Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Telpon dari Karin


Sesampainya di kamar, Aftar membaringkan tubuhnya di atas kasur dan Kinan bingung haruskah dia tidur di sofa malam ini?


Kinan duduk di tepi ranjang karena dirinya tampak gerogi akhirnya Kinan hendak beranjak dari tempat duduknya. Tapi belum sempat beranjak dari tempat duduknya tiba-tiba tangan kekar Aftar sudah memegang tangan Kinan.


"Aku deg-deggan sekali, Kinan tenanglah!" Batin Kinan dalam hatinya.


"Mas, lepaskan tangan aku. Aku mau tidur," Kinan berusaha melepaskan tangannya dari tangan Aftar, tapi Aftar malah mempererat genggaman tangan.


"Aku juga mau tidur, kamu tidurlah di atas ranjang biar aku yang tidur di sofa!" Aftar melepas tangannya dari tangan Kinan, lalu dia langsung beranjak dari tempat tidur sambil mengambil bantal dan selimut untuk dia tidur di sofa.


Kinan diam-diam tersenyum, lalu dia melihat Aftar yang sedang berjalan menuju ke sofa yang ada di kamar hotel itu.


Setelah Aftar berbaring di atas sofa, Kinan juga langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur. Kinan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya agar tidak kedinginan lalu memejamkan matanya.


Diam-diam Aftar tersenyum sambil melihat Kinan yang sedang tidur.


"Kinan sudah tidur, saat dia tidur wajahnya begitu tenang. Tapi saat dia bangun wajahnya berubah menjadi gadis jutek." Gumam Aftar dalam hatinya.


Aftar merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya yang terus berbunyi.


"Aish siapa sih yang menelpon? Dasar menganggu saja!" Aftar mengomel-omel sendirian, sambil melihat di layar ponselnya siapa yang menelpon dirinya "Karin?" Aftar terkejut, karena Karin tiba-tiba menelpon dirinya.


Aftar menggeser tombol hijau yang ada di ponselnya, lalu menaruh ponselnya tepat di telinganya.


"Hallo sayang, apa kamu merindukanku?" Sapa Karin dengan nada lembut.


"Karin, ini sudah malam. Aku sangat mengantuk," Jawab Aftar, dia pura-pura menguap agar Karin percaya pada dirinya.


"Sayang, dulu kalau aku telpon kamu selalu bersemangat. Tapi malam ini kamu beda," Keluh Karin di sebrang sana.


"Itu hanya perasaanmu saja. Aku hanya sedang capek karena banyak pekerjaan akhir-akhir ini." Jelas Aftar berbohong pada Karin.


"Baiklah aku mengerti, sayang minggu ini aku pulang. Kamu jemput aku ya!" Kata Karin dengan begitu bahagia.


"Lihat nanti, tidurlah sekarang sudah malam!" Jawab Aftar yang langsung mematikan saluran teleponnya.


Karin


Karin agak kaget dengan sikap Aftar malam ini, karena tidak biasanya Aftar bersikap cuek dan acuh pada dirinya.


Biasanya kalau Karin menelpon, Aftar itu begitu bahagia bahkan Karin menelpon berjam-jam, bermanja-manjaan Aftar juga meladeninya dengan bahagia.


"Aftar kenapa? Tumben sekali, dia cuek padaku. Aku bilang merindukannya saja dia malah seperti tidak perduli." Kata Karin, raut wajahnya tampak sedih.


"Aftar, aku akan pulang aku akan menemuimu." Kata Karin, dia menepis semua pikiran buruknya tentang Aftar.


"Reza, jangan di gigit ih! Besok aku mau pulang, mau bertemu dengan kekasihku." Karin memayunkan bibirnya, karena Reza meninggalkan bekas merah di lehernya.


Karin melihatnya, karena Karin juga sedang duduk di kursi meja rias, jadi warna merah itu terlihat jelas di kaca meja rias itu.


