Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Dimas?!


"Ada apa?" tanya Kenzo dan Melly secara bersamaan.


"Kakak....." seru Kalandra, sambil melihat Kenzo dan Melly yang baru saja datang.


"Apa yang terjadi?" tanya Kenzo, yang kini sudah duduk di dekat Kalandra.


Melly duduk di sebelah Kimmy, dia mengerti pasti Kimmy sedang tidak baik-baik saja untuk saat ini.


"Apa yang terjadi?" tanya Melly dengan suara pelan.


"Semua pelanggan cafe mengalami keracunan kak, mereka semuanya pada muntah-muntah setelah meminum kopi." Jelas Kimmy dengan nada sedih.


Kenzo dan Melly mengangguk paham, mereka turut prihatin dengan apa yang menimpah adik dan adik iparnya ini.


"Lalu.....?" Kenzo bertanya lebih lanjut.


"Semua korban sudah dilarikan ke rumah sakit kak, tapi aku merasa semua ini ada yang janggal kak," jawab Kimmy dan di anggukin oleh Kalandra.


"Pasti ada orang yang sengaja melakukan ini dan membuat semuanya terjadi seolah-olah kerancuan, kamu jangan kawatir Kalan, Kimmy, aku akan mencari tahu siapa orang di belakang semua ini?" Kenzo terlihat marah, siapa yang berani mengusik cafe milik adiknya ini?


"Bagaimana caranya kak? Otak aku sungguh tidak mau berputar, bahkan aku takut sekali kak pada korban kerancuan, aku takut mereka kenapa-kenapa." Kalandra terlihat frustasi, tapi sebagai seorang kakak Kenzo juga berusaha menguatkan hati adiknya dan adik iparnya.


"Yang penting korban sudah di tangani dengan baik, tunggu mama dan papa tahu akan hal ini?" Kenzo melihat ke arah Kimmy dan Kalan secara bergantian.


Kimmy dan Kalandra sama-sama menggelengkan kepalanya, mereka tidak berani memberitahu hal ini kepada Kinan atau Aftar, karena Kalandra tahu pasti mamanya akan kepikiran dan takutnya malah jatuh sakit karena rasa shock.


"Jangan beritahu mereka!" Kata Kenzo, dia juga tidak mau ambil resiko takut kedua orang tua nya kenapa-kenapa.


"Iya kak, lalu kita harus bagaimana kak?" tanya Kalandra masih dengan raut wajah frustasi.


"Di cafe kamu ada cctv kan? Ayo kita selidiki lewat cctv terlebih dahulu!" Kenzo dan Kalan sama-sama menuju ke ruangan khusus cctv.


Kimmy dan Melly mengikuti langkah kaki suami-suami mereka di belakangnya.


"Kak, aku takut. Nanti kalau Mas Kalan di penjara, bagaimana nasib anakku?" Kimmy meneteskan air matanya, mungkin selain dia takut ini juga bawaan bayinya juga.


"Hush Kimmy, jangan bicara seperti itu! Percayalah, semuanya akan baik-baik saja!" tutur Melly dengan nada lembut.


Melly juga sebenarnya takut, dia juga kawatir tapi Melly berusaha tenang.


Kini mereka sudah sampai di ruangan cctv, Kalandra langsung mengotak-atik alat-alat itu tapi tidak ada hasilnya, karena cctv juga ternyata rusak.


"Kak, semuanya rusak, tidak ada rekaman sama sekali." Kata Kalandra, dia menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal.


Kimmy terdiam, dia berusaha memikirkan cara lain.


"Apa tidak ada cctv lain, mas? Yang tersembunyi gitu," kata Kimmy dan Kalandra menggelengkan kepalanya.


"Aku yakin ini pasti perbuatan orang dalam, dia sengaja merusak cctv-nya lebih dulu, baru dia melakukan aksinya." Kata Kenzo dengan begitu yakin.


"Kamu punya pegawai yang sangat kamu percaya?" tanya Kenzo dan Kalan mengangguk. "Ada kak," jawab Kalandra.


"Panggil dia, ingat hanya dia saja!" Tegas Kenzo.


