
Mendengar pertanyaan Estas, Ray termenung sebentar memikirkan rencananya. “Untuk sementara masalah kerajaan dan ancaman yang aku miliki sudah ditanggulangi. Selain itu aku perlu melatih Allen agar tak meledakan dirinya lagi, lalu berlatih alchemy. Dua hal ini bisa aku lakukan di waktu senggang.” Pikir Ray.
“Ah... aku sudah lama tak masuk akademi kan? Mungkin aku akan masuk ke akadami setelah mengajari Allen kontrol dasar mana.” Ray memutuskan untuk mengikuti akademi karena dia masih perlu menyelesaikan Misi Utama utuk mendapatkan pengakuan dari Silver Moon kingdom.
“Heh?!!!” Vali dan Estas benar-benar terkejut dengan jawaban Ray.
“Vali, kau kenapa?” Ray melirik Vali dan bertanya santai.
“Ray? Kau gak demam? Keracunan? Atau otak mu geser?” Vali bertanya dengan wajah serius menyelidik.
“Sialan kau Vali, apa salahnya datang ke akademi!!!” Bentak Ray marah.
“Hahaha... lagipula sejak Kakek mendaftarkan mu setahun yang lalu, kau tak tak pernah datang sama sekali.” Vali hanya tertawa menanggapi amarah Ray.
Setelah tawa Vali, Estas berniat mengatakan sesuatu namun didahului oleh Ray. “Itu karena aku baru menyadari sesuatu belum lama ini.” Celetuk Ray.
“Menyadari sesuatu?” Vali bingung dengan ucapan Ray.
“Bukankah Yuri, Elli, dan Olivia juga belajar di akademi?” Ray berkata dengan wajah serius.
“Hm... kau benar.” Jawab Vali.
“Kalau begitu bukankah...” Ucapan Ray berhenti sejenak.
“Bukankah?” Vali menimpali Ray.
“Disana banyak gadis-gadis cantik.” Ray masih memiliki wajah serius.
“Gadis? Cantik?” Vali secara tak sadar menimpali.
“kltak...” suara jitakan yang lebih keras dari sebelumnya terdengar. Kali ini Estas tanpa ampun menjitak kepala Ray.
“Aduuuhh... sakit pak tu...” Ray berhenti saat melihat wajah menyeramkan Estas.
“Hah... kurang sakit?” Estas menatap Ray dengan ganas sambil melemaskan tangannya seolah bersiap menghajr Ray habis-habisan.
“Ehem... Saudara Estas tak perlu marah-marah begitu. Biarkan saja dia lagipula bukankah lebih baik kalau dia sudah mulai berangkat ke akademi?” Kevin yang dijadikan tameng hanya bisa menenangkan Estas agar masalah kecil ini tak diperpanjang.
“Hais... biarlah lagipula dari dulu bocah ini memang seperti itu.” Estas menenangkan kemarahannya.
“Hm... Karena masalah disini sudah selesai, aku pamit dulu karena ada urusan lain.” Kevin pamit kepada Oliver dan Lilliana.
“Terimakasih bantuannya Tuan Kevin. Miria tolong antarkan Tuan Kevin.” Oliver berterimkasih kembali pada Kevin dan meminta Miria untuk mengantarkannya.
“Tuan Kevin, silahkan.” Miria mengantar Kevin keluar dari kediaman Keluarga Schtrom.
“Karena keadaan Allen sudah membaik, aku akan membawa Tuan Phytagoras ke Akademi Silver Moon untuk menemui Dekan Sophia sesuai dengan perintah Yang Mulia.” Estas menyampaikan tujuan kedatangannya.
“Kalau begitu aku juga akan pamit terlebih dahulu. Tuan Estas bisa tolong tunjukan jalannya.” Phytagoras pamit kepada Oliver dan Schtrom sebelum mengikuti Estas keluar dari kediaman keluarga Schtrom.
“Fuuuh... akhirnya pak tua itu pergi.” Ray menghela nafas lega.
“Kau masih saja tak bisa akur dengan Kakek Estas. Dan seperti biasanya hanya kau yang berani memanggilnya seperti itu. Vali tertawa kecil melihat kelakuan Ray.
“Siapa yang membuatnya jadi pria tua pemarah. Selain itu jitakannya benar-benar sakit.” Ray kembali memegang kepalanya yang masih sedikit sakit.
“Hahaha...” Vali masih tertawa saat Ray kesakitan. “Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang Ray?” Lanjut Vali setelah puas tertawa.
“Ah, soal itu. Bocah bom kemari.” Ray menunjuk Allen dan memintanya mendekat.
“Aku?” Allen merasa Ray memanggilnya.
“Siapa lagi kalau bukan kau? Untuk sekarang kau tak jauh berbeda dari bom waktu.” Ray menanggapi Allen dengan santai.
Allen mendekati Ray. “Ada apa Kak Ray?”
“Aku akan mengajari mu mengontrol mana. Sebelumnya saat aku membantu mu untuk menyerap khasiat Recovery Potion, disaat yang sama aku juga memperbaiki aliran mana milik mu. Seharusnya kau bisa merasakan ada sesuatu yang ikut mengalir di pembuluh darah mu dan terasa sedikit panas bukan?” Ray menjelaskan pada Allen.
“Iya, benar.” Jawab Allen