Sistem Dewa

Sistem Dewa
Ch. 168 - Akhir Pertarungan II


“Sepertinya jarak kita semakin jauh saja, hah...” Vali menghela nafas pelan saat mengetahui kekuatan Ray jauh dari yang dia bayangkan.


“Kau tak perlu mengejar ku seperti ini, setiap orang di dunia ini memiliki hal yang perlu mereka lakukan. Tidak ada yang buruk atau baik, tidak ada yang istimewa, setiap orang punya bagiannya sendiri dalam perkembangan dunia ini.” Ray menasehati Vali agar membuka pikirannya lebih luas.


“Apa maksud mu Ray?” Vali bingung dengan apa yang dikatakan Ray.


“Misalkan saja, petani menanam gandum dan bahan makanan lainnya yang kemudian di sebarkan oleh pedagang ke setiap penjuru dan sebagian dari itu menjadi pajak untuk menjalankan kerajaan, sebagai imbalannya kerajaan menjalankan sistem yang melindungi kehidupan mereka.” Ray menjabarkan cara kerja dunia dalam sudut pandangnya.


“Jadi menurut mu setiap orang punya jalan dan takdirnya sendiri untuk jalannya dunia ini? Setiap hal ada maknanya tak peduli kau lemah atau kuat?” Vali menyimpulkan sesuatu dari ucapan Ray.


“Benar, setiap orang memiliki kontribusinya sendiri dalam sistem dunia ini berjalan. Mereka punya andil untuk menjalankan keteraturan dan peningkatan kehidupan kita sebagai makhluk yang beradab. Dan jika kehidupan manusia hanya berarti kuat dan lemah, apa bedanya kita dengan Binatang Iblis?” Ray kembali menjelaskan pada Vali dan mengingatkan tentang perbedaan manusia dan bianatang.


“Aku mengerti maksud mu, maaf sudah membuat mu khawatir untuk hal yang bodoh selama ini.” Vali yang memahami maksud Ray langsung merasa bersalah, meski tidak menunjukannya dia selalu merasa rendah diri saat mengahadapi Ray yang terkenal jenius. Apalagi setelah Ray meningkat dengan pesat dalam kurun waktu setahun ini.


“Aku tahu apa yang kau pikirkan, kau mungkin takut ditinggalkan karena lemah atau semacamnya bukan? Kalau begitu biar ku katakan sesuatu pada mu, Vali. Kau orang yang kuat, setidaknya sudah menjadi salah satu yang terkuat di usia mu, jadi berhenti membanding-bandingkan diri mu dengan ku atau orang lain.” Ray mendekati dan menepuk pundak Vali.


“Aku paham, terima kasih Ray.” Vali akhirnya bisa menerima penjelasan Ray dan mulai berpikir untuk melakukan apa yang bisa dia lakukan dan berhenti membandingkan dirinya dengan orang lain.


“Aku tahu, kau bisa memahaminya dengan baik. Sekarang lebih baik kita bersiap untuk kembali ke wilayah luar dan bergabung dengan kelompok lainnya.” Ray langsung memberi arahan pada kelompoknya untuk kembali ke wilayah luar.


Akhirnya, Ray dan kelompoknya kembali ke wilayah luar untuk bertemu kelompok lainnya dan menghabiskan sisa waktu pelatihan pertempuran di wilayah luar untuk menghindari masalah yang mungkin terjadi seperti gelombang Binatang Iblis sebelumnya.


“Mm... Tuan Ray, sebenarnya kau berada di tingkat berapa sekarang?” Alice memberanikan diri untuk bertanya pada Ray.


“Lebih baik menunjukannya daripada menjawab secara lisan.” Ray mengeluarkan bola kristal untuk mengukur kekuatannya, setelah mengalirkan mana bola kristal bersinar merah dan memunculkan angka 317.


“Tingkat Kaisar Awal?! Bagaimana bisa kau mencapainya dengan usia yang begitu muda?!” Natasha yang menguping pembicaraan Ray terkejut saat melihat hasil pengukuran kekuatan Ray.


“Nona Natasha, apa yang kau ributkan? Ini hanya Tingkat Kaisar Awal, bukankah di kerajaan mu juga ada 2 orang di Tingkat Kaisar?” Ray menjawab acuh tak acuh sambil tertawa santai.


Sementara itu semua orang yang mendengar perkataan Ray langsung mengumpat dalam hati mereka. ‘Monster sialan! Kau pikir setiap orang bisa menjadi makhluk aneh seperti mu!’


“Hachi... Entah mengapa aku merasa kalian sedang memikirkan hal yang tidak sopan tentang ku.” Ray bersin sebelum menatap semua orang seolah menemukan mereka membicarakannya di belakang punggungnya.


Setiap orang dalam kelompok selain Ray langsung terbatuk-batuk karena tersedak nafasnya sendiri sebelum tertawa canggung seolah mereka tertangkap basah melakukan kesalahan.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Dan ini adalah chapter baru untuk hari ini...


Terimakasih sudah mengikuti karya saya... Jangan lupa tinggalkan like dan komentar yang bisa membangun kemampuan menulis saya...


See you next chapter and have fun...