
Malam menunjukkan pukul 7 malam, sepertinya malam biasanya Aftar baru selesai dengan kerjaan kantornya.
Aftar keluar dari dalam ruangannya, dia melihat Vino mondar-mandir tidak jelas di depan ruangan kerjanya.
"Kenapa, Vino mondar-mandir tidak jelas?"
"Jangan-jangan dia mulai gila gara-gara Caca lagi."
"Dasar bodoh, orang mau ngelamar saja pakai mikir segala. Tapi aku kan juga dulu tidak melamar Kinan, apalagi pernikahanku dulu di atas kertas."
Aftar cengar - cengir sambil berjalan menghampiri Vino.
"Berhentilah mondar-mandir! Aku pusing melihatnya," celetuk Aftar yang sudah berdiri di belakang Vino.
"Pasti Pak Aftar mau meledekku lagi," batin Vino dalam hatinya.
"Saya lebih pusing pak, karena bapak menyuruhku menikah tapi bapak tidak memberikan cara buat melamar Caca," jawab Vino senyumnya begitu malas.
"Mana ada, mau melamar saja harus aku ajarin? Aku saja tidak pernah melamar Kinan sebelum," batin Aftar dalam hatinya.
"Dasar bocah, bisanya pacaran doang." Omel Aftar, tapi Vino malah tertawa kecil.
"Apa aku harus seperti bapak, memulai semuanya dengan perjanjian kontrak?" Vino tersenyum meledek.
Rasanya ingin sekali Aftar menjitak kepala Vino, tapi Aftar tidak melakukannya.
"Kita pikirkan masalah Caca besok, sekarang aku mau tanya. Kamu sudah menemukan informasi tentang ibunya Kinan?" Aftar menatap Vino dengan tatapan serius.
"Masih dalam penyelidikan pak, buat informasi pastinya akan saya sampaikan secepatnya." Jawab Vino dengan tegas.
Mungkin dalam hal wanita mereka masih bisa saling bercanda, tapi dalam hal penting seperti ini mereka akan bersikap fropesional antara atasan dan bawahan.
"Baiklah, segera laporkan padaku!" Pinta Aftar dan Vino menganggukkan kepalanya. "Siap pak," jawabnya dengan tegas.
"Sudah malam kamu pulanglah! Atau kamu akan gila karena terus mondar-mandir tidak jelas," kata Aftar sambil menepuk bahu kekar Vino.
Terdengar suara langkah kaki dan ternyata itu Caca yang baru selesai dengan pekerjaannya.
"Sayang, kamu sudah selesai?" Tanya Vino agak gugup.
"Sudah, Pak Aftar juga masih disini." Jawab Caca mengangguk sopan.
"Aku mau pulang Ca, aku tidak mau ikut-ikutan Vino yang sudah gila gara-gara kamu," lagi-lagi Aftar tersenyum jail sambil berlalu pergi dari hadapan Caca dan Aftar.
Setelah Aftar pergi, Caca menatap Vino dengan tatapan bingung. Dia berpikir kenapa Vino gila gara-gara dirinya?
Tiba-tiba dengan lembut Caca menyentuh jidat Vino. "Tidak panas, apa kamu salah minum obat sayang?" Tanya Caca yang terlihat kawatir.
Vino mendengus kesal sambil menyingkirkan tangan Caca dari jidatnya. "Sudah jangan dengan Pak Aftar, dia memang gila setelah menikah dengan Nona Kinan." Vino tersenyum masam. Sungguh bosnya ini tidak berhenti meledeknya.
"Baiklah, ayo pulang!" Ajak Caca yang langsung menarik tangan Vino.
Kini mereka langsung menuju ke parkiran mobil, sesampainya di parkiran mobil Vino dan Caca langsung masuk ke dalam mobil dan Vino langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Caca.
Di dalam mobil Vino tampak gelisah, iya biarpun Vino pandai dalam seperti s*x tapi Vino kurang pandai dalam masalah percintaan dia sendiri.
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Caca tatapannya penuh dengan tanda tanya? Apalagi melihat Vino terlihat gelisah dari tadi.
"Emm tidak apa-apa, boleh aku bertanya sesuatu?" Vino mengumpulkan keberanian untuk bertanya pada sang kekasih.
"Boleh, tanyakan saja!" Jawab Caca expresinya terlihat begitu adem.
"Kira-kira kamu sudah siap menikah belum?" Tanya Vino dengan ragu-ragu.
Caca terdiam, bola matanya berputar pertanyaan Vino ngena banget di hatinya.
"Aku harus jawab apa?" Tanya Caca dalam hatinya.
"Caca, kenapa kamu diam saja?" Tanya Vino dengan nada lembut.
"Aku siap pak, tapi....." Jawab Caca menghentikan kata-katanya.
Caca menunduk dia tidak punya keberanian untuk menatap atau sekedar melirik Vino yang sedang menyetir, haruskah dia mengatakan apa yang dia pikirkan pada lelaki yang telah menjadi kekasihnya ini?
"Tapi apa?" Vino menepikan mobilnya di depan rumah Caca.
"Aku takut saat malam pertama nanti," jawab Caca menunduk malu-malu.
Vino yang tadi sudah sangat gelisah, bahkan harus mengumpulkan keberanian begitu banyak untuk menanyakan pernikahan pada Caca, rasanya kali ini dia ingin tertawa tapi dia menahannya.
