutik, Flo lalu melepaskan cengkeramannya dari tubuh Argeil.


Merrie dan Argeil memutuskan untuk pergi dari ruangan itu tanpa mengucapkan kata-kata apapun.


"Pa apa maksudnya tentang kematian mantan suaminya?" tanya Zulian penasaran dengan apa yang di ketahui oleh papanya.


Sama seperti Zulian, Liana juga menanyakan hal itu dari raut wajahnya, dia menatap Afzriel Tan untuk mengatakan semua yang berhubungan dengan mamanya.


"Mereka berdua bersekongkol membunuh papamu Liana,dari hasil cctv kecelakaan itu bukanlah murni, melainkan rem mobil papamu telah mereka sabotase."


Penjelasan Afzriel Tan membuat Liana langsung membeku di tempat, dia kecewa sekaligus marah kepada mamanya,tapi rasa penasaran kenapa dia harus melakukan semua itu lebih besar lagi.


Liana akhirnya menangis, Afzriel Tan merasa bersalah telah memberi tahu Liana dan membuatnya bersedih.


"Jangan khawatir Liana, aku akan membantumu mencari keadilan bagi papamu,untuk sementara kamu bisa tinggal di apartemen milikku agar aku bisa menjamin keselamatanmu,"ucap Afzriel Tan.


"Terima kasih kek, tapi aku ingin tinggal di rumahku saja," ucap Liana menolak secara halus, dia merasa tak enak jika harus membebani orang lain karena dirinya.


"Baiklah jika itu mau kamu," ucap Afzriel Tan tak mau mengikat Liana, lalu Liana pamit pulang di antar oleh sopir pribadi Afzriel Tan.


"Flo perintahkan anak buahmu untuk menjaganya," perintah Afzriel Tan.


"Baik tuan," Flo keluar dari ruangan itu untuk menelepon seseorang.


Sedangkan Afzriel Tan masih bersama Zulian.


"Pa terima kasih telah membantuku," ucap Zulian.


"Aku tak ada niat membantumu, hanya saja kamu itu terlalu lemah," ejek Afzriel.


"Papa," ucap Zulian memelas, dia sudah mulai terbiasa akan ejekan papanya, Afzriel tak menanggapi Zulian, dia lalu keluar meninggalkan pria itu di ruang kerjanya.


Zulian kembali dengan berbagai dokumen di depan matanya, dia menghembuskan nafasnya dalam-dalam, mengumpulkan kembali semangat yang tadi sudah hilang karena ulah kedua penghianat itu.


Di tempat lain Merrie tak henti-hentinya mengumpat, dia begitu marah kepada Afzriel Tan.


"Sial kenapa selalu orang tua itu menggangguku!" umpatnya.


Argeil hanya tersenyum kecut melihat wanitanya sedang menumpahkan kemarahan.


"Kamu tenang dulu sayang, kita bisa melakukan hal lain untuk membalas mereka," ucap Argeil menenangkan Merrie.


Wanita itu tak menjawabnya,dia hanya diam sambil berfikir cara apa yang bisa dia gunakan untuk menghancurkan keluarga Tan.


Sekejap ide muncul di kepalanya, tapi itu merupakan hal baik untuk Merrie, meski akan menjadi buruk untuk keluarga Tan.