
"Apa kamu menyukai, salah satu di antara mereka?" Tanya Caca dan Vino dengan kompak dan tatapan mata mereka juga begitu tajam.
"Mama, papa......" Melly menghela nafas panjang, menurutnya siapa yang dia suka? Kenzo sedingin es batu, Kalandra sangat baik dan begitu manis tapi sayangnya dia jauh lebih muda dari Melly.
"Sayang, kamu sudah tidak muda lagi. Kamu sudah cukup umur untuk menikah," kata Caca. Hatinya sangat berharap jika Melly sudah mau menikah.
Melly sudah biasa di desak untuk menikah oleh papanya dan mamanya, bahkan dia kadang merasa sangat kesal. Tapi mau bagaimana lagi? Mungkin, karena dia sudah tidak muda lagi jadi menikah sekarang adalah tuntutan dari kedua orang tuanya.
"Mama, papa, Melly pasti akan menikah. Tapi kalau buat memilih di antara Kak Kenzo dan Kalandra, itu terlalu pusing. Biarkan, Melly cari jawabannya dulu!" Kata Melly, dia beranjak dari meja makan dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Caca dan Vino sama-sama menghela nafas panjang, padahal menurut Caca dan Vino. Melly itu akan serasi dengan salah satu di antara mereka, hanya saja Melly yang selalu tidak mau dengan mereka untuk saat ini.
*****
Kenzo sedang duduk di tepi ranjang, Kinan mengetuk pintu kamar Kenzo.
"Tok...tok...tok.... Ken, kamu sudah tidur nak?" Tanya Kinan sambil mengetuk pintu kamar Kenzo.
"Belum ma, masuk saja ma!" Sahut Kenzo dari dalam kamar.
Kinan membuka pintu kamarnya, lalu dia melangkahkan kakinya masuk ke kamar Kenzo. Kenzo agak terkejut, karena tidak biasanya sang mama ke kamarnya malam-malam seperti ini. Tentu saja pikiran Kenzo sudah kemana-mana?
"Mama, ada apa?" Tanya Kenzo, sambil melihat sang mama yang sudah duduk di hadapannya.
Kinan menatap Kenzo dengan tatapan lembut, membuat Kenzo semakin bingung, ada apa dengan mama?
"Mama, apa ada masalah?" Kenzo terlihat kawatir, takut mamanya kenapa-kenapa.
"Nak, kapan kamu menikah?" Tanya Kinan dengan nada lembut, tatapan matanya begitu penuh harap.
Kenzo menghela nafas panjang, kini dia menatap sang mama dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Mama, Kenzo akan menikah tapi tidak sekarang. Lagian Ken juga belum punya kekasih ma," jawab Kenzo. Dia tahu kalau mama dan papanya sangat ingin dirinya menikah.
Kinan terlihat kecewa dengan jawaban anaknya, lagi-lagi jawaban yang sama keluar dari mulut Kenzo.
"Ken, kamu kan sangat dekat dengan Melly, kenapa kamu tidak menikah dengan dia saja?" Tutur Kinan pada Kenzo.
Kenzo hanya tersenyum dengan senyum yang sulit di artikan oleh Kinan.
"Mama, untuk saat ini Ken belum siap menikah." Jawab Kenzo dengan nada lembut.
"Mama, selalu saja menyuruhku untuk menikah padahal Ken saja belum siap untuk menikah," batin Kenzo dalam hatinya.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya, dia menatap Ken lalu dia hanya tersenyum penuh harap.
Setelah mamanya keluar dari dalam kamarnya, Kenzo membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia menatap lampu depan lekat, hatinya terasa bingung memikirkan perkataan sang mama yang ingin sekali dirinya menikah.
"Mama, Ken pasti akan menikah tapi tidak untuk sekarang."
"Kalau untuk masalah Melly, Ken juga tidak tahu seperti apa, perasaan Ken pada Melly?"
Kenzo mulai memejamkan matanya dengan perasaan yang malam ini begitu sulit di artikan.
Kinan duduk di tepi ranjang, Aftar melihat istrinya duduk dia bangun dari tidurnya lalu duduk.
"Kenapa ma?" Tanya Aftar, dia tahu pasti istrinya sedang kepikiran sesuatu.
"Ken, disuruh menikah. Tapi jawabannya selalu sama pa." Jawab Kinan, Aftar hanya bisa diam dan memeluk istrinya.
"Ma, Ken sudah besar dia bukan anak kecil lagi. Jadi biarkan dia menentukan kehidupan dia sendiri ya ma!" Tutur Aftar disela-sela pelukannya.
Kinan mengangguk pelan, rasanya ingin sekali segera punya menantu. Apalagi dirinya sudah tidak muda lagi.
Tiba-tiba ada mengetuk pintu dengan begitu kasar di kamar Kinan dan Aftar.
"Nyonya.... bapak.....tok,tok,tok....!?!" suara gedoran pintu terdengar begitu keras, Aftar dan Kinan kaget.
Mereka buru-buru beranjak dari tempat tidur, lalu mereka sama-sama membukakan pintu kamarnya.
"Nyonya...bapak," Bi Ijah menangis membuat Kinan dan Aftar sama-sama menatapnya dengan tatapan bingung.
"Ada apa bi?" Tanya Kinan dan Aftar secara bersamaan.
Bi Ijah masih menangis, membuat Aftar dan Kinan semakin bingung.
"Katakan ada apa bi!" Kata Kinan dan Aftar secara bersamaan.
"Pak Sanjaya, beliau....." Bi Ijah menangis, dia tidak sanggup lagi melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa bi, dengan kakek?" Tanya Kinan dan Aftar.
Akhirnya Bi Ijah langsung mengajak Kinan dan Aftar ke kamar Sanjaya.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 🤗