Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Telpon dari Ziyan


"Nanti kamu akan tahu." Jawab Aftar.


Aftar mengandeng tangan Kinan keluar dari kantornya, kini mereka sudah naik mobil ntah Aftar mau mengajak Kinan kemana?


Sesampainya di sebuah danau yang indah, Aftar menepikan mobilnya dan dia turun lebih dulu. Lalu dia membukakan pintu mobilnya untuk Kinan.


"Turunlah, ayo aku akan mengajakmu bermain di sini." Ajak Aftar dan langsung menggandeng tangan Kinan.


Kinan terus melihat tangannya yang saat ini di gandeng oleh Aftar.


"Sungguh, ini bukan Mas Aftar dia yang sedingin es batu. Kenapa tiba-tiba berubah menjadi sehangat ini? Kinan ingat jangan sampai baper!" Kinan berbicara dalam hatinya.


Kini mereka sudah duduk di pinggiran danau yang di kelilingi dengan pemandangan yang begitu indah.


"Bagaimana, kalau kita naik sepeda air?" Tanya Aftar pada Kinan.


"Tapi mas aku takut. Sebelumnya, aku tidak pernah naik sepeda air bahkan aku juga tidak bisa berenang. Nanti bagaimana jika sepada air itu kenapa-kenapa dan tiba-tiba tenggelam?" Jawab Kinan dengan begitu polosnya membuat Aftar tertawa kecil.


"Aku, akan menjagamu. Jadi kamu tidak usah kawatir, jika kamu tenggelam dan aku akan menyelamatkanmu aku jago berenang dan jika kamu butuh nafas buatan aku akan memberikannya padamu." Aftar tersenyum penuh arti.


"Sepolos inikah wanita yang aku nikahi? Kelak akankah aku sanggup untuk melepaskan dirinya dari hidupku?" Tanya Aftar pada dirinya sendiri.


"Baiklah, ayo kita naik sepeda air!" Ajak Kinan dengan yakin.


Aftar langsung membeli dua tiket sepeda air dan kini mereka sedang asik menikmati sepeda air berdua. Wajah Aftar tampak bahagia, Kinan terlihat tegang.


"Apa, kamu takut?" Aftar meraih tangan Kinan lalu menggenggamnya dengan erat.


"Dulu waktu pacaran dengan Karin yang dia pentingkan hanya karir dan karir. Mereka adalah dua wanita yang berbeda," Batin Aftar dalam hatinya.


Setelah beberapa lama, akhirnya permainan sepeda air mereka selesai. Kini Aftar kembali menggandeng tangan Kinan menulusuri danau yang indah itu.


"Kamu tahu, kenapa aku mengajakmu ke danau ini?" Tanya Aftar tiba-tiba, dia menghentikan langkah kakinya dan saat ini mereka ada di sebuah jembatan gantung, mereka berdiri bersebelahan dan tanpa jarak sedikitpun membuat Aftar bisa mencium wangi rambut Kinan saat ini.


"Aku tidak tahu mas, memangnya kenapa?" Kinan melihat Aftar sambil tersenyum lembut.


"Dulu waktu aku kecil, mama aku sering mengajakku kesini untuk bermain, dulu mamaku juga sering mengajakku bermain sepada air." Tutur Aftar dengan nada lembut.


"Apa hanya dengan mama mas saja, lalu papa mas tidak ikut?" Tanya Kinan ingin.


"Iya hanya dengan mama, papaku terlalu sibuk jadi dia tidak punya waktu untuk bermain denganku." Jawab Aftar matanya tampak berkaca-kaca mengingat masa lalunya.


Tiba-tiba Kinan meraih kedua pipi Aftar dengan kedua tangannya. "Jangan sedih, ayo kita bermain lagi dan aku akan menemani Mas Aftar bermain." Ajak Kinan dengan begitu semangat.


Aftar di tinggal oleh kedua orang tuanya sejak Aftar masih kecil dan hanya danau ini yang menyimpan banyak kenangan dirinya dan sang mama karena mereka sering berkunjung berdua, Aftar sering berharap kalau papanya juga bisa ikut tapi lagi-lagi papanya lebih suka dengan karirnya daripada keluarga kecilnya.


"Bagaimana, kalau kita makan es krim berdua?" Tanya Kinan pada Aftar.


"Boleh," jawab Aftar dan langsung mengajak Kinan ke tempat kedai es krim yang berada di tepi danau.


Kini mereka sedang menikmati es krim berdua, hari ini mereka juga tidak berdebat sama sekali.


