
Ray yang mencium bau tak sedap langsung menatap Zeoticus yang sangat ketakutan sampai terkencing di celananya. Melihat hal ini Ray langsung menjauh dan berdecak menghina Zeoticus. “Apakah seorang penyihir Kelas Mage hanya seperti ini? Bagaimana kau bisa mencapai hal itu jika sedikit niat membunuh dari bocah lima belas tahun bisa menakuti mu seperti ini? Apa kau mendapatkannya lewat jalur belakang?”
Zeoticus masih ketakutan dengan niat membunuh Ray yang belum menghilang, bahkan dia sama sekali tidak bisa menggerakan bibirnya, apalagi menjawab pertanyaan Ray. Bagi Zeoticus sekarang adalah pertama kalinya dia merasa kalau dia akan mati jika dia melakukan sesuatu yang salah. Karena merasakan kematian yang begitu dekat dengan dririnya membuat Zeoticus tidak bisa bergerak dan bicara.
Ray yang melihatnya ketakutan hanya mendengus dan menarik kembali aura kekuatan dan niat membunuhnya. Lagi pula meski tidak menjadi target langsung penekanan aura dan niat membunuh Ray hampir semua siswa sudah berada dibatasan mereka dan hampir tidak sanggup untuk berdiri lagi.
Setelah Ray menarik aura dan niat membunuh miliknya hampir semua orang basah dengan keringat mereka dan juga sebagian dari mereka terjatuh karena sudah tak memiliki tenaga untuk berdiri lagi.
Hampir semua siswa dan guru di sini tidak pernah mengalami niat membuuh yang begitu besar, sebagian besar dari mereka adalah seorang bangsawan atau tuan muda dari keluarga bangsawan yang tidak pernah turun ke medan perang sekali pun.
Ray memandang semua siswa dan guru dari Silver Moon Kingdom yang baru sampai di Pos Perbatasan. Ray bisa melihat hampir semua orang terkejut dengan perkembangan yang terjadi, mereka sama sekali tak menyangka semuanya akan berkembang seperti ini.
“Biar aku katakana satu hal, aku tak peduli siapa kalian dan darimana kalian berasal. Aku tak peduli kalian putra seorang Duke atau bahkan raja sekali pun, di tempat ini jika kalian ingin mendapatkan rasa hormat maka kalian perlu menghormati orang lain dan dalam Pos Perbatasan ini hanya mereka yang mampu yang mendapatkan rasa hormat.” Ucap Ray dengan tenang.
“Dan juga sebagai nasehat dan peringatan dari ku untuk kalian semua. Mungkin kalian adalah orang yang biasa disebut ‘jenius’ atau semacamnya, tapi di tempat ini kalian hanyalah seorang pemula yang bahkan tak pernah menghadapi pertempuran yang sesungguhnya.” Lanjut Ray masih dengan nada tenang.
“Yah, mungkin kalian yang berasal dari kaum bangsawan terumata yang berasal dari keluarga militer pernah mendapatkan pelatihan pertempuran melawan para prajurit veteran atau semacamnya. Tapi itu tidak mengubah fakta kalau kalian tak pernah merasakan perasaan berada di ujung kematian itu sendiri, karena itu sebaiknya kalian mengikuti pengaturan yang ku buat atau aku tak bisa menjamin kalian pulang tanpa kehilangan sesuatu di tempat ini.” Ray mengakhiri pidato miliknya.
“Ah, Tuan Ray bolehkah aku menanyakan sesuatu?” Ryan yang sudah pulih dari tekanan Ray angkat bicara.
“Tentu boleh, apa yang ingin Tuan Ryan tanyakan?” Ray kembali ke sikap sopannya.
“Bagiamana anda bisa mengeluarkan dan mengarahkan tekanan seperti itu? Sejauh yang ku tahu mengarahkan aura dan niat membunuh jauh lebih sulit daripada mengeluarkannya.” Ryan mengajukan pertanyaan tentang hal yang membuatnya takjub.
Sebagai seorang yang berasa dari keluarga militer, Ryan Evans mengetahui kalau seseorang yang sudah melewati banyak pertumpahan darah bisa mengeluarkan aura yang menekan lawannya tapi dalam informasi yang tercatat dalam catatan keluarganya juga tertulis tentang kemampuan mengarahkan aura tersebut untuk menekan seseorang, meskipun catatan itu tidak lengkap.
“Yah, bagaimana aku akan menjelaskan hal ini?” Ray mencoba mencari cara menjelaskan tentang kemampuannya pada Ryan. “Jujur saja, aku tak terlalu baik dalam mengarahkan aura dan niat membunuh milik ku karena aku hanya bisa mengarahkannya pada seseorang yang membuat ku marah atau seseorang yang memiliki niat buruk pada ku.” Lajut Ray.
“Yah, kurang lebih seperti itu. Aura seseorang akan meningkat sesuai dengan pertempuran yang mereka jalani dan niat membunuh seseorang juga akan meningkat sesuai dengan banyaknya makhluk hidup yang kehilangan nyawanya di tangan mereka. Tapi untuk mengontrol dan mengarahkan dua hal ini memerlukan keinginan dan kebiasaan.” Ray mencoba menjelaskan apa yang dia tahu.
“Aku tahu tentang peningkatan aura dan niat membunuh, tapi apa yang kau maksud dengan keinginan dan kebiasaan?” Ryan merasa jawaban Ray sedikit abstrak dan membuatnya bingung.
“Pertama ada keinginan yang ku maskudkan sebagai, seberapa jauh kau ingin mengendalikan aura dan niat membunuh milik mu. Lalu ada kebiasaan yang merupakan seberapa sering kau mengontrol aura dan niat membunuh milik mu dan juga seberapa sering mereka lepas kendali di saat tertentu.” Ray mencoba menjelaskan kembali.
“Jadi begitu, sepertinya aku mulai mengerti konsep yang kau maksudkan... Terimakasih Tuan Ray, karena sudah mau menjelaskan hal ini.” Ryan berterimaksih setelah memahami cara mengontrol aura dan niat membunuh dari Ray.
“Tak perlu sungkan... Tapi bukannya Kapten Penjaga Steve Evans juga bisa melakukan hal ini?” Ray merasa Ryan ini masih merupakan kerabat dari Steve Evans karena memiliki nama keluarga yang sama.
“Yah, aku merasa tak enak memintanya untuk sesuatu padanya setelah semua kelakuan buruk kakak laki-laki ku.” Ryan menggaruk bagian belakang kepalanya dan menjawab dengan canggung.
“Baiklah, kau bisa mulai mengatur para murid sesuai dengan rencana yang sudah dibuat.” Ray mengubah topik untuk menghilangkan kecanggungan.
“Iya, aku akan mengaturnnya.” Ryan melangkah pergi mulai mengatur para siswa sesuai dengan yang direncanakan.
Ray melihat dua orang siswa yang mengikuti Ryan sebelumnya. Ray yang mengenali mereka berdua tersenyum dan mendekati mereka. “Will, Vali, kenapa kalian diam saja? Jangan bilang kalian ketakutan karena tekanan ku sebelumnya?” Ray tertawa kecil menggoda William dan Vali.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Terimakasih sudah mengikuti karya saya sejauh ini, jangan lupa tinggalkan like dan komentar yang membangun untuk saya.
See you next chapter and have fun...