Sistem Dewa

Sistem Dewa
Ch. 143 - Percakapan II


Tak jauh dari tempat Ray membuat pidato dan peringatan pada para siswa Silver Moon Akademi. Tiga orang gadis yang baru turun dari kereta kuda mereka juga melakukan percakapan mereka sendiri.


“Jadi Alice, kenapa paman meminta mu untuk mengawasi dan lebih mengenal Ray?” Tanya Natasha saat turun dari kereta.


“Natasha, seharusnya kau sudah memasuki usia menikah bukan?” Alice bertanya kembali pada Natasha.


“Iya, aku sudah 16 tahun tahun ini. Jadi aku sudah masuk usia menikah, tapi ayah membiarkan ku memilih sendiri calon ku.” Natasha menjawab sambil memiringkan kepalanya.


“Sebenarnya aku merasa kalau ayahanda mungkin berniat menjodohkan ku dengan Ray setelah mengetahui semua pencapaiannya.” Ucap Alice.


“Hah?” Natasha terkejut dengan jawaban Alice.


“Kenapa kau terkejut? Hal seperti ini sudah biasa kan di kalangan bangsawan seperti kita.” Alice tersenyum menanggapi keterkejutan Natasha yang terkesan lucu.


“Ta – ta – tapi...” Natasha berniat mengatakan sesuatu tapi tiba-tiba tergagap dan menundukan kepalanya.


“Kenapa Natasha? Jangan bilang kau menyukai Ray jadi tak ingin orang lain menikahinya?” Alice tertawa kecil saat menggoda Natasha.


“Eh, benarkah? Akhirnya Natasha si gila sihir menyukai seseorang?” Ying Yueru yang melihat Natasha malu ikut menggodanya.


“Ti – tidak... A – aku tidak menyukainya...” Natasha mencoba menaikan kepalanya dan menjawab dengan suara gagap.


“Hee... jadi Natasha kita tidak menyukainya, jadi tak masalah kan kalau dia menikah dengan ku.” Alice yang melihat ekspresi Natasha kembali menggodanya lebih jauh.


“Ya, ya, hitung aku juga. Ray adalah pria yang kuat dan cerdas aku tak masalah menikahinya.” Ying Yueru menambahkan bahan bakar ke dalam godaan Alice.


“Tidak! Kalian tidak boleh!” Natasha secara reflek menjawab godaan Alice dan Ying Yueru.


“Eh, kenapa tidak?” Alice tertawa kecil menanggapi.


“Ah, maksud ku... itu... aku tak peduli kalian menikahinya, hm...” Natasha mencoba menahan rasa malunya dan mendengus ke arah Alice dan Ying Yueru.


“Benarkah?” Alice kembali menggoda Natasha.


“Benar!” Jawab Natasha dengan wajah masih memerah.


“Hehehe... Sudah cukup untuk menggoda Natasha, kita perlu melakukan apa yang perlu kita lakukan.” Ying Yueru menyela kedua saudari untuk menghentikan candaan mereka.


Sementara itu saat Natasha sedang digoda oleh Alice dan Ying Yueru mereka merasakan aura menekan yang sangat kuat dan menakutkan. Ketiga gadis menoleh ke arah sumber tekanan dan melihat Ray sedang menatap salah satu guru berambut merah yang saat ini terduduk sampai terkencing di tanah.


“Aura yang kuat dan menakutkan.” Gumam Alice, Natasha dan Ying Yueru bersamaan.


Ying Yueru juga mulai berpikir tentang kejadian di rumah pelelangan dan saat dia diselamatkan dari kelompok pembunuh bertopeng. Ying Yueru mengingat kalau dia sudah menggunakan Ray untuk menghabisi kelompok yang sudah mengejarnya selama berbulan-bulan.


“Apakah aku sudah menyinggung saat itu? Aku harap dia tidak melakukan hal yang sama pada ku.” Batin Ying Yueru dalam hati karena dia bisa merasakan kalau tekanan yang diterimanya hanyalah sisa tekanan yang gagal diarahkan Ray pada guru berambut merah itu.


Tak lama kemudian Ray selesai memberi pelajaran pada guru berambut merah dan memulai percakapan dengan Ryan Evans dan membahas tentang kontrol aura.


