
"Apa kamu....?" Vira tersenyum, tapi dia juga ragu melanjutkan perkataannya.
"Apa?" Arga melihat Vira.
"Apa, kamu cemburu?" Tanya Vira dengan nada ragu-ragu.
"Haah cemburu! Tentu saja itu tidak mungkin. Kamu itu harus tahu, kamu adalah seorang wanita yang sudah bersuami jadi kamu harus jaga sikapmu dan tentunya kamu tidak boleh berhubungan dengan laki-laki lain." Elak Arga, dia mengalihkan pandangannya.
Vira hanya diam-diam tersenyum.
"Kamu bilang tidak cemburu, tapi mata kamu menunjukkan kalau kamu itu cemburu." Batin Vira dalam hatinya.
"Aku tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain manapun." Jawab Vira dengan santai.
Mendengar jawaban Vira seketika senyum simpul kecil menghiasi bibir Arga. Vira melihat itu tapi lagi-lagi Arga melihat Vira dengan tatapan begitu dingin dan matanya terus menatap lekat mata Vira.
"Lalu Rasyah, itu siapa?" Tanya Arga pura-pura cuek.
"Rasyah adalah laki-laki yang aku cintai selama ini. Bahkan dia sudah menjadi bagian dalam hidupku," Jawab Vira sambil tersenyum.
Seketika sorot mata Arga berubah dan menjadi begitu garang. Sungguh mendengar jawaban Vira rasanya hatinya tidak bisa menerimanya sama sekali.
"Katanya tidak menjalin hubungan dengan laki-laki lain manapun, tapi ini di depan suami sendiri mengatakan kalau Rasyah adalah laki-laki yang kamu cintai," Arga menggelengang kepalanya, sorot matanya di penuhi dengan amarah.
"Aku memang menjalin hubungan dengan dia, tapi itu dulu waktu dia masih ada di dunia ini. Sekarang dia sudah pergi untuk selamanya." Jelas Vira, Vira tahu kalau diam-diam Arga terlihat cemburu.
"Pergi selamanya?" Arga tampak bingung.
"Iya, dia sudah meninggal dan kenapa aku selalu mengingatnya karena cinta dan perhatian dia yang begitu besar padaku." Jelas Vira, matanya tampak berkaca-kaca dan hampir saja menetes keluar tapi Arga melihatnya dan langsung membawa Vira masuk ke dalam pelukannya.
Tanpa Vira sadari air matanya keluar begitu saja, sampai membasahi kemeja yang Arga pakai. Arga terus memeluk Vira dengan erat sambil mengusap-usap punggung Vira.
"Maaf, aku membuatmu sedih. Aku tidak tahu kalau Rasyah itu sudah tidak ada, aku kira kamu diam-diam menjalin hubungan dengan laki-laki lain di belakangku." Arga terus berusaha menenangkan Vira dari tangisnya.
"Lagian kalau aku menjalin hubungan dengan laki-laki kenapa? Bukankah, kamu juga tidak menginginkan pernikahan ini?" Tanya Vira di sela-sela pelukan Arga.
Arga melepaskan Vira dari pelukannya, dia agak kesal mendengar apa yang dikatakan oleh Vira. Ntahlah kenapa? Dia begitu kesal dan sepertinya amarahnya sudah menguasai hati dan perasaannya.
"Kamu istirahatlah! Aku mau keluar sebentar," Kata Arga karena tidak mau sampai meluapkan amarahnya pada Vira.
"Apa, kamu mau pergi ke bar?" Tanya Vira, tangannya sudah menarik tangan Arga agar Arga tidak keluar dari kamar.
"Tidak, aku hanya duduk di depan. Kamu istirahat saja biar cepat sehat, kalau kamu mau apa-apa panggil aku saja!" Arga melepaskan tangan Vira dari tangannya.
Vira membenarkan posisinya, lalu sebelum pergi Arga menyelimuti Vira dan yang membuat Vira terkejut Arga mencium kening Vira dengan hangat. Setelah menyelimuti tubuh istrinya dan memberikan ciuman hangat di keningnya, Arga buru-buru keluar dari dalam kamar untuk menutupi rasa gugupnya saat ini.
