
...Sesampainya di rumah, Aftar turun lebih dulu dari dalam mobil dan langsung masuk ke dalam kamar tanpa menunggu Kinan, sungguh Aftar aneh sekali menurut Kinan....
Sanjaya yang sedang duduk tampak bingung karena melihat Aftar menyelonong saja tanpa menyapanya.
"Ada apa dengan Aftar? Apa dia sedang bertengkar dengan Kinan?" Tanya Sanjaya pada dirinya sendiri.
Sanjaya melihat Kinan, lalu dia memanggilnya." Kinan, kemarinlah nak!" Pinta Sanjaya dengan nada lembut.
Kinan menghampiri Sanjaya, lalu duduk di sebelahnya. "Ada apa kek?" Tanya Kinan dengan nada lembut.
"Apa, kamu sedang bertengkar dengan suamimu?" Tanya Sanjaya penasaran, tapi Sanjaya juga merasa kawatir.
"Tidak kek, tadi Mas Aftar buru-buru masuk ke dalam kamar karena mau ke kamar mandi." Jawab Kinan berbohong, Kinan juga tidak tahu suami kontraknya itu kenapa?
Sanjaya tersenyum, rasanya sangat lega karena cucu dan cucu menantunya itu ternyata tidak bertengkar.
"Kakek, Kinan ke kamar dulu ya." Pamit Kinan dan dia beranjak dari tempat duduknya lalu menuju ke kamar menyusul suaminya.
"Mas Aftar ini kenapa? Tiba-tiba tidak jelas seperti ini." Tanya Kinan pada hatinya.
Sesampainya di kamar, Kinan melihat Aftar hanya berbaring di atas tempat tidur bahkan Aftar masih memakai sepatunya dan jasnya juga belum di lepas.
Melihat Kinan datang Aftar langsung membuang muka, membuat Kinan semakin bingung?
"Kamu kenapa mas? Mandilah, kok malah tidur." Tanya Kinan tapi Aftar hanya diam saja dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Aftar melewati Kinan begitu saja, belum sempat Kinan bertanya. Aftar sudah membanting pintu kamar mandi dengan sangat keras membuat Kinan kaget.
"Dasar aneh, jangan-jangan dia kesambet setan di danau tadi." Kinan tertawa dalam hatinya.
"Kinannnn...." Teriak Aftar dari dalam kamar mandi.
"Kenapa mas?" Jawab Kinan.
"Ambilkan handuk! Aku lupa membawa handuk tadi," Kata Aftar dalam dari dalam kamar mandi sana.
Dalam hati Kinan, aku kira kamu bakal diam saja sampai matahari terbit, ternyata tidak makanya jangan manyun mulu jadi lupakan bawa handuk ke dalam kamar mandi.
"Mas, ini handuknya!" Kinan mengetuk pintu kamar mandi dan Aftar mengumpat di belakang kamar mandi lalu dia membuka sedikit pintu kamar mandinya.
"Jangan mengintip, aku tidak pakai baju!" Aftar menerima uluran handuk dari Kinan.
"Siapa juga yang mau mengintip, dasar manusia es." Gumam Kinan yang ternyata di dengar oleh Aftar.
"Kinan, biarpun aku manusia es ingat ya aku ini suamimu!" Cetus Aftar tiba-tiba.
"Dasar istri macam apa yang mengatai suaminya seperti itu." Batin Aftar dalam hatinya.
"Suami kontrak." Kinan tertawa.
"Yang penting sah, biarpun aku menikahimu secara kontrak tapi aku menikahimu secara sah." Jawab Aftar mempertegas perkataannya.
Bagi Aftar, dirinya menikahi Kinan secara sah dan kontrak yang dia buat menurutnya bisa dia robek kapan saja jika dirinya mau.
"Tapi...." Kata-kata Kinan terhenti.
"Tapi apa? Kenyataannya kamu memang istriku Kinanti Alisya dan aku ini suamimu." Sambung Aftar, sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Sudahlah Kinan percuma kamu berdebat denganku, kamu pasti akan kalah." Batin Aftar dalam hatinya.
"Terserah mas saja!" Kinan mengalah karena males meneruskan perdebatannya dengan Aftar.
"Oh iya, aku tadi transfer 100 juta ke no rekening kamu. Itu jatah bulanan kamu, jangan anggap itu bayaran kontrak anggap saja itu nafkah dariku sebagai suamimu!" Kata Aftar dari dalam kamar mandi.
"Iya mas, terimakasih." Jawab Kinan dengan nada lembut.
"Uang sebanyak itu mau buat apa?" Pikir Kinan dalam hatinya.
