Sistem Dewa

Sistem Dewa
Ch. 147 - Serangan Malam IV


Setelah mendengar panggilan dari Ray, gelang hitam yang merupakan tranformasi Little Black bergetar dan menyala terang sebelum berubah menjadi naga hitam dengan tubuh sepanjang hampir seratus meter dan lebar tubuh tiga meter.


“Rrooaaarrr!!!” Auman Little Black mengejutkan kelompok pembunuh yang datang.


“Sial, bagaimana mungkin ada Balck Dragon di tempat ini? Apa yang dilakukan para informan bodoh itu!” Seorang pembunuh yang berada di barisan depan berteriak kesal karena informasi yang mereka terima salah.


“Ketua, kita mungkin hanya bisa merubah ke rencana cadangan.” Salah seorang pembunuh berbicara dengan pembunuh di depannya.


“Sepertinya memang hanya bisa dengan rencana itu... lagipula kita mungkin tak bisa lolos dari ini...” Pembunuh yang dipanggil ketua mengambil keputusan untuk mengubah rencana mereka.


“Dua puluh orang Tingkat Raja mengikuti ku untuk menahan mereka, sementara yang tersisa lakukan upacara pengorbanan darah!” Ketua pembunuh memberi perintah sebelum mulai menyerang Ray dan kelompoknya.


Dua puluh satu orang pembunuh terpisah menjadi tiga kelompok. Sembilan orang bertarung melawan Little Black yang memiliki keuntungan karena ukuran tubuhnya,


Ketua pembunuh dan tujuh orang lainnya bertarung melawan Ray yang mereka anggap yang terkuat setelah Black Dragon. Sementara sisanya menghadapi Ralf yang terlihat sebagai anggota terlemah dalam kelompok Ray.


Sembilan orang yang menahan Little Black mulai menyerang dalam formasi bertahan. Tiga orang diantara penyerang menggunakan sihir elemen tanah untuk membuat dinding batu yang menghambat gerakan dan serangan Little Black. Lalu dua orang lainnya masing-masing menggunakan sihir elemen ruang dan elemen kegelapan untuk menghentikan dan menyerap sihir kehancuran milik Little Black. Kemudian sisa penyerang mengepun Little Black dan menyerangnya dari celah-celah gerakannya.


Ray melirik kondisi pertempuran Little Black dan memahami meski Little Black tidak mampu mengungguli lawannya setidaknya dia masih bisa mengikat lawannya dengan baik. Sementara itu saat Ray melihat Ralf bertarung dia meresa sedikit terkejut karena Ralf berada di posisi yang sedikit menguntungkan.


Ralf bertarung melawan tiga orang pembunuh Tingkat Raja. Pembunuh pertama adalah seorang pengguna belati yang berfokus pada serangan cepat dan seragapan, namun Ralf masih bisa menanganinya meski disibukan dengan dua pembunuh lainnya yang menggunakan pedang sebagai senjata mereka.


Ray sendiri hanya menghindari semua serangan dari para pembunuh sambil mengamati pertarungan Little Black dan Ralf untuk memastikan keselamatan mereka. Setelah memastikan mereka cukup mampu untuk bertahan Ray mulai membalas serangan.


Ray mengeluarkan dua buah pisau pendek dari cincin spatial miliknya. Kedua pedang pendek ini terlihat berbeda dengan pedang biasanya karena genggaman pisau terlihat seperti sebuat katar dan juga bilah pisau yang melengkung keluar dengan ujuang yang tajam.


Ray mulai membalas serangan dan menggerakan tangan kanannya ke belakang dengan gerakan cepat menggorok leher pembuh di belakangnya. Para pembunuh terkejut melihat rekannya mati dalam sekejap, Ray bisa melihat celah dalam formasi mereka dan dengan gerakan memutar tubuhnya berhasil menggorok dua leher pembunuh yang berdekatan.


Ray terus menyerang dengan cepat dan lincah, gerakannya sagat luwes dan lincah. Ray terus bergerak dengan lompatan kecil untuk mempercepat dan memperlambat gerakannya, sementara itu Ray juga memutar tubuhnya untuk menghindari serangan dengan selisih tipis disaat tangannya juga bergerak secara fleksibel saat menyerang lawannya.


Gerakan yang dilakukan Ray terlihat seperti sebuah tarian yang indah jika saja tak ada darah yang berhamburan setiap kali dia menggerakan tangannya. Semakin lama pertarungan semakin banyak serangan yang berhasil didaratkan Ray pada lawannya dan membuat mereka tumbang satu persatu.


Setelah beberapa saat bertarung, sekarang hanya tersisa ketua pembunuh yang terluka parah untuk mengahadapi Ray, tanpa membuang waktu Ray langsung membunuhnya dalam satu serangan untuk menyelesaikan rasa sakitnya.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *


Terimakasih sudah mengikuti karya saya... Jangan lupa tinggalkan like dan komentar yang bisa membangun kemampuan menulis saya...


See you next chapter and have fun...