"Arga, apa kamu ini b*doh? Apa yang kamu lakukan pada Vira?" Batin Arga dalam hatinya.
Vira memejamkan matanya dengan rasa bahagia dalam hatinya.
"Vira, kamu tidak boleh tertarik dengan Arga. Aku yakin dia hanya mempermainkanmu saja." Hati Vira berbicara.
"Iya, aku harus hati-hati apalagi Arga kan tidak menginginkan pernikahan ini sama sekali." Kata Vira dan langsung memejamkan matanya.
Arga sedang duduk di teras depan rumah, kini dia melawan hati dan pikirannya yang saat ini sedang tidak jelas.
Aftar dan Kinan.
"Apa, mata-mata kakek masih ada?" Tanya Kinan sambil melihat Aftar.
"Mata-mata kakek ada dimana-mana, jadi kita harus tetap hati-hati dan terus tunjukkan kemesraan kita!" Jawab Aftar sambil menyadarkan kepalanya di bahu Kinan.
"Mata-mata kakek sudah tidak ada, tapi apa salahnya kalau aku memanfaatkan kesempatan untuk bisa dekat-dekat dengan Kinan." Aftar tertawa dalam hatinya.
"Sampai kapan?" Tanya Kinan dengan begitu polosnya.
"Sampai para penguntit itu pulang." Aftar membenarkan posisi duduknya, tiba-tiba dia tersenyum melihat Kinan.
Tatapan Kinan tampak bingung "Kenapa?" Tanya Kinan pada Aftar.
Aftar tiba-tiba mengarahkan tangannya ke sudut bibir Kinan "Kamu itu, makan es krim belepotan seperti anak kecil." Aftar membersihkan bagian bibir Kinan yang terkena es krim.
Kinan tersenyum malu-malu membuat dirinya menjadi salah tingkah.
"Aku bisa sendiri, mas." Kinan mengarahkan tangannya ke sudut bibirnya, tapi malah Aftar memegang tangan Kinan dengan erat "Biar mas saja!" Jawab Aftar dengan nada lembut.
Dalam hati Kinan, ingat Kinan ini semua hanya sebuah akting jadi jangan berpikir macam-macam! Ingat, Aftar itu ada wanita yang dia cintai yang selama ini dia tunggu dan kamu hanya gadis yang di nikahi secara kontrak saja, jadi jangan sampai terbawa perasaan.
Tatapan mata Aftar begitu dalam membuat Kinan sangat gerogi. Aftar semakin mendekat kan tatapan matanya dan tangannya memegang bibir Kinan.
"Ingin sekali, aku menikmati bibir mungil miliknya." Batin Aftar dalam hatinya.
"Maaf mas," Lirih Kinan dan Aftar buru-buru mengalihkan pandangannya dan melepaskan tangannya dari bibir Kinan.
"Sudah agak malam, ayo kita pulang ke hotel disini juga sangat dingin!" Aftar berdiri lalu dia mengulurkan tangannya dan Kinan menerima uluran tangan Aftar.
Kini keduanya saling bergandengan tangan menuju ke hotel.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Kinan dengan begitu hati-hati.
"Kapan wanita yang mas cintai itu akan pulang?" Tanya Kinan sungguh dia mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal ini pada Aftar.
"Ntahlah, dia lebih cinta dengan karir dia, dia tidak pernah punya waktu untuk aku, yang dia pikirkan hanya karir dan karir saja." Jawab Aftar sambil mendengus pelan.
Kinan menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. Seketika suasana tiba-tiba terasa begitu hening, Kinan juga tidak mau bicara lagi takut salah.
"Kinan..." Aftar memecah keheningan yang ada saat ini.
"Iya mas?" Jawab Kinan singkat.
"Apa, Arga masih mengganggumu?" Tanya Aftar, sorot matanya begitu penuh arti.
"Tidak, memangnya kenapa?" Tanya Kinan.
"Tidak apa-apa, katakan padaku jika dia mengganggumu lagi!" Tegas Aftar dengan tatapan tidak mau di bantah.
Kinan hanya tersenyum, tapi Aftar terus menatap Kinan penuh arti.
Sesampainya di kamar, Aftar membaringkan tubuhnya di atas kasur dan Kinan bingung haruskah dia tidur di sofa malam ini?
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🙏