
“Jadi karena hal itu, aku memberikan kalian pelatihan dasar yang intens untuk memperbaiki kekurangan kalian dalam ketrampilan dasar berpedang. Sedangkan untuk besok kita tidak perlu melakukan pelatihan ini lagi karena aku akan membuat evaluasi hasil dari pelatihan kalian.” Ray kembali melihat para prajurit baru yang kini memandangnya dengan horror.
“Evaluasi? Orang ini tidak akan membuat kita masuk Hutan Kematian untuk berlatih bukan?” Batin semua prajurit dalam pikiran mereka, pelatihan hari ini saja sudah menguras habis stamina mereka dan ini hanya pelatihan dasar menurut Ray. Jadi evaluasi dari Ray mungkin hanya akan menjadi hal yang lebih mengerikan.
“Kalian tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengirim kalian ke dalam Hutan Kematian. Karena aku tahu jika aku mengirim kalian kesana sekarang hanya akan membuat kalian menjadi makanan garatis bagi Binatang Iblis, dan aku tidak sebaik itu sampai-sampai mengirim makanan gratisan bagi Binatang Iblis.” Ray tersenyum mengerikan pada mereka, dia benar-benar menikmati menyiksa prajurit baru yang sombong seperti mereka.
Para prajurit baru tak tahu harus senang atau menangis karena perkataan Ray, mereka merasa senang karena tak perlu pergi ke Hutan Kematian sekarang saat kemampuan mereka belum mumpuni untuk berhadapan dengan Binatang Iblis Tingkat Lord atau di atasnya, dan di sisi lain mereka ingin menangis karena Ray tidak mengirim mereka ke Hutan Kematian hanya karena dia tidak suka memberikan makanan gratisan pada Binatang Iblis yang berarti di mata Ray sekarang mereka tak lebih dari makanan Binatang Iblis atau sama sekali tak berguna.
“Baiklah, sekarang kalian bisa bubar. Beristirahatlah dengan benar hari ini, karena besok akan jadi hari yang melelahkan buat kalian.” Ray langsung meninggalkan para prajurit yang masih terduduk karena kelelahan.
Ray berjalan menuju sebuah tenda yang cukup besar, di depan tenda tersebut terdapat dua orang prajurit yang sedang berjaga. “Dimana Jenderal Ralf?” Ray bertanya pada kedua penjaga.
“Jenderal sedang ada di dalam sekarang, apa Tuan Ray ada keperluan dengannya?” Salah satu penjaga menjawab.
“Iya, kalau begitu aku akan masuk sekarang.” Ray langsung melangkah masuk ke dalam tenda tanpa menunggu tanggapan para penjaga. Sementara kedua penjaga sendiri hanya diam seperti patung, karena sebelumnya sudah diberi perintah oleh Ralf untuk tidak menghentikan Ray apapun yang dilakukannya.
***
Di dalam tenda Jenderal
“Tuan Ray, ada keperluan apa sampai repot-repot menemui ku?” Ralf menyapa Ray.
“Bukan apa-apa, aku hanya ingin kau menyiapkan peralatan latihan untuk prajurit baru. Hm... kira-kira aku perlu dua belas set armor lengkap dan juga dua belas pasang pedang dan perisai. Karena besok aku berniat melakukan evaluasi.” Ray mengatakan tujuannya.
“Evaluasi? Bukankah kau baru saja melatih mereka? Kenapa sekarang sudah berniat mengevaluasi mereka?” Ralf sedikit bingung dengan permintaan Ray. Hal ini wajar mengingat Ray baru melatih para prajurit baru selama sehari.
“Aku perlu mengetahui sebanyak apa perkembangan mereka selama pelatihan ku hari ini agar aku bisa menentukan sejauh apa hasil dari metode pelatihan ku. Jujur aku tak mau melakukan hal yang sia-sia karena itu aku ingin memastikan latihan ini berguna untuk mereka atau tidak.” Ray menjelaskan alasan miliknya untuk melakukan evaluasi pada prajurit yang dilatihnya.
“Kalau begitu akan aku siapkan sesuai keinginan mu. Besok perlengkapan yang kau minta akan langsung aku kirim ke tempat latihan prajurit baru.” Ralf menyetujui permintaan Rayu setelah mendengar alasannya, lagi pula sebagai orang yang meminta Ray untuk melatih dia harus menyiapkan semua kebutuhan peralatan untuk pelatihan yang diprogramkan oleh Ray.
“Kau juga bisa melihat pelatihan kami besok, mungkin kau akan melihat sesuatu yang mengagumkan atau mengejutkan mu.” Ray tersenyum memberikan undangan pada Ralf untuk melihat pelatihan yang diarahkannya.
“Tentu, aku juga menantikan bagaimana perkembangan mereka setelah dilatih oleh mu.” Ralf menerima undangan Ray.
“Kalau begitu sampai jumpa besok.” Ray meninggalkan tenda.
“Ya, sampai jumpa besok.” Jawab Ralf.