Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Ciuman pertama


"Caca, apa kamu sebelumnya sudah pernah berciuman dengan seorang laki-laki?" Tanya Vino tiba-tiba, sungguh mulutnya ini tidak bisa di jaga sekali.


"Saya....." Caca ragu-ragu menjawab pertanyaan Vino.


"Saya apa? Laki-laki mana yang pernah mencium bibirmu itu?" Vino menatap dalam mata Caca.


Caca melirik Vino dengan malas, bisa-bisanya dia memotong perkataan dirinya.


"Kenapa harus memotong perkataanku sih? Dasar pacarku menyebalkan sekali sih," Caca mengerutu dalam hatinya.


"Laki-laki mana? Saya belum pernah berciuman sama sekali. Mantan saya ada beberapa dan mereka tampan tapi sayangnya kita lebih sering berhubungan jarak jauh," tutur Caca dengan tatapan begitu garang, seolah-olah menyalakan api perang.


Tiba-tiba Vino mengeluarkan tawanya, kini dirinya terlihat begitu bahagia dan tentunya sangat bersyukur karena Caca belum pernah berciuman dengan laki-laki lain.


"Berati aku yang pertama?" Tanya Vino sambil senyam-senyum.


"Haahh, kapan kita berciuman?" Tanya Caca dengan raut wajah terkejut.


Vino tersenyum mesum, lalu dia menaruh cangkir teh di atas meja dan dia mendekat kan duduk ke samping Caca. "Kamu, mau apa?" Tanya Caca dan dia langsung menjauh kan dirinya dari Vino, sekarang Caca sudah tidak memanggilnya Pak Vino melainkan aku dan kamu.


"Kamu tanya, kapan kita berciuman? Mari kita lakukan ciuman itu sekarang!" Vino semakin mendekatkan wajahnya, membuat Caca deg-deggan. "Apa yang mau kamu lakukan?" Lirih Caca, dia mencoba memalingkan wajahnya tapi Vino menahan wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa? Aku akan menikahimu, jadi kamu jangan kawatir aku akan meninggalkan kamu begitu saja." Kata Vino, bibirnya semakin dekat dengan bibir Caca.


Caca semakin deg-deggan darahnya mengalir begitu cepat detak jantungnya juga berdebar kencang. Entahlah Caca harus bagaimana? Sedangkan tangan Vino terus menahannya agar Caca tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tapi, aku ingin ciuman pertamaku hanya untuk suamiku." Lirih Caca, dengan raut wajah semakin tidak jelas.


"Maka akulah laki-laki yang akan menjadi suamimu!" Tegas Vino dan dia dengan lembut mendaratkan bibirnya tepat di bibir Caca.


Akhirnya Vino mencium bibir Caca, awalnya Caca agak memberontak tapi merasakan kelembutan ciuman Vino akhirnya Caca juga mulai mengimbangi ciuman kekasihnya itu.


Kini ciuman mereka semakin dalam dan mereka berdua juga saling menikmati ciuman mereka. Setelah beberapa lama Vino melepas kan ciumannya dengan pelan.


"Dasar, kamu sudah mengambil ciuman pertamaku." Omel Caca, bibirnya manyun tapi hatinya cukup senang.


"Seperti inikah rasanya ciuman." Gumam Caca dalam hatinya.


"Aku juga dengan ikhlas memberikan ciuman pertamaku buat kamu sayangku." Kata Vino sambil cengar-cengir.


"Apa, ini pertama kalinya kamu melakukan ciuman? Tapi aku rasa kamu sudah biasa melakukannya, buktinya kamu sangat lihai tadi waktu kita berciuman." Tanya Caca penuh selidik.


"Aku sering menonton film dewasa, lagian sebagai laki-laki dewasa dan sudah cukup umur trik-trik untuk membuat pasangan kita puas itu kita harus tahu," tutur Vino dengan penuh kemenangan.


"Apa, kamu pernah ciuman sama mantanmu sebelumnya?" Tanya Caca penuh selidik.


"Aku tidak pernah menciumnya, karena waktu itu aku Nayla masih terlalu kecil menurutku jadi biarpun kita pacaran kita tidak melakukan di luar batas, tapi kita sering bareng walaupun mencium aku hanya pernah mencium pipinya waktu itu aku saja sangat malu," kata Vino seketika Caca menatapnya dengan rasa cemburu.


Vino tersenyum simpul. "Tidak usah kawatir, dia sudah bahagia di surga." Jelas Vino dan Caca hanya mengangguk..


Seketika raut wajah Caca menjadi merah merona.