Tiba-tiba ponsel Kinan berbunyi dan Kinan mengambilnya dari dalam tas.


"Ziyan, menelpon aku." Gumam Kinan dalam hatinya.


"Sebentar mas, aku angkat telepon dulu." Kinan berlalu pergi dari hadapan Aftar.


"Haruskah dia pergi saat mengangkat telpon?" Batin Aftar dalam hatinya.


"Telpon dari siapa sih?" Gerutu Aftar yang tampak kesal.


Kinan menggeser layar ponselnya lalu menekan tombol hijau dan menaruh ponselnya tepat di telinganya.


"Hallo Ziyan." Sapa Kinan dengan lembut.


"Hallo Kin, oh iya kamu dimana? Aku sudah pulang dari luar negeri." Kata Ziyan.


"Aku pulang, karena aku merindukan Kinanti Alisya." Kata Ziyan dengan tawanya.


"Oh iya, Kinan aku mau memberikan oleh-oleh padamu." Kata Ziyan.


Kinan terdiam, jika Ziyan akan memberikan oleh-oleh pada dirinya tentu saja Ziyan pasti akan datang ke rumahnya.


"Ziyan, aku akan datang ke rumahmu saja untuk mengambil oleh-oleh dari kamu." Jawab Kinan.


"Baiklah, aku tunggu kamu di rumah ya." Kata Ziyan dan langsung mematikan saluran teleponnya.


Ziyan tersenyum bahagia, akhirnya setelah sekian lama dia meneruskan kuliahnya di luar negeri akhirnya dia bisa pulang ke kota halamannya dan bisa bertemu dengan Kinan gadis yang selama ini dia sukai sejak sekolah SMA dulu.


"Aku, akan bertemu dengan Kinan rasanya sudah tidak sabar mengungkapkan perasaan yang terpendam selama bertahun-tahun ini." Ziyan begitu sumringah, rasanya tidak sabar bertemu dengan Kinan.


Aftar merasa gusar, rasanya sangat penasaran siapa sih yang menelpon istrinya di siang bolong seperti ini?


"Tidak biasanya, Kinan menelpon begitu lama apalagi ini sampai harus pergi dari depanku." Batin Aftar dalam hatinya.


Kinan kembali duduk, tapi tetappan mata Aftar terlihat sangat curiga.


"Siapa yang menelponmu?" Tanya Aftar dengan nada dingin.


"Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi manusia es?" Tanya Kinan dalam hatinya.


"Teman sekolah SMA dulu." Jawab Kinan dengan jujur.


"Laki-laki atau perempuan?" Tanya Aftar penasaran.


Kinan terdiam, sejak kapan Aftar perduli siapa saja yang menelpon Kinan? Rasanya bingung saja Aftar yang dari tadi begitu hangat seketika berubah menjadi manusia es tiba-tiba.


"Memangnya kenapa mas?" Bukannya menjawab Kinan malah balik bertanya.


"Kamu itu istriku, jadi aku ingin tahu siapa saja yang menelponmu?" Jawab Aftar dengan sorot mata tajam.


"Mas, aku ini hanya istri kontrakmu saja." Jawab Kinan dan memang kenyataannya seperti ini.


"Tetap saja, statusmu adalah istri Aftar Sanjaya." Tegas Aftar tanpa mau di bantah.


Kinan hanya menganggukkan kepalanya, rasanya jika terus di layani maka akan terjadi perdebatan hebat.


"Katakan, yang menelpon kamu laki-laki atau perempuan?" Aftar mengulangi pertanyaannya.


"Jujur atau bohong?" Tanya Kinan dengan tawa kecilnya.


"Kinanti Alisya, bicaralah yang jujur pada suamimu! Jika kamu sampai berbohong, maka aku akan marah padamu." Jawab Aftar yang diiringi dengan ancaman.


"Apa dia sedang mengancamku?" Gumam Kinan dalam hatinya.


Kinan melihat wajah Aftar. "Yang menelponku, seorang laki-laki," jawab Kinan ragu-ragu.


Seketika Aftar tampak kesal, dia tidak rela jika ada laki-laki lain yang menelpon istrinya.


"Kita pulang sekarang!" Ajak Aftar membuat Kinan menjadi bingung.


Akhirnya mereka langsung pulang ke rumah, di dalam perjalanan juga Aftar hanya diam dan fokus menyetir saja.


"Mas Aftar, ini kenapa?" Tanya Kinan pada hatinya.


...Sesampainya di rumah, Aftar turun lebih dulu dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam kamar tanpa menunggu Kinan, sungguh Aftar aneh sekali menurut Kinan....


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😘