
Ray memasuki ruangan dekan. Di dalam ruangan terdapat satu set meja kerja dengan beberapa tempat duduk, juga terdapat kursi pertemuan serta beberapa lemari buku. Saat Ray memasuki ruangan dia bisa melihat seorang wanita dewasa berdiri di depan lemari buku sambil membaca sebuah buku, wanita ini tak lain adalah Sophia Leonhart yang merupakan Dekan Akademi Silver Moon. “Kau akhirnya mau datang ke akademi? Apa sudah puas bermain-main di luar?” Sophia menutup bukunya dan berbalik ke arah Ray.
“Ehem... Bibi Sophia lama tak bertemu.” Ray tersenyum canggung, orang yang di depannya adalah Dekan Akademi Silver Moon sekaligus sahabat baik Eva dan mendiang ibunya. Selain itu Sophia juga merupakan salah satu healer terbaik di Silver Moon Kingdom sama seperti ayahnya Kevin Leonhart.
“Yah, sudah lama. Terkahir kali kita bertemu saat kau bersembunyi setelah meledakan separuh lapangan latihan prajurit.” Sophia tersenyum yang terlihat seperti bukan senyuman.
“Ahaha... itu... sebuah kebetulan bibi... aku tak berpikir sihirnya akan meledakan separuh lapangan latihan itu... hehehe...” Ray tersenyum canggung sambil tertawa kecil saat mengingat hal yang dilakukan pemilik tubuh asli setengah tahun yang lalu. Walaupun Ray juga sering melakukan percobaan sihir pada prajurit atau tempat latihan mereka, tapi tak pernah sampai meledakan separuh tempat latihan mereka.
“Kau ini?! Kenapa tak bisa jadi lebih dewasa? Jika kau terus membuat masalah seperti ini, bahkan kakek mu akan kerepotan mencari alasan untuk melepaskan mu!” Sophia menjadi kesal karena sikap Ray yang terkesan santai.
“Hehehe... tidak seperti aku terus-terusan membuat masalah. Selain itu jika aku terlalu baik justru akan banyak orang yang ingin melenyapkan ku.” Ray masih tersenyum dan tertawa santai.
“Haah... aku juga mendengar tentang penyerangan yang terjadi padamu beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya aku berpikir ini ulah baj*ngan itu tapi sepertinya tak sesederhana itu.” Sophia hanya bisa menghela nafas saat mendengar jawaban Ray.
“Bibi tak perlu terlalu khawatir, sekarang kekuatan bawah tanah yang ku bentuk sedang dalam masa pengembangan yang tenang. Jadi sekarang aku ingin tetap merendah untuk sementara waktu.” Ray menjelaskan keadaannya dengan singkat.
“Bibi, tenanglah... Aku tak akan melakukan tindakan berbahaya apapun. Ini hanya sebuah organisasi pengumpulan informasi.” Ray mencoba menenangkan Sophia.
“Kau yakin? Sebelumnya ayah ku mengatakan kau juga ikut terlibat dalam insiden penyerangan Silver City?” Sophia masih menatap tajam pada Ray.
“Yah, hal itu adalah sesuatu yang tak bisa dihindari.” Ray tersenyum canggung saat mendengar Sophia membahas penyerangan Silver City.
“Kau ini... Jika sesuatu terjadi pada mu. Aku akan merasa bersalah pada ibu mu untuk seumur hidup ku. Bagaimanapun aku juga tak bisa melakukan sesuatu untuknya enam belas tahun yang lalu.” Sophia menghela nafas penuh kesedihan saat mengingat sahabatnya meninggal enam belas tahun yang lalu.
“Aku rasa, ibu tak akan menyalahkan mu tentang hal itu. Selain itu karena bantuan mu aku bisa terlahir dengan selamat, dan ku rasa ibu ku justru sangat berterimaksih pada mu.” Ray mengingat dalam memorinya Eva pernah menceritakan tentang kelahiran Ray premature dirinya. Saat itu orang yang membantu kelahirannya adalah Sophia, dan berkat bantuan tepat waktu Sophia pula Ray bisa diselamatkan walaupun nyawa ibunya, Tiffa tak bisa ikut terselamatkan.
“Siapa yang tahu?” Sophia Kembali menghela nafas pelan lalu menutup matanya dan termenung sesaat.