Sistem Dewa

Sistem Dewa
Ch. 156 - Akhir Pertempuran II


“Geh... Ray kenapa kau ada disini? Bukannya kau sedang menghadapi Blood Qilin yang berada di Tingkat Kaisar Awal?”


Vali terkejut dengan penampilan Ray yang tiba-tiba, dia berpikir seharusnya masih perlu beberapa jam lagi untuk Ray bisa mengalahkan Blood Qilin yang merupakan Divine Beast.


“Kau orang sialan! Apa kau berharap aku mati di luar?! Apa kau ingin dihajar!”


Ray merasa kesal dengan kelakuan bodoh Vali kali ini. Ray bisa sedikit santai karena berpikir Vali hanya akan meminta Little Green untuk bertarung di luar, tapi sekarang dia melihat sepupunya mengalami banyak luka bakar.


“Hah.. Tidak! Tentu saja tidak! Aku senang kau kembali, tapi hanya saja aku terkejut karena kau kembali begitu cepat!”


Vali langsung menjawab dengan cepat, dia tahu kalau Ray sedang marah sekarang dan dalam suasana hati yang buruk. Vali tidak ingin mengalami penderitaan tanpa akhir karena membuat Ray lebih kesal dari sebelumnya.


“Vali! Apa kau ingat apa yang ku katakan pada mu saat menitipkan Little Green pada mu?” Ray menanyai Vali dengan serius.


“Yah, itu... Jika kami bertemu masalah yang tidak bisa ditangani para instruktur dan guru akademi, kau meminta ku memanggil Little Green untuk melindungi kelompok kami...” Vali menjawab dengan nada rendah.


“Sekarang apa yang ku lihat di sini! Kau hampir menjadi mumi berjalan dengan semua perban untuk menutupi luka bakar mu? Apa kau meninggalkan otak mu di Silver City dan mencari kematian di sini?!” Ray menatap tajam pada Vali.


Jika sebuah tatapan bisa membunuh seseorang Vali mungkin sudah mati berulang kali, Ray benar-benar mengkhawatirkan sepupunya ini. Vali biasanya adalah orang yang cerdas dan selalu memahami batasannya sendiri, tapi terkadang ada saat dia termakan egonya untuk menjadi lebih kuat dan tidak ingin membebani orang yang dia pedulikan.


“Itu...” Vali ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya menelan katanya kembali, dia dalam posisi salah sekarang karena tidak mendengarkan pengaturan Ray dengan benar dan membuat dirinya terluka.


“Berhenti bicara omong kosong! Lihat kondisi mu sekarang! Jika kau mati karena gelombang Binatang Iblis ini, apa yang harus ku katakan pada Bibi Eva?!”


Ray menyela Vali dan kembali membentaknya, kali ini dia benar-benar marah pada Vali. “Orang bodoh ini! Apa dia tidak bisa meletakan egonya di tempat yang benar? Kenapa membuat dirinya hancur seperti ini!” Umpat Ray dengan kesal dalam hatinya.


“Hah... Maaf, soal ini... Aku tak akan melakukan hal bodoh seperti ini lagi...” Vali menundukan kepalanya dan berkata lemah dengan nada penuh kepasrahan.


“Sigh... Ambil ini dan minum segera...” Ray mengeluarkan Recovery Potion kelas tinggi dan memberikannya pada Vali.


Alasan Ray memberikan Recovery Potion pada Vali karena saat Ray memriksa tubuhnya dia bisa menemukan kerusakan kecil pada sirkuit mana milik Vali yang membuat aliran mana dalam tubuhnya menjadi kacau dan tidak teratur.


“Kau bodoh! Apa kau masih belum sadar kenapa aku sangat marah! Jika itu hanya luka bakar aku tak terlalu peduli! Tapi kau menggunakan terlalu banyak mana sampai melukai sirkuit mana milik mu! Jika tidak diobati dengan benar maka perkembangan mu akan terhenti di sini!”


Ray yang sudah sedikit tenang kembali meuncak dengan kemarahan saat mendengar perkataan bodoh Vali. Dalam pikiran Ray, dia benar-benar mengutuk Vali karena semua kebodohannya sekarang.


“Ah, itu... Terimakasih...” Vali ingin mengatakan sesuatu tapi akhirnya memilih diam dan hanya berterimakasih.


“Kalau begitu aku pergi sekarang, masih ada banyak orang yang memerlukan bantuan...” Ray melihat Vali untuk memastikan keadaannya dan memamnggil Schnee untuk mengikutinya. “Schnee, ikuti aku menyembuhkan prajurit yang lain...”


“Baik.” Schnee mengangguk dan mengikuti Ray keluar dari tenda.


Setelah Ray dan Schnee keluar dari tenda, akhirnya Vali bisa bernafas lega. Akhirnya Vali merasa terbebas dari amukan sepupunya yang mengerikan. “Akhirnya, Ray pergi...”


“Ini pertama kalinya aku melihat Ray begitu marah... Benar-benar berbeda dengan sikap santainya yang biasa terlihat.” Miria yang diam sejak awal menimpali Vali.


“Dia selalu santai dalam menghadapi sesuatu karena dia sudah memperhitungkan semuanya sejak awal dan bahkan membuat beberapa rencana cadangan jika hal yang buruk terjadi... Tapi dia benar-benar marah kali ini karena aku melompat keluar dari skenario aman yang sudah dibuatnya dan mendapatkan luka yang tidak perlu...” Ucap Vali pelan.


Miria yang mendengar ucapan Vali hanya mengangguk setuju, karena dia juga paham cara Ray bertindak.


Setelah itu, Vali meminum Recovery Potion untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang terluka dengan bantuan Miria.


 


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Terimakasih sudah mengikuti karya saya... Jangan lupa tinggalkan like dan komentar yang bisa membangun kemampuan menulis saya...


See you next chapter and have fun...