Sistem Dewa

Sistem Dewa
Ch. 154 - Gelombang Binatang Iblis II


Di sisi lain pertempuran antara Vali dan Little Black melawan dua ekor Flame Phyton, James dan timnya sedang mengahadapi Bull King yang sedang mengamuk.


Bull King sendiri merupakan Binatang Iblis berbentuk kerbau raksasa setinggi lebih dari 2 meter dengan tanduk panjang yang lebih keras dari besi. Dibandingkan dengan Flame Phyton kemampuan menyerang Bull King sangat kurang tapi kelebihan utama dari Bull King adalah pertahanannya yang kuat, mengingat Bull King sendiri memiliki kedekatan dengan elemen tanah.


James, Ken, Zack, dan Andy mengepung Bull King dari empat arah. James menyerang dengan menggunakan pedang, gerakannya cepat dan tanpa henti. James yang berada di depan Bull King terus menyerangnya dengan cepat dan seolah tanpa jeda untuk emnarik perhatian Bull King ke arahnya.


Ken dan Zack menyerang dari kedua sisi kanan dan kiri Bull King secara bergantian. Ken mengandalkan gerakannya yang lincah mengincar persendian kaki Bull King untuk melemahkannya dan Zack menyerang dengan kekuatan besarnya membuat Bull King kesulitan untuk membalas.


Andy sendiri menyerang dari belakang Bull King untuk memberikan beberapa luka sambil menggunakan sihir elemen airnya untuk membuat tanah dibawah kaki Bull King menjadi lembek dan belumpur agar melemahkan pijakan Bull King dan membuatnya kesulitan untuk menjaga posisinya tetap stabil.


Sedangkan Carrol seperti biasa menyerang titik lemah dan vital Bull King dengan kemampuannya sebagai seorang pengintai dan pembunuh. Carrol berhasil memberikan luka di perut Bull King dan memotong ekornya sebelum akhirnya menghabisi Bull King dengan tebasan di tenggorokannya.


Terakhir adalah pertarungan satu lawan satu antara Ralf melawan Silverback Gorila, pertarungan berlangsung lebih seimbang di sisi ini. Ralf menggunakan serangan pedang yang sudah dilapisi elemen angin olehnya dan menyerang Silverback Gorila.


Ralf menyerang titik lemah Silverback Gorila yaitu bagian sendi dan lehernya mengingat bagian tubuhnya memiliki sisik dan kulit yang tebal juga keras. Serangan Ralf beberapa kali berhasil ditahan Silverback Gorila sebelum sebuah serangan berhasil melesat ke arah lehernya untuk mengakhiri kehidupannya.


Dalam pertarungan Ralf benar-benar terlihat nyaman saat melawan Binatang Iblis karena dia sudah memiliki pengalaman yang jauh lebih kaya dibandingkan dengan yang lainnya. Gerakan Ralf saat bertarung terlihat sederhana tapi sangat efektif untuk menjatuhkan Silverback Gorila dalam waktu yang cukup singkat.


Ralf menyarungkan pedang Panjang miliknya dan berteriak. “Gelombang Binatang Iblis sudah diatasi! Setiap prajurit yang tidak terluka pergi membantu di tenda medis dan membawa yang terluka ke tenda medis segera!”


“Dan kalian semua bisa kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat...” Ralf mengalihkan pandangannya pada Vali dan yang lainnya.


“Terimakasih, Saudara Ralf.” Vali menjawab dengan sedikit senyum lalu membawa Little Green yang sudah kembali berubah menjadi ornament ikat pinggang.


* * * * *


Ralf melihat sekeliling tempatnya berdiri dan merasa tenang setelah bahaya gelombang Binatang Iblis mereda. Ralf paham perbedaan antara bertempur melawan negara lain dengan bertempur melawan Binatang Iblis, jika dia kalah melawan negara lain mungkin wilayah mereka akan diambil alih dan selama mereka tidak kalah dari Ras Iblis biasanya wilayah tersebut hanya akan mendapatkan lebih banyak pajak dan warganya masih bisa bertahan hidup.


Namun berbeda jika mereka kalah melawan gelombang Bintang Iblis, warga dalam wilayah mereka tak akan lebih dari sebuah cadangan makanan untuk para Binatang Iblis atau bahkan mungkin akan hancur dalam semalam tanpa ada yang selamat seperti desa tempat Ralf tinggal sebelumnya.


“Ini benar-benar sebuah keberuntungan kali ini, gelombang Binatang Iblis sebanyak lebih dari seratus Binatang Iblis yang dipimpin empat ekor Binatang Iblis Tingkat Raja dan kami berhasil melewatinya tanpa korban jiwa...” Ralf sekali lagi melihat medan pertempuran mereka sebelum berbalik dan kembali ke dalam Pos Perbatasan.


 


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Terimakasih sudah mengikuti karya saya... Jangan lupa tinggalkan like dan komentar yang bisa membangun kemampuan menulis saya...


See you next chapter and have fun...