
Sementara itu, Ray dan timnya yang tidak mengetahui tentang kejadian yang dialami Yuri dan timnya, memutuskan untuk terus bergerak ke arah utara dan semakin mendekati wilayah dalam Hutan Kematian. Bagi Ray selama mereka tidak masuk ke wilayah dalam dia bisa menangani segala masalah.
Setelah berjalan beberapa ratus meter, akhirnya Ray sampai ke tempat yang ingin dia tuju. Sebuah danau besar yang di kelilingi padang rumput yang sangat luas dengan beberapa pohon yang saling berjauhan di sekitarnya.
Karena hari sudah mulai gelap, maka Ray memutuskan tempat ini akan menjadi kamp mereka selama tiga hari menjalani uji coba pertarungan di Hutan Kematian ini.
“Kawan, kita sudah sampai di tempat yang bisa kita jadikan tempat berkemah. Area ini relative aman dari Binatang Iblis dan memiliki sumber air yang mencukupi, jadi kita mendirikan tenda sihir untuk berkemah di sini.” Ucap Ray menghentikan perjalanan timnya dan mulai memasang formasi untuk perlindungan.
“Para gadis bisa mendirikan tenda sihir
mereka di dekat danau dan para pria mendirikan tenda mereka sejauh lima puluh
meter dari danau.” Ray berbalik untuk melihat tak ada anggota timnya yang
mengeluarkan satu pun tenda sihir.
“Hehe... Ray bisakah kau meminjam kan kami tenda sihir milik mu? Seharusnya itu lebih nyaman daripada tenda sihir yang ada di Silver City.” Vali tertawa kecil dan meminta Ray meminjamkan tendanya.
“Sudah ku duga, kalian semua memang tak bisa diandalkan.” Ray menghela nafas pelan dan mengeluarkan dua buah tenda kecil berukuran telapak tangan.
Ray berjalan ke tepi danau dan mengalirkan mana miliknya ke dalam tenda kecil yang ada di telapak tangannya, tak lama kemudian sebuah tenda berukuran 10 x 10 meter muncul di tepi danau.
Tenda sihir yang digunakan memiliki warna putih bersih yang terlihat berbeda dari tenda sihir lainnya yang biasanya berwarna gelap. Ray berjalan sekitar lima puluh meter dari danau dan mendirikan tenda sihir lainnya dengan ukuran dan bentuk yang sama.
Di dalam tenda memiliki lima tempat tidur lengkap dengan selimut, selain itu terdapat meja dengan tikar besar di bagian tengah. Di dalam tenda juga memiliki beberapa inskripsi yang mengeluarkan cahaya untuk menjaga tenda tetap terang, selain itu suhu dalam tenda juga bisa diatur dengan mengalirkan mana di dalamnya.
Melihat sebuah tenda sihir yang memiliki berbagai macam fasilitas yang luar biasa, baik William, Natasha, dan para gadis lainnya sangat terkejut dengan pemandangan di depannya. Biasanya tenda sihir hanyalah sebuah alat sihir sederhana untuk mendirikan tenda tanpa perlu repot menyusunnya satu persatu, tapi di tangan Ray sebuah tenda sihir bisa menjadi tempat tinggal portable yang cukup nyaman.
Vali sudah mengetahui tentang tenda sihir sejak lama karena dia sudah pernah melihat Ray menguji cobanya dalam kediaman Keluarga Rogue sebelumnya. Pada awalnya Vali juga terkejut dengan tenda sihir ciptaan Ray, tapi setelah beberapa saat dia bisa kembali tenang dan menanyakan semua hal tentang tenda sihir ini.
“Sudah cukup, berhenti memuji. Kau benar-benar menjadi menyebalkan ketika sudah mengetahui beberapa barang ku bawa. Seharusnya aku tidak menguji benda ini di rumah sebelumnya.” Ray menghela nafas melihat tingkah Vali yang menyebalkan baginya.
“Hehe... Selain itu, bukankah kita bisa lebih tenang saat malam hari dengan tenda sihir ini. Karena salah satu kemampuannya adalah formasi kamuflase dan juga memiliki dinding pelindung saat mendapatkan serangan.” Ucap Vali sambil tertawa kecil.
“Baiklah, semuanya kita akan memasak daging Wind Wolf yang kita kalahkan sebelumnya sebagai makan malam. Dan untuk tugas berjaga akan dilakukan oleh aku, Vali, dan William secara bergantian.” Ray menjalaskan agenda mala mini dan mulai mempersiapkan masakannya.
Ray membersihkan daging Wind Wolf lalu memtongnya setebal satu ruas jari. Setelah selesai memotong daging Ray mengolesinya dengan campuran minyak, cabai bubuk, lada, dan garam. Ray juga menambahkan kecap buatannya yang berasal dari kacang-kacangan yang menurutnya adalah kedelai hitam.
Sementara Ray mempersiapkan bahan masakan, Vali dan William mempersiapkan tempat untuk memasak. Vali menyalakan api setelah mengumpulkan beberapa ranting dan kayu kering di sekitar danau, dan William membersihkan lempengan besi dengan empat penyangga yang diberikan Ray sebelumnya. Sedangkan para gadis mempersiapkan meja makan, sebuah tikar besar, dan juga peralatan makan lainnya.
Setelah api dan panggangan siap, Ray langsung mengoleskan minyak diatas lempengan besi dan kemudian meletakan daging Wind Wolf yang sudah dibumbui diatasnya. Ray menata daging diatas panggangan dengan jarak yang sama agar panas menyebar dengan rata.
Saat masih menjadi mahasiswa di Bumi, Ray sering mendaki gunung bersama temannya. Karena hal itulah Ray sangat terbiasa dengan memasak di alam liar seperti ini. Hanya butuh beberapa menit aroma harum keluar daging yang dipanggang Ray menandakan daging sudah matang.
Ray meletakan daging di piring masing-masing dan menunggu lama, Vali, William, dan yang lainnya langsung menyantap daging panggang dengan lahapnya. Ray menikmati malam yang tenang dengan memakan daging panggang di bawah sinar bulan tanpa mengetahui bahwa hari esok akan menjadi sangat melelahkan baginya.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Dan ini adalah chapter baru untuk hari ini...
Terimakasih sudah mengikuti karya saya... Jangan lupa tinggalkan like dan komentar yang bisa membangun kemampuan menulis saya...
See you next chapter and have fun...