Sistem Dewa

Sistem Dewa
Ch. 62 - Kue


“Elen, kita sedang ada pembicaraan disini...” Rain berniat menegur sebelum dihentikan oleh Eva.


“Rain, biarkan saja. Elen hanya ingin menyuguhi kita kue, jadi tak perlu dibahas lebih lanjut.” Eva menghentikan Rain, sambil berbicara dengan nada ramah.


“Hm, Elen hanya mau memberikan kue enak. Ini buatan Kak Ray dan rasanya enak, tadi aku juga sudah mencoba beberapa.” Elena merasa agak bersalah karena menorobos masuk begitu saja.


“Tak apa Elen, mari sini.” Eva meminta Elena untuk membawa kue mendekat.


“Ini bibi, kue ini enak dan baru saja matang.” Elena mengambil kue dari nampan dan memberikannya pada Eva.


“Terimakasih Elen.” Eva mengelus kepala Elena sambil tersenyum. Eva mencoba kue yang diberikan Elena meskipun merasa kue terlihat agak berbeda karena ada lapisan keemasan yang terdapat pada bagian atas kue, memastikan kue baik-baik saja Eva mencoba menggigit kue ditanganya.


“Kue apa ini? Aku baru pertama kali makan kue seenak ini. Dan sepertinya aku merasa lebih bertenaga setelah makan kue.” Eva merasa agak terkejut karena kue yang dimakannya tidak hanya sangat enak tapi juga membuatnya merasa lebih bertenaga.


“Ya kan? ya kan? kuenya enak. Ini bahkan lebih enak dari yang biasanya dibuat koki istana.” Elena menimpali sambil memakan kue dengan kedua tangan kecilnya.


Mendengar komentar Eva dan Elena semua orang dalam ruangan ikut merasakan kue yang baru saja dibawa Elena. Setelah semua orang mengambil satu kue masing-masing membuat kue di nampan habis tak tersisa.


Ekspresi semua orang berubah setelah memakan dan merasakan kue yang terlihat baru bagi mereka ini.


“Ah, sepertinya aku lebih bertenaga setelah memakan kue ini.”


“Rasanya sebagian kecil luka dalam ku sembuh!.”


Semua orang terkejut dengan rasa dan khasiat dari kue yang dimakannya, tapi yang paling mengejutkan adalah saat Denis mengatakan kalau luka dalam yang sudah lama menumpuk dalam tubuhnya sedikit tersembuhkan.


Sementara semua orang terkejut dengan kue yang dibawa Elena, seseorang memasuki ruang tempat mereka berada dengan terburu-buru. “Elena mana kue yang baru saja ku buat?” Orang yang memasuki ruangan adalah Ray yang baru saja selesai membersihkan dapur.


“Ah, Kak Ray itu...” Elena berubah sedikit panik saat melihat nampan yang sudah kosong. “Hehe... Kak Ray kuenya sudah habis dimakan...”


“Hah? Sudah habis? Aku bahkan belum makan satupun...” Ray sudah menebak kalau kuenya keluar dari dapur maka akan langsung lenyap tak tersisa, karena itu dia meminta Elena menunggu di dapur sebelum pergi ke Ruang Keluarga. Sebenarnya selain menjadikan kue miliknya sebagai suguhan, Ray juga berniat untuk menjadikannya sebuah produk untuk memulai bisnisnya.


“Sudahlah Ray, lagipula kuenya juga sudah habis. Bukannya kau masih bisa membuatnya lagi nanti?” Eva menenangkan Ray yang terlihat sedikit kesal.


“Bukan itu bibi, sebenarnya aku ingin membawa kuenya setelah acara lamaran ini selesai. Karena aku ingin membahas sesuatu dengan Kak Michele mengenai kuenya. Aku berniat untuk menjual kue ini di Restoran yang dijalankan Kak Michele, jadi selain mendapatkan keuntungan juga akan meningkatkan nilai Kak Michele dikalangan para bangsawan. Bibi sendiri paham kalau banyak bangsawan yang memandang seseorang dari tingkat kebangsawanan mereka.” Ray mengemukakan pendapat serta apa yang ingin dia lakukan dengan kue yang dibuatnya.


“Jadi seperti itu...” Eva cukup memahami apa yang dimaksudkan Ray, karena sebelumnya saat dirinya menikahi Ernest juga membuat banyak bangsawan yang mengganggu mereka. Apalagi saat kondisi ibukota sedang kacau seperti ini.