
Pertandingan antara Tim 2 dan Tim 6 berlangsung dengan sengit. Dalam segi ketrampilan bermain pedang Tim 2 terlihat lebih unggul dari Tim 6.
Anggota dari Tim 2 berhasil memojokan setiap anggota Tim 6 dengan serangan yang tajam dan terukur. Selain itu, Tim 2 tidak mengulangi kesalahan yang sama saat mereka melawan Tim 3 sebelumnya.
Kali ini Tim 2 tidak hanya menyerang secara membabi buta tapi juga memisahkan anggota Tim 6 satu sama lain, sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk melakukan serangan kolaborasi dan membuat satu-satunya strategi yang ada adalah pertarungan individu dimana Tim 2 memiliki keunggulan.
Akhirnya pertandingan berakhir setelah Tim 2 berhasil menjatuhkan semua anggota Tim 6 setelah bertarung selama lebih dari setengah jam. Kemudian pertandingan dilanjutkan dengan pertandingan semi final antara Tim 12 melawan Tim 14.
Tim 12 memulai serangan terlebih dahulu sesaat setelah pertandingan dimulai. Mereka menyerang Tim 14 secara berkelompok dan memusatkan pertandingan di tengah panggung evaluasi.
Tim 12 melakukan serangan terkoordinasi dan saling membantu saat ada anggota tim mereka yang kewalahan. Serangan terkoordinasi Tim 12 membuat Tim 14 menjadi kurang diuntungkan dengan berjalannya waktu.
Di saat Tim 14 hampir terpojok, salah satu anggotanya berhasil menumbangkan lawannya. Tidak hanya itu, anggota yang sama juga mulai menyerang dengan cepat dan tajam membuat Tim 12 mulai kewalahan.
Gerakan prajurit itu mulai terlihat menonjol diantara lawannya dan juga anggota timnya sendiri. Bahkan, Ray sempat terkejut saat melihat perubahan situasi yang dibuat oleh satu orang ini sebelum akhirnya dia tertawa. “Hahaha... Pria sialan ini... Dia punya bakat yang baik... Dia benar-benar menyembunyikan kemampuannya dengan baik, aku bahkan tak tahu kalau kemampuan berpedang miliknya sudah sejauh ini...”
Ralf yang mendengar ucapan Ray juga ikut terkejut, dia sendiri memahami seberapa mengerikannya kemampuan Ray untuk menentukan kekuatan dan bakat orang lain. Bahkan saat pertama kali sampai di Pos Perbatasan, Ralf sempat meminta Ray untuk menilai para prajuritnya dan hanya tiga orang pemimpin resimen pasukan 100 orang yang diberi label sangat layak oleh Ray.
“Jenderal Ralf, bisakah kau memberikan ku data diri orang itu?” Ray meminta data pribadi prajurit yang dia maksud.
“Kenapa kau ingin data miliknya?” Ralf bingung dengan pertanyaan Ray.
“Aku hanya ingin memeriksa saja, bukannya kau selalu meminta asisten mu membawa data diri setiap prajurit dalam spatial ring miliknya bukan?” Jawab Ray santai.
“Iya, aku memang selalu meminta asisten ku membawanya. Tapi sekarang kebetulan aku sedang membawa semua data diri prajurit baru. Dan juga bagaimana bisa kau tak ingat nama prajurit yang kau latih?” Ralf berbalik bertanya pada Ray mengapa dia tidak mengingat nama orang yang dia latih.
“Awalnya aku berpikir mereka hanya orang dengan kemampuan rata-rata, melatihnya lebih lama dari seminggu hanya membuang-buang waktu ku. Tapi prajurit satu ini bisa menyembunyikan kemampuannya dengan baik dan juga menilai standar bawah yang ku berikan dan berhenti tepat saat dirinya menyentuh standar bawah milik ku.” Ray menjelaskan alasan dia ingin mengetahui tentang prajurit itu.
“Bukannya hal ini sudah cukup membuatnya layak untuk menerima pelatihan lebih lanjut.” Lanjut Ray dengan santainya.
“Baiklah, kau bisa mengambil ini.” Ralf menyerahkan sebuah dokumen. “Ini adalah data diri orang yang kau maksud.” Lanjut Ralf setelah memberikan dokumen pada Ray.
Ray menerima dokumen kemudian membcanya dengan seksama. Sementara itu pertandingan antara Tim 12 melawan Tim 14 selesai setelah sepuluh menit berlalu dari percakapan Ray dan Ralf.