"Karin, aku sangat merindukanmu. Biarkan saja kan kekasihmu itu tidak tahu, bilang saja pada dirinya kalau ini di gigit nyamuk!" Reza melanjutkan aksinya, bahkan tangannya sudah sudah menyusup masuk ke dalam baju Karin sambil mer*m*s-r*m*s g*n*ng k*mb*r milik Karin dengan kedua tangannya.


Karin mulai mengeluarkan d*sah*nnya, bahkan bibir Reza sedang asik menikmati bibir mungil Karin, Reza melepaskan ciuman bibirnya dari bibir Karin "Itukan, kamu itu pasti sudah tidak tahan. Ayo sayang malam ini puasin aku! Punyaku, sudah lama tidak di sentuh oleh kamu." Kata Reza dengan nada agak mendesah, Reza langsung membopong Karin ke atas ranjang tempat tidur.


"Kamu bohong, bukankah beberapa hari lalu aku sudah memberikan jatah buat kamu. Tapi nanti jangan lupa, kamu harus membantuku agar karir aku makin sukses!" Karin sudah ng*k*ng di depan Reza.


Reza adalah salah satu bos yang bisa menenarkan pendatang baru di kalangan model, artis dan penyanyi. Yang penting Reza bisa menikmati tubuhnya maka semuanya akan lancar tanpa kendala apapun.


"Sayang, hari itu masih kurang! Tenang saja aku juga selalu memakai peng*m*n biar kamu tidak sampai hamil." Jari Reza sudah sibuk di bawa sana, bahkan Karin gulang-guling karena merasa kelimpungan dengan jari Reza yang begitu nakal.


"Sayang, kamu ini memang nakal." Kata Karin sambil terus mengeluarkan d*s*han penuh kenikmatan.


"Kamu milikku Karin," Reza membuka handuknya dan ternyata s*nj*tanya sudah tegang.


Tanpa meminta persetujuan dari Karin, Reza langsung mengarahkan m*l*knya masuk ke dalam m*l*k Karin, tidak butuh waktu lama hanya sekali hentakan saja m*l*knya sudah masuk begitu dalam. Apalagi milik Karin sudah sering Reza pakai jadi tidak butuh waktu lama buat Reza, untuk memuaskan hasratnya.


Karin sengaja mengundang Reza ke dalam kamar hotelnya, karena Karin akan pulang untuk beberapa lama jadi Reza meminta jatah pada Karin sebelum Karin pulang dan bertemu dengan Aftar.


Aftar dan Kinan.


Aftar masih terus melihat ponselnya, dia membuka galeri fotonya. Dia melihat foto dirinya dan Karin tapi perasaan Aftar tidak sebahagia biasanya.


"Karin, kamu akan pulang pun aku tidak bahagia. Apalagi mengingat kamu selalu lebih mementingkan karirmu daripada aku," Aftar menghela nafasnya, lalu menaruh ponselnya di atas meja.


Kini Aftar mengalihkan pandangannya ke arah Kinan yang sudah tertidur dengan pulas.


"Kinan, maafkan aku gara-gara perjanjian pernikahan kontrak kita, kamu jadi susah." Aftar terus menatap Kinan, dia bangun dari tidurnya lalu beranjak dari sofa, rasanya ingin sekali tidur di samping Kinan sambil memeluknya tapi Aftar tidak melakukan itu, karena takut Kinan akan marah pada dirinya.


Aftar merasa gelisah, dia menyadarkan kepalanya di sofa.


"Vino pernah bilang, kalau Karin sudah bahagia dengan laki-laki lain. Apa mungkin Karin punya laki-laki lain di belakangku? Aku yakin, Karin tidak seperti itu." Batin Aftar dalam hatinya.


Malam yang semakin larut, pikiran Aftar semakin kacau di satu sisi Aftar memikirkan Karin, di sisi lain Aftar mengingat perkataan Vino waktu itu dan di sisi lainnya Aftar bahagia karena Kinan ada di sisinya saat ini.


BERSAMBUNG ๐Ÿ˜Š


Terimakasih para pembaca setia๐Ÿ™