Sistem Dewa

Sistem Dewa
Ch. 203 - Ketegasan


Sesuai dengan arahan Ray, akhirnya Broken Realm Pill berhasil dikirim ke istana dengan lancar tanpa meninggalkan keraguan apa pun. Setelah Rain dan Vali mengirim pil tersebut lewat Anna.


Bagaimana pun, baik Rain dan Vali adalah anggota keluarga permaisuri Silver Moon Kingdom. Jadi adalah hal yang wajar jika mereka mengunjungi Anna setelah kejadian yang berbahaya sebelumnya.


Ditambah dengan "menghilangnya" Ray sejak insiden di Hutan Kematian, membuat pihak bangsawan masih dengan penuh percaya diri untuk melaksanakan rencana mereka.


Ray juga bekerja sama dengan sangat baik untuk menciptakan kesan bahwa pihak kerajaan jauh lebih lemah dari pada pihak bangsawan yang memberontak.


Karena Ray tahu bahwa pihak bangsawan bukan orang bodoh, jadi dia mengatur agar pihak kerajaan menunjukan kewaspadaan yang tinggi, sambil menjaga kerahasian peningkatan kekuatan mereka.


Ray juga menghubungi beberapa bangsawan lain yang tidak terlibat dalam pertikaian ini. Dia berharap agar mereka bisa membantu mengamankan warga sipil agar tidak terlibat dalam masalah ini.


Tentu saja pergerakan mereka juga terlihat oleh pihak bangsawan dan pihak kerajaan, tetapi hal ini hanya menunjukan posisi mereka sebagai pihak netral yang tidak ingin terlibat dalam masalah ini, dan hanya berharap untuk melindungi nyawa warga sipil yang tidak bersalah.


Akhirnya tiga pihak dalam posisi yang berbeda mulai mengatur hal-hal mereka sendiri. Hal yang membuat Ray cukup bersyukur adalah pihak bangsawan tidak mengahalangi pihak netral untuk melindungi warga sipil.


"Sepertinya daripada perebutan kekuasaan, apa yang menyebabkan kudeta ini adalah rasa sakit masa lalu dan keinginan untuk balas dendam. Jika tidak mereka akan menggunakan warga sipil sebagai sandra alih-alih membiarkan pihak netral mengamankan mereka." Ray menghela nafas lega saat melihat perkembangan ibu kota, Silver City.


"Tapi masih ada beberapa hal yang membuat peristiwa ini janggal, bahkan harus dikatakan bahwa tragedi Keluarga Baines lebih dari 30 tahun yang lalu juga sangat janggal." Ray berpikir perlahan.


Mimpi Ray adalah hidup bahagia dengan damai bersama orang yang peduli padanya. Hal ini juga yang membuatnya tidak peduli dengan status dan kekayaan, baginya dua hal ini tidak lebih dari angka dan kata-kata.


Tapi untuk hidup bahagia dan damai, diperlukan dunia yang damai juga, tanpa perselisihan dan tipu daya yang hampir mustahil tercipta. Jadi di dunia ini dimana kekuatan yang utama, secercah harapan muncul di hati Ray, selama dia lebih kuat dari orang lain, maka kehidupan impiannya akan terwujud.


"Di hidup yang sebelumnya orang-orang tua itu berkata hidup adalah pilihan, jika kalian memilih jalan yang salah maka masa depan kalian akan bermasalah." Gumam Ray.


"Tapi apakah kata 'bijak' itu benar? Jika hidup adalah pilihan mengapa kita tidak bisa memilih dari siapa kita dilahirkan? Kenapa kita tidak bisa memilih seberapa baik keluarga kita? Mengapa kita tidak bisa memilih lingkungan kita dibesarkan?" Gumam Ray.


"Karena pada dasarnya hidup itu adalah pilihan setelah kamu punya cukup kemampuan untuk memilih, sama seperti seorang jenius penemu yang menjadi peniliti kelas dunia, dan juga sama dengan jenius atletik yang menjadi atlet terbaik di dunia." Ray bergumam.


"Dunia ini tak pernah adil pada kita, jadi hanya dengan kemampuan kita bisa meraih keadilan yang kita inginkan." Kata Ray saat wajahnya berubah tegas.


"Sama seperti di kehidupan sebelumnya aku merubah nasib ku, di hidup ini aku akan merubah nasib semua orang yang peduli pada ku." Setelah menegaskan niatnya, Ray keluar dari ruangan sambil mengatur bidak-bidak selanjutnya.


Dalam 'game besar' ini, dia tidak memiliki kesempatan kedua untuk kekalahannya.