Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Nanti kamu jatuh cinta


Beberapa hari kemudian, Kinan dan Aftar sudah pulang ke rumah Sanjaya. Setelah menikah Sanjaya memang melarang Aftar untuk mencari tempat tinggal sendiri karena Sanjaya ingin Aftar dan Kinan bisa menemani dirinya di masa tuanya saat ini.


Melihat cucu dan cucu menantunya pulang, Sanjaya tampak bahagia bahkan dia langsung memeluk Kinan seperti cucu sendiri.


"Cucu kakek, ayo nak kita makan! Pasti kamu sangat lapar, karena perjalanan jauh." Sanjaya melepaskan Kinan dari pelukannya, lalu dia mengandeng tangan Kinan menuju rumah makan.


Aftar menghela nafasnya dengan kesal, semenjak kedatangan Kinan dirinya selalu di no duakan oleh kakeknya.


"Kakek sekarang lebih sayang sama Kinan, sungguh ini tidak adil." Batin Aftar dalam hatinya.


Aftar mengikuti langkah kaki kakeknya dan istrinya sambil membawa dua koper satu miliknya dan satu lagi milik istrinya.


"Bibi, tolong koper-koper ini di taruh di kamarku ya!" Suruh Aftar pada salah satu Art nya dengan begitu sopan.


Bibi Ijah, langsung mengambil alih koper yang ada di tangannya Aftar. Lalu langsung membawanya masuk ke dalam kamar Aftar.


Kini Kinan dan Sanjaya sudah duduk di kursi meja makan, Aftar juga sudah duduk di sebelah Kinan.


"Bagaimana nak? Itu yang di berikan oleh kakek, apa sudah berhasil?" Sanjaya melirik Aftar dengan tatapan penuh isyarat.


Aftar yang sedang minum sampai tersedak "Kakek, itu....itu rahasia kek, iya rahasia kek." Jawab Aftar dengan gugup.


Kinan yang tidak tahu apa maksud Sanjaya dia merasa bingung, tapi dia juga enggan bertanya dan malah asik menikmati makanannya saat ini.


Sanjaya senyum-senyum "Kakek yakin, pasti itu membuat kalian kuwalahan." Sanjaya tertawa, membuat Aftar semakin salah tingkah.


"Kakek, haruskah membahas masalah seperti ini di sedang makan bahkan ada Kinan." Batin Aftar dalam hatinya.


Aftar menggelengang kepalanya, lalu Kinan menatap Aftar penuh tanda tanya "Kuwalahan?" Tanya Kinan dengan raut wajah bingung.


"Sudahlah kek, kita makan dulu!" Aftar berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Sayang, kamu juga makanlah yang banyak!" Suruh Aftar, sambil menaruh daging di piring Kinan.


Kinan melanjutkan makannya, Aftar melihat kakeknya dengan tatapan agak kesal, tapi Sanjaya malah senyam-senyum tidak jelas.


"Akhirnya, aku akan segera punya cicit." Batin Sanjaya dalam hatinya.


"Kinan, kamu harus makan yang banyak, kamu juga harus makan makanan yang sehat biar kamu cepat hamil ya nak! Kakek sudah pingin gendong cicit dari kalian." Sanjaya mengusap-usap rambut Kinan dengan penuh kasih sayang.


Kinan menghentikan aktivitas makannya, dia tersenyum pada Sanjaya tapi senyum itu penuh dengan penuh rasa bersalah.


"Kakek, maafkan Kinan, Kinan tidak bisa mengandung anak dari Mas Aftar karena Mas Aftar hanya menikahi Kinan secara kontrak." Batin Kinan dalam hatinya.


"Iya kek, Kinan akan menjaga kesehatan Kinan." Jawab Kinan sambil tersenyum simpul di sudut bibirnya.


"Aftar, kamu harus menjadi suami yang baik. Oh iya kamu juga harus sering di rumah! Terus untuk kerjaan yang keluar kota atau keluar negeri biar Vino yang mengurus semuanya. Ingat kamu tidak boleh ninggalin Kinan jauh-jauh, kakek ingin kamu buat Kinan Cepat hamil." Sanjaya menatap tegas Aftar dan Aftar hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah.


"Hamil? Kakek, aku dan Kinan saja tidak pernah melakukan hubungan suami-istri." Batin Aftar dalam hatinya.


Setelah selesai makan bersama, Aftar langsung mengajak Kinan masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di kamar Aftar hanya membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil menatap atap kamarnya.


"Kakek menyuruhku ingin cepat menikah karena dia ingin segera punya cicit. Tapi aku malah menjadikan pernikahan sebagai pernikahan kontrak." Keluh Aftar dalam hatinya.