"Itu nanti aku yang urus, urusan ranjang kamu cukup di bawah saja! Nanti Mas Vino yang yang di atas," tutur Vino membuat pipi Caca menjadi merah seperti kepiting rebus.
"Bayangkan saja, Caca jangan di bayangkan!" Gumam Caca dalam hatinya.
"Tunggu, biar aku saja yang membukakan pintu mobilnya!" Vino menarik tangan Caca, tapi Caca malah menggelengkan kepalanya dan buru-buru keluar dari dalam mobil Vino.
Caca sudah turun dan dia kembali menutup pintu mobil Vino. "Aku masuk dulu, kamu hati-hati di jalan!" Kata Caca dan berlalu masuk ke dalam rumahnya.
Vino terdiam sejenak melihat Caca masuk sampai ke dalam rumahnya, setelah Caca sudah tidak terlihat Vino melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
****
Malam semakin larut, Vira terlihat gelisah bahkan dari tadi terus memegangi perutnya yang tiba-tiba suka sakit mendadak.
"Sayang, berbaringlah biar mas usap-usap perutnya!" Kata Arga yang baru saja selesai dengan pekerjaannya.
Vira menuruti apa kata suaminya, kini dia berbaring di atas tempat tidur.
"Mas, sekali aku merasakan mules. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?" Tanya Vira.
Arga terdiam sejenak, mengingat kelahiran anaknya masih 2 mingguan lagi menurut prediksi dokter.
"Sudah malam sayang, besok saja kita ke rumah sakitnya." Arga mengelus-elus perut Vira yang sudah terlihat besar.
"Nak di dalam sana jangan rewel ya kasian mama dari tadi tidak bisa tidur, karena kamu terus menendang-nendang perut mama." Tutur Arga, hatinya begitu bahagia dan tidak sabar menanti kelahiran anak pertamanya.
Vira tersenyum mengingat Arga dulu begitu dingin dan sekarang Arga menjadi laki-laki yang begitu perhatian dan sangat menyayangi Vira dengan tulus.
"Mas, anak kamu langsung anteng. Mungkin dia pingin di manja sama papanya," kata Vira sambil tersenyum.
"Mungkin sayang, baiklah kamu tidur! Aku akan mengajak anak kita mengobrol." Arga melihat Vira lalu tersenyum.
"Dia adalah wanita yang dulu selalu aku bentak-bentak, aku marah-marahin tapi sekarang dia begitu sabar mengandung anak aku di dalam perutnya. Terimakasih istriku kamu adalah wanita hebat," batin Arga dalam hatinya.
Vira akhirnya lelap tertidur dan Arga masih sibuk mengajak anak yang masih di dalam perut Vira itu mengobrol.
*****
Malam semakin larut, tapi Aftar masih sibuk dengan laptopnya. Kinan yang dari tadi sudah berbaring di atas tempat tidur dia tampak kesal karena suaminya terus sibuk dengan pekerjaannya.
"Di kantor kerja, sekarang di rumah saja masih sibuknya kerja." Kinan terus menggerutu, rasanya tidak sabar pingin di manja sama suaminya.
Kinan beranjak dari tempat tidurnya, dia berjalan menghampiri suaminya di kursi kerjanya.
"Mas, masih lama? Aku merindukanmu," Kinan berglendotan manja.
Aftar menghentikan aktivitasnya, lalu dia menoleh ke arah Kinan. Tangan kekarnya menarik tangan Kinan hingga Kinan terjatuh tepat di pangkuannya.
Kinan tersenyum lalu mengalungkan tangannya ke leher Aftar dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Aftar mencium kening Kinan dengan lembut, lalu mengusap rambut panjang istrinya dengan penuh cinta.
"Sayang, mas selesaikan kerajaan mas dulu." Kata Aftar dengan nada lembut, tapi tangan Kinan malah mengusap-usap pipi Aftar dengan manja.
"Mas, kerjanya besok lagi! Kinan pingin di manja sama mas," rayu Kinan dengan manja.
Aftar hanya diam sambil tersenyum, dasar istrinya ini sekarang sudah pandai merayu padahal dulu Kinan sepolos toples.
"Sayang..." belum selesai perkataannya, jari telunjuk Kinan sudah membungkam mulut Aftar.
"Mas, kamu tahu sebentar lagi aku akan melahirkan dan katanya kalau habis melahirkan itu tidak boleh berhubungan dengan suaminya selama 40 hari. Apa mas akan kuat menahannya jika adik kecil mas meronta-ronta manja?" Goda Kinan, sungguh malam ini Kinan begitu nakal.
"Sungguh?!" Aftar terkejut, dia tidak paham dalam hal itu.
"Sungguh, baca saja di internet!" Kinan meyakinkan.
"Sayang...."
"Hush, mas ayo Kinan pingin di manja!" Kinan merengek manja, jari telunjuknya juga sudah kembali membungkam mulut suaminya.
"Baiklah, ayo......!" Aftar membopong Kinan ke ranjang tempat tidur.
"Kamu siap??" Aftar menatap Kinan dengan tatapan lekat.
Kinan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum genit. "Siap mas," jawab Kinan dengan nada lembut.
Aftar memulai aksinya dengan begitu hebat, tapi karena istrinya sedang hamil Aftar melakukan dengan pelan dan begitu lembut.
Kini pergulatan demi pergulatan di lakukan oleh mereka, desahan dan erangan penuh kenikmatan juga dirasakan oleh keduanya.
Malam yang dingin menjadi pelengkap dalam mereka saling memberikan kehangatan malam ini.
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😘