Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Acara 7 bulanan Kinan


Beberapa hari telah berlalu, akhirnya acara 7 bulanan yang sudah di nantikan oleh Aftar dan Kinan hari ini tiba juga.


Sebuah dekorasi yang cukup mewah sudah berdiri di halaman rumah Aftar Sanjaya. Tamu undangan juga banyak yang datang, dari rekan bisnis, keluarga, dan banyak orang-orang terkenal lainnya yang datang.


Di sebuah kursi Kinan sedang duduk bersama Kinan, hari ini senyum mereka terlihat begitu bahagia. Sanjaya terus menatap Kinan dan Aftar.


"Mudah-mudahan mereka bahagia selamanya," batin Sanjaya dalam hatinya.


"Sayang, bukankah itu Bu Herlin desainer baju pengantin yang aku gunakan dulu?" Tanya Kinan, yang melihat sosok Herlin sedang berjalan menuju ke kursi tempat mereka duduk.


"Iya kamu benar, hari ini gaun yang kamu pakai dan jas yang aku pakai juga di desain oleh beliau." Jawab Aftar, sambil tersenyum.


Herlin menghentikan langkah kakinya, dia melihat Kinan dengan begitu lekat. Entah mengapa saat melihat Kinan hatinya begitu bahagia.


"Mungkin jika aku tidak meninggalkan anakku dulu dan aku membawa dia bersamaku, pasti dia sudah sebesar Kinan. Maaf ya nak, mama punya alasan kenapa mama dulu pergi meninggalkanmu." Batin Herlin dalam hatinya.


Diam-diam buliran air mata Herlin membasahi pipi mulusnya. Herlin menghapus air matanya lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ke tempat Kinan dan Aftar duduk.


"Selamat pagi Pak Aftar," sapa Herlin dengan senyum yang begitu lembut.


"Selamat pagi Bu, silahkan duduk!" Jawab Aftar, dia juga tersenyum pada Herlin.


Kinan tersenyum, lalu mengelurkan tangannya untuk menjabat tangan Herlin, dengan sopan Kinan mencium tangan Herlin.


"Apa kabar bu? Senang bisa bertemu dengan ibu lagi," tanya Kinan sambil melepaskan jabat tangannya.


"Dia begitu sopan, tutur katanya begitu lembut. Aku yakin pasti orang tuanya mendidiknya dengan sangat baik," batin Herlin dalam hatinya.


"Sehat nak, dulu terakhir ketemu waktu adalah hari pernikahan kamu dan Pak Aftar," Herlin tersenyum pada Kinan, kini Herlin sudah duduk di kursi yang bersebelahan dengan Kinan.


"Iya bu, dan hari ini kita bertemu lagi. Oh iya kata Mas Aftar gaun yang aku pakai adalah rancangan ibu, sungguh ini sangat indah aku suka sekali dengan gaunnya, nyaman sekali di pakai bu." Kata Kinan, membuat Herlin merasa bahagia.


"Entah mengapa, aku bahagia di dekatmu nak Kinan," batin Kinan dalam hatinya.


"Iya nak, oh ya ibu juga membawa kado buat kamu. Ini adalah gaun rancangan ini sendiri, mudah-mudahan kamu suka nak." Herlin memberikan paper-bag yang ada di tangan dia pada Kinan.


Dengan senang hati Kinan menerima pemberian dari Herlin. "Terimakasih bu, pasti saya akan sangat menyukainya." Jawab Kinan sambil tersenyum.


"Iya bu, istri saya sangat menyukai rancangan ibu jadi pasti dia akan suka," sambung Aftar.


Kini bertiga asik mengobrol, Kinan juga sangat senang mengobrol dengan Herlin. Entahlah mengapa ada rasa nyaman tersendiri saat mengobrol dengan wanita paruh baya itu?


*****


Jam menunjukkan pukul 10 pagi, acara 7 bulanan pun di mulai dengan sakral. Sanjaya dan Aftar juga sangat bahagia meyaksikan acara 7 bulanan Kinan.


Vino dan Caca juga datang bersama, kini mereka duduk di salah satu kursi bersama Arga dan Vira.


Aftar sengaja mengundang Vira dan Arga karena ini kemauan Kinan.


"Vin, pacarmu cantik juga." Kata Arga.


"Jangan meliriknya, ingat itu anak kamu sebentar lagi brojol. Masih saja lirik-lirik pacar orang," Vino ngedumel dia tidak rela jika Arga memuji kekasih hatinya.


Vira hanya tersenyum, dia tidak sebucin suaminya. Dia paham kalau suaminya hanya sedang bercanda, tapi kalau Vino itu memang seperti itu. Mungkin dia tertular oleh Aftar yang bucinnya kebangetan sama Kinan.


"Hanya melirik, kalau hatiku kan sudah sepenuhnya buat istriku." Arga memeluk Vira dengan manja, tangannya mengelus-elus perut Vira yang sudah terlihat besar.