Kalandra langsung mengirim pesan pada Revan salah satu pegawainya melalui ponselnya, Revan yang sedang duduk sambil berdoa agar semuanya baik-baik saja, dia membuka pesan dari Kalandra.


"Re, kamu naiklah! Datanglah keruangan cctv! Kamu saja, jangan ajak yang lain!"


Revan langsung pergi meninggalkan para teman-temannya yang sedang sama-sama berdoa.


"Mau kemana, Re?" tanya salah satu temannya.


"Kamar mandi, kamu mau ikut?" jawab Revan, karena tidak mau teman-temannya tahu.


Revan langsung lari ke ruangan cctv, kini sesampainya di ruangan itu, Revan menarik nafasnya dengan pelan.


"Bos ada apa?" tanya Revan pada Kalandra.


"Sebelum kejadian ini, apakah ada yang aneh?" tanya Kalandra, Revan terdiam mengingat kejadian beberapa hari ini.


"Ada bos, beberapa hari ini aku melihat Sandi gelagatnya begitu aneh, bahkan beberapa hari ini Sandi kepergok hendak masuk ke ruangan cctv, hanya saja selalu gagal." Jelas Revan, membuat Kalandra menganga tidak percaya.


"Apa, kamu ada bukti lain?" tanya Kenzo, dengan tatapan serius pada Revan.


"Pak Ken, saya menaruh beberapa cctv tersembunyi tanpa sepengetahuan Bos Kalan, karena maaf ya Bos Kalan, anda itu terlalu baik dan anda baik dengan siapa pun, bahkan anda sering sekali lengah kalau kejahatan hampir setiap ada kesempatan itu mengincar anda Bos Kalan," jelas Revan membuat Kalandra terdiam.


Jadi sudah beberapa hari ini gerak-gerik Sandi sangat mencurigakan, Revan yang kebetulan dekat dengan Sandi, dia mengawasi Sandi secara sembunyi-bunyi dan tanpa pegawai lain dan Sandi juga tidak tahu.


"Re, dimana cctv itu?" tanya Kenzo.


"Ada di dapur Pak Ken," jawab Revan.


"Ayo kita kesana!" Ajak Kenzo dan mereka semua langsung menuju ke dapur.


Sesampainya di dapur Revan menunjukkan kamera cctv tersembunyi itu, lalu mereka sama-sama melihat isinya dan benar yang di katakan oleh Revan, Sandi yang masuk ke dalam ruangan cctv dan merusak semua cctv itu.


Kalandra ternganga tidak percaya, sungguh kenapa Sandi melakukan ini? Padahal selama ini Kalan sudah sangat baik padanya, bahkan kedua anaknya juga Kalandra biaya sekolahnya.


"Sandi......" Kalandra masih tidak percaya.


"Tidak apa-apa Re, aku masih tidak menyangka kenapa Sandi bisa begitu jahat padaku? Nyawa banyak orang dia jadikan mainan," kata Kalan sungguh tidak habis pikir dengan Sandi.


Kenzo mengamati rekaman cctv itu, dia melihat mimik wajah Sandi begitu ketakutan saat dia akan merusak cctv di ruangan itu.


"Tunggu, aku yakin dia disuruh orang, lihat raut wajahnya begitu ketakutan saat mau merusak cctv di ruangan itu!" Kenzo memperbesar gambar itu, Kalandra melihatnya dengan jelas.


"Kak aku yakin dia adalah orang baik, tapi jika disuruh oleh orang lain, siapa yang menyuruh dia?" Kalandra mengingat kalau selama ini dia tidak pernah punya musuh.


"Panggil saja Sandi kesini! Hanya dia yang tahu jawabannya," kata Kenzo dengan santai.


Akhirnya Kalandra memanggil Sandi, setelah beberapa lama Sandi akhirnya datang juga, ya Sandi merasa ketakutan, apalagi tatapan Kalan begitu garang pada dirinya.


"Bos Kalan, ada apa memanggil saya?" tanya Sandi jantungnya berdetak kencang.


"Apa Bos Kalan sudah mengetahui semuanya?" batin Sandi dalam hatinya.


"Sandi, kenapa kamu begitu tega melakukan semua ini? Kamu tahu, nyawa orang menjadi taruhannya, apa salah aku padamu?" Sentak Kalan, sungguh rasanya Kalandra tidak bisa menahan amarahnya.