Kinan sedang mengeluarkan baju-baju dari dalam kopernya untuk menatanya ke dalam lemari.


"Mas, baju-baju aku taruh dimana?" Tanya Kinan pada Aftar.


"Itu di lemari sudah ada baju kamu, jadi kamu gabungkan saja baju kamu dengan baju yang ada di dalam lemari. Sekalian rapikan baju-baju aku juga!" Jawab Aftar sambil menyuruh Kinan seenaknya sendiri.


Kinan hanya menganggukkan kepalanya, lalu mulai membereskan semua baju dirinya dan baju-baju suaminya masuk ke dalam lemari.


"Apa, kamu menggunakan meja rias juga? Terus itu juga ada alat kosmetik lengkap." Kata Kinan sambil melihat meja rias dan berbagai alat kosmetik yang tertata rapi.


"Itu semua, aku siapkan buat kamu. Kita tidak mungkinkan tidur di kamar terpisah, jadi agar kakek tidak curiga aku juga harus menyiapkan semuanya." Jawab Aftar sambil memiringkan posisinya menghadap ke Kinan.


Diam-diam Aftar menatap Kinan dengan penuh arti. Seketika Aftar membandingkan Kinan dengan Karin.


"Karin kamu selalu perduli dengan karirmu dan Kinan dia selalu ada di sisiku. Bahkan dia merelakan masa mudanya hanya untuk menikah kontrak denganku." Diam-diam Aftar tersenyum dalam hatinya.


"Jangan terus menatap aku, mas! Nanti kamu jatuh cinta bagaimana?" Ledek Kinan yang ternyata dari tadi sadar, kalau Aftar diam-diam terus menatapnya.


"Apa salahnya? Aku jatuh cinta dengan istri sendiri." Cetus Aftar tanpa sadar.


"Kamu bilang apa mas?" Tanya Kinan.


"Tidak ada, sudahlah aku mau mandi dulu!" Aftar beranjak dari tempat tidurnya, lalu segera menuju ke kamar mandi. Kini rasanya sangat gugup dan ntahlah kenapa mulutnya bisa keceplosan seperti itu?


Setelah Aftar pergi ke kamar mandi, Kinan membaringkan tubuhnya di atas kasur.


"Akan, seperti apa pernikahan kontrak ini?" Kinan tertawa dalam hatinya.


Arga dan Vira.


Setelah beberapa hari, akhirnya Vira sembuh dari sakitnya. Apalagi Arga selama Vira sakit dia terus merawatnya dengan baik, biarpun sikap dinginnya masih sering Vira rasakan tapi Vira yakin kalau Arga adalah sosok laki-laki lain begitu hangat.


Vira sedang duduk di kursi teras depan rumahnya sambil menikmati teh hangat buatannya.


Arga yang baru saja keluar dari dalam rumah, dia langsung duduk di kursi sebelah Vira duduk.


"Kamu, itu istri macam apasih?" Ketus Arga tiba-tiba.


Sontak Vira merasa kaget, apalagi dari tadi dia hanya diam saja dan dari tadi juga Arga baik-baik saja.


"Maksudnya?" Tanya Vira agak kesal.


"Dasar, suami macam apa Arga ini? Pagi-pagi sudah mengajak perang." Batin Vira dalam hatinya.


"Kamu, membuat teh hanya satu. Sana buat satu lagi untukku! Jadilah istri yang baik, ladeni suami dengan baik." Jawab Arga panjang lebar, Vira menghela nafasnya dengan lembut.


Dasar Arga, tinggal bilang saja minta di buatkan teh sama Vira. Ini malah pakai segela ngajak perang pagi-pagi. Begitulah kalau punya suami aneh dan tidak jelas.


"Tinggal bilang saja minta buatkan teh, kan gampang. Dasar gengsi!" Cetus Vira yang langsung pergi menuju ke dapur untuk membuatkan teh untuk suaminya.


"Kamu bilang apa?" Tanya Arga, tapi Vira tidak mempedulikannya.


Setelah beberapa lama, Vira kembali keluar dengan membawa nampan dan secangkir teh untuk suaminya.


Vira menaruh teh itu di atas meja, lalu Arga menikmati teh itu dengan penuh nikmat.


"Terimakasih tehnya, lain kali siapkan teh untukku setiap hari! Mulai sekarang, kamu juga kalau mau kemana-mana izin padaku!" Arga menatap Vira dengan tatapan penuh makna.


"Kamu, tidak sedang kesambetkan?" Tanya Vira yang masih tidak percaya dengan sikap Arga.


"Vira......?!


"Iya apa?"


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 🙏