"Kenapa? Apa mau di lanjutkan?" Tanya Vino dengan jail. Vino tahu kali ini Caca pasti cemburu karena cerita masa lalunya.


"Sudah malam, sana kamu pulang!" Usir Caca dan Vino beranjak dari tempat duduknya.


"Aish, jika aku tidak pulang-pulang maka semuanya akan berlanjut di atas ranjang seperti di film-film drama yang aku tonton," Vino tertawa dalam hatinya.


Diam-diam Vino suka menonton film drama dan film dewasa yang membuat wawasan vino dalam bercinta itu besar.


Karena Caca sudah mengusirnya Vino akhirnya langsung pulang. Setelah Vino pulang Caca langsung masuk ke dalam kamarnya dan terus memegangi bibirnya yang beberapa menit yang lalu mendapatkan ciuman dari Vino.


****


Setelah beberapa lama, Vino akhirnya sampai di rumah. Kini dia sedang berada di dalam kamar miliknya yang cukup luas dan tentunya sangat nyaman untuk di huni.


Vino juga terus senyam-senyum sendirian, entahlah malam ini Vino begitu bahagia apalagi mendapatkan ciuman dari Caca.


Malam semakin larut, Vino menutup matanya lalu tertidur dengan pulas.


*****


Pagi menunjukkan pukul 7. Aftar masih tertidur di sofa, Kinan yang baru saja selesai mandi menatap wajah suaminya.


"Sudah jam 7, tapi kok Mas Aftar belum bangun?" Tanya Kinan pada dirinya sendiri.


Kinan melangkahkan kakinya menuju ke sofa lalu dengan lembut tangannya menyentuh pipi suaminya. "Mas, bangun! Kamu tidak kerja?" Tanya Kinan sambil menepuk-nepuk pipi suaminya.


Aftar bergulat lalu perlahan-lahan membuka matanya. "Sayang, jam berapa sekarang?" Tanya Aftar dengan suara masih mengantuk.


"Sudah jam 7, mas tidak berangkat ke kantor?" Jawab Kinan, dan dia hendak berlalu dari hadapan Aftar tapi dengan cepat Aftar menahan tangan istrinya. "Kamu mau kemana? Badan mas sakit semua gara-gara kamu menyuruh mas tidur di sofa," keluh Aftar dengan manja.


Kinan melirik Aftar dengan kesal, lagian siapa suruh membuat masalah?


"Mandilah, nanti malam kalau sudah pulang kerja aku pijitin." Kata Kinan dan dengan penuh semangat, Aftar beranjak dari sofa dan dia langsung pergi menuju ke kamar mandi.


Sambil menunggu suaminya mandi, Kinan meyiapkan baju untuk suaminya.


Setelah Aftar selesai mandi, Aftar bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Setelah siap Aftar langsung menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi bersama istri dan kakeknya.


"Sayang, pakaikan dasiku!" Pinta Aftar dengan manja.


Kinan tersenyum lalu memakaikan dasi suaminya. Sanjaya tersenyum karena pagi ini Aftar dan Kinan sudah terlihat bahagia tidak seperti kemarin-kemarin.


"Nah kalau seperti inikan, aku juga senang melihatnya." Batin Sanjaya dalam hatinya.


"Kinan, kakek berharap calon anak kalian mirip denganmu nak jangan seperti Aftar nanti dia sedingin es batu lagi," kata Sanjaya membuat Kinan tersenyum kecil, tapi Aftar menatap Sanjaya sambil memayunkan bibir.


"Kakek, mana bisa seperti itu? Itukan anak aku ya jadi harus mirip denganku!" Protes Aftar tidak mau tahu.


Sanjaya geleng-geleng kepala, sungguh jika cucunya mirip dengan Aftar pasti dia akan sedingin es batu.


Pagi ini mereka sarapan dengan bahagia, Kinan dan Aftar juga sudah baikan jadi mereka pagi ini sangat hangat.


Setelah selesai sarapan Aftar berpamitan berangkat ke kantor.


Sesampainya di kantor, Aftar melihat Vino sedang senyam-senyum sendiri.


"Vino kenapa?" Tanya Aftar sambil berjalan menuju ke tempat Vino sedang berdiri.


"Senyum-senyum terus, kering nanti giginya." Cetus Aftar, sambil geleng-geleng kepala.


"Pak Aftar," kata Vino tersenyum malu.


"Apa yang membuatmu senang? Sampai-sampai pagi-pagi seperti ini kamu sudah seperti orang tidak waras?" Tanya Aftar penuh selidik.


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 🤗