Vira tertawa kecil, dia mengusap-usap perutnya dengan tangannya.


"Sebulan lagi aku melahirkan, entahlah anakku laki-laki atau perempuan?" Batin Vira dalam hatinya.


Dalam hati Vira, kira-kira anak Kinan laki-laki atau perempuan ya? Rasanya aku ingin sekali besanan dengan dirinya. Tapi apakah itu mungkin? Sedangkan suamiku dan suami dia kerjaannya berdebat kalau mereka bertemu.


Kandungan Vira dan Kinan hanya selisih beberapa bulan, Vira juga sudah lebih dulu menggelar acara 7 bulanannya hanya saja Vira waktu itu menggelar acara 7 bulanan tidak di rumahnya, melainkan di rumah Rosa yang tidak lain adalah mertuanya, jadi Vira tidak berani mengundang Aftar dan Kinan waktu acara 7 bulanannya berlangsung.


Setelah beberapa lama telah berlalu, akhirnya acara demi acara selesai. Kini Kinan dan Aftar mereka ikut bergabung duduk dengan Vino, Caca, Arga dan Vira.


"Selamat ya Kin, sebentar lagi kita akan sama-sama menjadi seorang ibu." Vira memberikan selamat pada Kinan, dan Kinan tersenyum pada Vira. "Terimakasih Vir," jawab Kinan sambil tersenyum.


"Kinan, selamat ya akhirnya kamu akan segera menjadi seorang ibu," Caca mengucap kan selamat pada Kinan. "Rasanya aku juga ingin punya anak," sambung Caca sambil mesam-mesem.


Aftar dan Arga sama-sama menggelengang kepalanya, Vino sudah mati kutu dia yakin pasti dirinya akan menjadi bahan bullyan Aftar dan Vino.


"Halalin dulu, jangan mau di DP atau di cicil sebelum halal!" Celetuk Aftar, selalu saja ada bahan buat meledek Vino.


"Iya benar, apalagi sampai di airin. Lebih baik di tahan sajalah!" Sambung Arga sambil tertawa yang membuat semuanya ikut tertawa, hanya Vino dan Caca yang diam saja karena di ledek terus oleh Arga dan Aftar.


"Vin ingat, di tahan ya! Jangan sampai nyicil sebelum halal." Aftar tersenyum jail, rasanya Vino ingin sekali melempar gelas yang ada di hadapannya di wajah Aftar.


"Pak Aftar, terus saja meledekku!" Gerutu Vino dalam hatinya.


"Kak Caca, kalau sekertaris Vino merayu dirimu ingat jangan termakan rayuannya!" Kinan memberikan peringatan kepada Caca.


"Iya Ca, pokoknya sebagai seorang gadis kamu harus jaga diri ya. Biarpun laki-laki itu baik padamu dan dia kekasihmu, jangan sampai kamu berikan kesucianmu sebelum kalian menikah!" Nasehat Vira untuk Caca.


"Iya Kin, Vir, aku akan menjaga mahkotaku dengan baik sampai benar-benar menikah," jawab Caca. Terlihat senyum tulus karena Caca tahu Vira dan Kinan itu adalah sahabat dan teman yang baik. Biarpun dengan Vira kenal belum lama tapi Caca terlihat akrab dengan Vira.


Vino cengar-cengir, dia sadar kadang saat berduaan dengan Vira h*sratnya sebagai seorang laki-laki berg*jolak ingin di p*aska. Tapi Vino selalu menahannya dan ingin selalu menjaga Caca dengan baik dan Vino akan mengambil kesucian Caca di saat mereka sudah sah dalam sebuah pernikahan nanti.


Hari sudah menunjukkan pukul 4 sore, akhirnya semua tamu pulang, Bu Herlin, Arga dan Vira, Caca dan Vino dan rekan-rekan bisnis Aftar yang lainnya berpamitan pulang.


Setelah semua tamu pulang, Sanjaya, Kinan dan Aftar langsung masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


Di kamar Sanjaya, dia berbaring karena hari ini sangat lelah sekali.


"Aku lupa memberikan kadoku pada Kinan, ya sudah besok sajalah atau nanti malam," kata Sanjaya yang melihat kadonya masih berada di atas nakas dekat tempat tidurnya.


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Buat yang mengikuti cerita


"Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir"


Ada kabar bagus buat kalian semua, karena Author akan memindahkan cerita ini ke lapak sini, agar lebih mudah melanjutkan ceritanya dan insyaallah bisa up setiap hari 🤗🙏


Ini karya pindahan dari App K*M dan J*ylada, dan Author akan melanjutkan cerita ini di sini Ya di Noveltoon, jadi kakak-kakak semuanya bisa langsung baca ya klik profil Author saja disana sudah up 2 bab 🤗🤗