Kemudian Ray berbincang beberapa saat dengan William dan Vali disaat para guru mulai mengatur para siswa sesuai dengan rencana yang telah dibuat.


Setelah selesai berbincang dengan William dan Vali, Ray bersama keduanya dan juga dua saudari setengah elf yang mengikutinya dalam diam berjalan ke arah Alice, Natasha dan Ying Yueru yang sedang berbincang. Ray hanya ingin memastikan apa yang diinginkan oleh pihak lain darinya.


“Selamat datang di Pos Perbatasan yang sederhana ini, tuan putri sekalian. Dan sebuah kehormatan bisa bertemu dengan kalian.” Ray menyapa dengan sopan dan penuh hormat.


Sementara itu, William dan Vali yang melihatnya bertingkah sopan mulai merasakan merinding di punggung mereka. “Sial, Ray bertingkah sangat sopan dan hormat? Apakah matahari akan terbit dari barat? Mungkinkah akan ada meteor yang jatuh?” Batin William dan Vali dalam hati.


Ray sendiri tidak mengetahui apa yang dipikirkan kedua sepupunya, karena jika dia tahu Ray mungkin sudah akan batuh darah karenanya.


“Terimakasih atas sambutannya Tuan Ray. Kebetulan kami disini untuk memperkuat ikatan antara ketiga kerajaan dan juga sebagai bentuk pelatihan untuk menambah pengalaman bagi kami.” Ying Yueru mewakili untuk berbicara karena dia salah satu orang yang pernah berkomunikasi dengan Ray.


“Jika demikian maka biarkan kedua pelayan saya membantu membawa barang kalian dan juga mengantar kalian ke tenda sihir khusus yang sudah disiapkan untuk Tuan Putri sekalian.” Ray meminta Schnee dan Syr yang sejak awal mengikutinya tanpa suara untuk mengantar Alice, Ying Yueru dan Natasha untuk menuju ke tenda mereka.


“Terimakasih atas keramahannya Tuan Ray.” Ying Yueru dan Alice menjawab dengan sopan, sementara itu Natasha menatapnya dengan tajam setelah menyadari Schnee dan Syr yang selalu mengikutinya.


“Tak perlu sungkan.” Ray meminta Schnee dan Syr untuk mulai membawa barang bawaan Alice, Ying Yueru dan Natasha lalu mengantar mereka ke tenda mereka.


Setelah melihat kelompok Alice, Ying Yueru dan Natasha pergi. Ray menghela nafas panjang sambil menoleh ke sudut lain dari Hutan Kematian. “Vali, Will, sebaiknya kalian jangan tidur malam ini dan katakan hal yang sama pada yang lainnya.” Ucap Ray dengan nada serius.


“Apa maksud mu Ray?” Tanya Vali yang tidak memahami maksud dari Ray.


“Maksudnya mungkin akan ada pertunjukan drama yang tidak mengenakan mala mini.” Sahut William dengan metafora.


“Kalian berdua berhenti bermain teka-teki yang membingungkan.” Vali menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.


“Intinya kau hanya perlu ingat untuk tidak tidur malam ini, karena mungkin akan ada tamu yang dating.” Ray tersenyum sebelum meninggalkan Vali yang masih bingung.


Sementara William hanya menepuk pundak Vali sebelum meninggalkannya. “Apa maksudnya itu?” Vali yang masih bingung memutuskan mengikuti nasehat Ray untuk tidak tidur malam ini.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Sudah empat hari saya tidak ada waktu buat update dan saya minta maaf untuk itu, karena hari ini adalah hari kemerdekaan Republik Indonesia saya memutuskan untuk memerdekakan diri saya dari pekerjaan untuk satu hari ini dan menulis satu chapter tambahan ini.


Jujur pekerjaan saya tambah banyak karena salah satu rekan kerja saya harus menjalani isolasi karena positif corona meski tanpa gejala yang membuat hubungan kerja kami hanya bisa melalui daring yang membuat pekerjaan kami kurang efektif menurut saya. Tapi semoga saja beliau cepat sembuh dan saya bisa mengurangi beberapa pekerjaan saya.


Mungkin cukup sekian curhatan dari saya, dan selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia.


MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!


See you next chapter and have fun...