Kenzo berusaha menenangkan adiknya, dia juga tidak mau kalau adik sampai memukul orang lain.


"Bos, maafkan saya!"


"Saya hanya disuruh, saya melakukan ini hanya karena saya butuh uang untuk pengobatan anak saya."


"Bos, tolong maafkan saya!"


"Saya rela masuk penjara, yang penting anak saya sembuh bos."


Sandi bersujud di kaki Kalandra, dia merasa sangat bersalah sudah menjahati orang yang begitu baik seperti Kalandra, tapi Sandi mau melakukan semua ini juga demi menyelamatkan anaknya yang sedang berjuang di rumah sakit karena sakit yang begitu parah dan harus melakukan operasi, biaya operasi itu juga sangat mahal.


"Jika kamu butuh uang, kamu bisa katakan padaku!" Suara Kalandra terdengar menggema.


"Bos, aku sudah terlalu sering merepotkan bos, aku tidak enak jika aku......." Sandi menangis, dia sangat menyesali perbuatannya tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur.


"Aku benar-benar tidak menyangka, kurang baik apa aku selama ini padamu San?" Kalandra geleng-geleng kepala, sungguh dia ingin marah tapi masih berusaha menahannya.


Kimmy langsung memeluk suaminya, Melly hanya diam, Kenzo mendekati Sandi dengan tatapan mata yang begitu buas.


"Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu? Maka kamu akan selamat," kata Kenzo dengan tatapan begitu membunuh.


Sandi semakin gemetaran, sungguh rasanya sangat takut.


"Katakan!" Bentak Kenzo dengan lantang.


"Iya.....i yyaa Pak Ken, saya akan katakan siapa orang itu." Jawab Sandi, nada bicaranya begitu ketakutan.


"Katakan yang jujur, jika kamu sampai tidak jujur maka, aku......" Belum sempat Kenzo melanjutkan kata-katanya.


Sandi langsung menjawabnya. "Orang itu adalah Dimas," kata Sandi membuat Kimmy terkejut.


"Dimas.....?" Kimmy mengulangi kata-katanya Sandi dan Sandi mengangguk pelan.


Kenzo dan Melly sama-sama menatap Kimmy secara bersamaan, Kalandra hanya diam di pelukan Kimmy.


"Kimmy, apa kamu mengenal Dimas?" tanya Kenzo dan Melly secara bersamaan.


Kimmy mengangguk, lalu dia mengambil ponselnya dan menunjukkan salah satu foto yang ada di ponselnya.


"Apakah, ini orangnya?" tanya Kimmy pada Sandi, Sandi melihat foto itu dan dia mengangguk pelan.


Mata Kimmy langsung memerah sempurna, rasanya tidak sabar ingin bertemu dengan Dimas, apalagi ternyata Dimas adalah dalang dari semua ini.


"Maunya apa itu manusia?" Kimmy terlihat marah, bahkan dia akan menghajar Dimas jika bertemu dengan Dimas nanti.


"Kimmy, kamu mengenal Dimas?" tanya Kenzo untuk kedua kalinya.


"Aku mengenalnya kak, ayo kita ke rumah dia! Revan dan Sandi, kamu ikut bersama kita ya!" Kata Kimmy, dan mereka langsung pergi ke rumah Dimas.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka semua sampai di depan rumah Dimas.


"Dimas......." Kimmy menggedor-gedor pintu rumah Dimas dengan kasar.


"Siapa sih? Menganggu saja, tidak tahu orang sedang enak-enak apa ya sayang?" kata Dimas sambil berdecak kesal.


Dimas beranjak dari sofa, Erika juga langsung mengeluarkan tangannya dari dalam celana Dimas, lalu Dimas membenarkan retselting celana miliknya yang sedang di mainkan oleh Erika.


Sedang enak-enakanya, suara gedoran pintu menganggu saja.


Dimas berjalan menuju ke depan, ya biarpun dia merasa kesal, dia membuka pintu rumahnya dengan kasar.


"Kimmy......" Dimas ternganga melihat Kimmy dan banyak orang yang datang ke rumahnya.


"Ada apa?" tanya Dimas.


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 🤗