
Little Black mulai menyerang Blood Qilin dengan sihir kehancuran dengan skala kecil, dia menembakan bola hitam pekat berisikan energi kehancuran ke arah Blood Qilin untuk memberinya luka kecil sambil menguras energinya.
Ray memahami kekuatan Little Black dengan baik, meski sekarang dia sudah menjadi Black Dragon dewasa tapi kekuatannya masih berada di Tingkat Raja yang sama sekali bukan tandingan Blood Qilin di depannya. Jadi daripada menyerang dengan serangan besar yang mugkin tak bisa membunuhnya, Ray meminta Little Black menguras energinya secara perlahan.
“Sekarang giliran ku untuk mulai beraksi!” Ray mulai berlari ke arah Blood Qilin, gerakan Ray sangat cepat karena dia menambahkan sihir elemen angin dan elemen petir untuk meningkatkan kecepatan dan refleks tubuhnya.
Ray berhasil menebas Blood Qilin beberapa kali, meninggalkan luka tersayat yang kemudian tertutup dengan kekuatan regenerasi yang kuat dari Blood Qilin. Puluhan luka sayatan yang dibuat Ray dengan pedangnya hanya bertahan selama beberapa detik sebelum menghilang tanpa bekas dengan kekuatan regenerasi Blood Qilin.
“Sial! Kekuatan regenerasi yang mengerikan! Blood Qilin benar-benar sesuai dengan reputasinya sebagai makhluk yang hampir tak bisa mati!” Ray mengumpat dalam hati saat melihat semua luka akibat serangannya menghilang tanpa bekas.
“Selain itu, Blood Qilin sebagai Divine Beast pasti tidak memiliki core seperti halnya Binatang Iblis. Hal ini menjadi lebih merepotkan karena hal ini...” Ray masih terus menyerang Blood Qilin sambil memikirkan rencana baru di kepalanya.
Ray yakin dia akan membutuhkan waktu berhari-hari untuk mengalahkan Blood Qilin dengan metodenya sekarang, bagaimana pun tenaga sihir yang dimiliki Divine Beast sangat mengerikan apalagi Blood Qilin di depannya sudah mencapai Tingkat Kaisar yang membuat Ray yakin kekuatan sihirnya dua kali lipat dari milik Little Black.
“Sial! Seharusnya ada suatu kelemahan untuk kemampuan regenerasinya yang mengerikan!” Ray mengumpat dalam hati dengan kemampuan regenerasi tidak masuk akal yang dimiliki Blood Qilin di depannya.
Serangan Ray terus berlanjut dan seolah tak terhentikan, setiap tebasan yang dibuatnya meninggalkan sayatan dalam sebelum menghilang dalam beberapa detik setelahnya karena kemampuan regenerasi Blood Qilin.
“Jika seperti terus hanya akan menjadi pertarungan tanpa akhir... Ayolah! Seharusnya ada hal yang bisa ku lakukan, aku perlu mengingat semua hal yang ku pelajari sewaktu menjadi seorang ilmuwan, karena sihir di dunia ini masih terikat dengan asas sebab dan akibat...” Ray terus mencoba memikirkan cara untuk menghabisi Blood Qilin.
Ray terus menyerang Blood Qilin sambil memikirkan tentang pengalamannya sebagai seorang ilmuwan di kehidupannya sebelumnya. Sebagai seorang ilmuwan Ray sudah mempelajari berbagai macam hal mulai dari anatomi makhluk hidup sampai pemahaman tentang zat dan atom yang menyusunnya.
“Bodohnya aku tidak mengingat hal yang begitu sederhana...” Ray mengumpat dalam hatinya saat mengingat tentang penelitiannya mengenai darah.
Darah sendiri merupakan satuan plasma darah atau serum darah yang terdiri dari 90 % kandungan air, 1 % Oksigen untuk darah bersih atau karbon dioksida untuk darah kotor, sekitar 8 % kandungan protein, 0,9 % kandungan mineral, dan sekitar 0,1 % kandungan garam.
“Blood Qilin seharusnya sesuai dengan namanya, kekuatan utama Blood Qilin adalah kemampuan bertahannya dan kemampuan regenerasi yang didukung oleh sihir darah miliknya yang luar biasa...” Ray mulai menyimpulkan hipotesisnya.
“Karena kemampuannya didukung oleh kemampuan regenerasi dan sihir darah miliknya, maka kuat atau lemahnya mereka bergantung bagaimana aku menangani kemampuan mereka untuk mengendalikan darah dan mempercepat regenerasinya...” Ray terus menyusun penemuannya dalam pikirannya.
“Maka seharusnya aku hanya perlu menghapus karakteristik darah itu sendiri... Mineral dan oksigen akan sulit berhatan dalam suhu minus... Jika aku membuatnya seperti itu maka bisa dipastikan kemampuan sihir darahnya akan mengilang!” Ray menyimpulkan hipotesisnya dan senyum lebar terpampang di wajahnya.
“Bagus! Ayo kita coba hal itu!” Ray memutuskan rencananya dan bersiap memulai babak kedua pertarungannya dengan Blood Qilin.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Terimakasih sudah mengikuti karya saya... Jangan lupa tinggalkan like dan komentar yang bisa membangun kemampuan menulis saya...
See you next chapter and have fun...