
“Mana Core beratribut Ledakan adalah Mana Core yang paling langka, serta sebagian besar yang memilikinya akan menjadi inti kekuatan berbagai organisasi. Sebagai contoh Grand Mage Eden dari Gizakia Kingdom yang merupakan pemimpin Kuil Penyihir, dan Aristoteles dari Eternal Tower yang merupakan penyihir terkuat di dunia. Namun, disaat yang sama juga merupakan Mana Core yang paling tidak stabil...” Phytagoras berhenti sejenak sambil menatap Allen.
“Tidak stabil? Maksudnya mungkin aku ikut meledak?” Allen menerka ragu.
“Benar, karena Mana Core atribut Ledakan sangat tidak stabil membuatnya memerlukan kemampuan tinggi untuk mengatur mana dalam penggunaannya sehingga tidak terjadi ledakan yang di luar kendali, seperti yang baru saja kau alami. Dan Mana Core ini juga yang paling sulit dikembangkan.” Phytagoras melanjutkan penjelasannya.
“Jadi begitu... dengan kata lain aku belum sepenuhnya sembuh...” mendengar penjelasan Phytagoras membuat rasa senang Allen atas kesembuhannya hilang seketika.
“Nak Allen, sekarang tubuh mu sudah lebih kuat daripada kebanyakan orang dan Mana Core milik mu juga hanya berada di tingkat dasar sehingga seharusnya kau baik-baik saja. Tapi jika kau ingin berlatih sihir kau perlu menemukan seseorang yang memiliki kemampuan kontrol yang luar biasa untuk melatih mu agar kejadian yang sama tak terulang.” Kevin mencoba menaikan semangat Allen.
Saat Allen mendengar ucapan Kevin matanya kembali bersinar, tapi sekarang tatapannya langsung menatap ke arah Ray yang sedah mengatur sirkulasi mana dalam tubuhnya. Ray merasakan tatapan yang mengarah kepadanya. “Bocah, kenapa kau manatap ku?”
“Tidak... tidak... ehemm...hmm...” Allen langsung menarik pandangannya saat tahu kalau Ray menyadari dia menatapnya.
Melihat Allen yang bertingkah canggung, Ray tidak membahas lebih lanjut dan memilih mengalihkan topik ke tempat yang seharusnya. “Tubuh mu seharusnya baik-baik saja sekarang. Saran ku jangan berlatih sihir secara sembarangan lagi, setidaknya kalau ingin berlatih sihir cari seorang Mage untuk melatih mu.”
“Uhuk... uhuk... Seorang Mage?” Olivia langsung tersedak nafasnya saat mendengar Ray dengan santai mengatakan untuk mencari seorang Mage seolah mencari kubis di pasar.
“Olivia? Kau sakit?” Ray masih terlihat santai seolah mengatakan hal yang biasa.
“Mata? Tinggi? Oh, matanya pada lepas...”
“Uhuk... Uhukkk... hukkk...” sontak semua orang yang mendengar celetukan Ray langsung terbatuk-batuk.
“Bisakah kau lebih serius? Sekarang yang kita bahas untuk mencari guru yang cocok untuk melatih adik ku.” Olivia menjitak kepala Ray karena sudah mengubah pembicaraan serius menjadi bahan candaan.
“Aduh...” Ray mengusap kepalanya yang terkena jitakan Olivia. “Kenapa kalian begitu serius? Kalau tak ada yang bisa melatihnya, tinggal biarkan aku saja yang melatihnya kan?” Lanjut Ray santai sambil masih mengusap kepalanya yang masih agak sakit.
Mendengar ucapan santai Ray semua orang dalam tenda baru tersadar. “Bukannya Ray juga memiliki kontrol sihir yang sangat tinggi? Jadi bukankah dia kandidat terbaik dan yang paling mudah dimintai bantuan melatih Allen?” Olivia dan semua orang dalam tenda bergumam pelan.
“Kalian terlalu fokus pada hal yang jauh tak terjangkau tapi melupakan hal-hal yang ada di depan mata. Haihh... dasar manusia.” Ray menggelengkan kepalanya pelan.
“Bukannya kau juga manusia?” Batin semua orang dalam hati.
Pembicaraan terhenti saat penjaga memasuki tenda menyampaikan kalau Estas dan Vali berkunjung ke Keluarga Schtrom.