Aftar melanjutkan mandinya sedangkan Kinan Duduk di kursi meja rias sambil bengong.
Di rumah Arga dan Vira.
Semakin hari, hubungan mereka juga semakin dekat dan Arga juga akhir-akhir ini juga terus memperhatikan Vira.
"Vira, sudah jangan menyiram tanaman terus temani aku minum kopi!" Pinta Arga dan Vira mematikan selang airnya, lalu duduk menemani suaminya minum kopi.
Kini mereka duduk berdua, Vira tersenyum pada Arga. "Haruskah, aku menemanimu minum kopi?" Tanya Vira dengan nada lembut.
"Sebagai suami istri tidak salahkan jika minum kopi berdua?" Arga balik bertanya.
"Apa jangan-jangan, kamu sudah mulai menyukaiku atau mencintaiku?" Tanya Vira dengan tawa meledek.
"Berhentilah bicara omong kosong, lagian mana mungkin aku jatuh cinta padamu." Elak Arga, tapi matanya berkata lain.
"Baiklah, maka aku masuk dulu karena Farel pasti sebentar lagi akan menelponku." Vira beranjak dari tempat duduknya, tapi tiba-tiba Arga menarik tangannya. "Kenapa?" Tanya Vira yang sebenarnya ingin tertawa.
"Arga mengaku saja kalau kamu itu cemburu." Batin Vira dalam hatinya.
"Bukankah aku melarangmu berhubungan dengan laki-laki lain, termasuk telpon-telponan dengan laki-laki lain." Tegas Arga dengan lirikan mata seolah-olah menyuruh Vira duduk kembali.
"Apa, kamu sedang cemburu?" Goda Vira dengan begitu jail.
"Cemburu apanya," jawab Arga yang seketika tampak gugup.
"Jujur saja, kamu cemburukan." Vira kembali meledek Arga. Berharap Arga akan mengakui rasa cemburunya pada Farel.
Arga menatap Vira dengan tatapan lekat, kini mata mereka saling menatap. Vira bisa melihat kalau Arga itu cemburu, tapi Arga terus mengelak dan tidak mau mengakuinya.
Tiba-tiba Arga mendekatkan wajahnya dan tangannya menarik tekuk leher Vira, "Kamu, mau apa?" Tanya Vira dengan raut wajah gugup.
Arga mendekatkan bibirnya ke bibir Vira. "Aku mau menciummu, agar kamu tidak bandel lagi." Arga semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Vira.
Vira terdiam bahkan saat ini dia bisa merasakan hembusan nafas Arga dengan begitu dekat.
"Arga, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sungguh mau menciumku?" Tanya Vira pada hatinya.
"Tapi..." Vira memundurkan wajahnya dengan pelan.
"Tapi apa? Aku ini suamimu, tidak salahkan jika aku mencium istriku sendiri?" Arga terus mendekatkan wajahnya ke wajah Vira.
Detak jantung Vira begitu kencang Arga juga bisa merasakannya. "Sayang, aku rasa kamu harus memeriksakan jantung kamu ke Dokter!" Canda Arga dengan begitu jail.
"Maksud kamu?" Tanya Vira gugup.
"Vira tenanglah, jantungku berhentilah berdetak." Batin Vira dalam hatinya.
"Aku bisa merasakan detak jantungmu, sayang." Bisik Arga di telinga Vira sambil meniup telinga Vira.
"Minggir, aku mau ke kamar!" Pinta Vira yang semakin merasakan deg-deggan.
"Kita ke kamar berdua ya! Bukankah kita sudah suami istri?" Arga semakin jail, membuat Vira semakin deg-deggan.
Vira terdiam, Arga kembali memposisikan bibirnya menghadap bibir Vira. Tangannya mengusap bibir Vira dengan manja.
"Boleh, aku menikmatinya istriku?" Tanya Arga tiba-tiba, membuat Vira terkejut.
"Apa Arga mau melakukan tugasnya sebagai seorang suami?" Tanya Vira pada hatinya.
Vira terdiam dan bibir Arga hampir saja mencium bibir Vira, tapi tiba-tiba Vira menahan bibir Arga dengan jari telunjuknya.
"Kenapa, apa kamu menolakku?" Tanya Arga raut wajah tampak kesal.
"Sebelum kita melakukan lebih lanjut, aku mau bertanya padamu apa kamu masih mencintai mantanmu yang bernama Kinan?" Tanya Vira dengan tegas, Vira juga tidak mau di apa-apain sama Arga kalau Arga masih mencintai Kinan.
"Akuuu....."
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😘