
Jam menunjukkan pukul 10 pagi tiba-tiba Aftar yang sedang sibuk dengan laptopnya kepikiran sang istri.
Aftar tersenyum. "Kinan wajah cantikmu terus menganggu aku, sungguh kalau seperti ini terus rasanya aku ingin cepat-cepat pulang dan langsung memelukmu," Aftar merogoh saku celananya lalu mengambil ponselnya.
Dia menggeser layar ponselnya lalu menekan nama Kinan untuk dia telpon dan Aftar menaruh ponselnya tepat di telinganya.
Kinan yang sedang menonton televisi, mendengar ponselnya berbunyi dia melihatnya.
"Mas Aftar, tumben menelpon?" Tanya Kinan sambil tersenyum sendiri.
Dulu waktu masih adanya perjanjian nikah kontrak, Aftar tidak pernah menelpon Kinan sama sekali kecuali ada penting.
Kinan mengambil ponselnya yang ada di atas meja, lalu dia menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya dan menaruh ponselnya tepat di telinganya.
"Hallo mas," sapanya dengan nada lembut.
"Hallo istriku, kamu lagi ngapain? Sudah sarapan belum?" Tanya Aftar.
"Lagi nonton tv mas, sudah mas. Tumben mas menelponku?" Tanya Kinan ragu-ragu.
"Sayang, aku menelpon istriku sendiri. Apa tidak boleh?" Aftar balik bertanya.
"Bukan seperti itu, hanya tidak biasa saja," Kinan tertawa kecil.
"Mulai sekarang terbiasa lah menerima telepon dari suamimu. Karena mas akan menelpon kapanpun mas mau," tutur Aftar dia tersenyum bahagia.
"Baiklah, mas sudah selesai kerjanya?" Tanya Kinan.
"Belum, tapi mas tiba-tiba merindukanmu." Jawab Aftar.
"Dasar kamu ini, cepatlah pulang aku menunggumu suamiku," kata Kinan membuat Aftar tersenyum penuh semangat.
"Rasanya tidak sabar ingin segera pulang bertemu denganmu sayang," batin Aftar dalam hatinya.
"Baiklah, tunggu mas pulang! Mas tutup dulu ya telponnya," jawab Aftar sambil mematikan saluran teleponnya.
Kinan kembali menonton televisi, dia tampak bahagia. Akhirnya dia bisa merasakan menjadi istri yang sesungguhnya.
"Dasar suamiku, ternyata Mas Aftar yang begitu dingin bisa juga bucin seperti ini," Kinan senyam-senyum sendiri. Dia tidak habis pikir kalau suaminya itu bisa bersikap begitu manis.
Di kantor Aftar.
Vino beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan menuju ke dapur untuk membuat kopi di dapur yang berada di kantor.
"Pak Vino," Vino menoleh.
Caca yang sedang mengepel di sengaja menabrak Vino, Vino berdecak kesal. "Aduh, yang bener dong kalau kerja!" Sentak Vino dengan raut wajah kesal.
Caca merasa tidak enak sekali, dia menundukkan kepalanya. "Maaf pak, saya tidak sengaja." Caca meminta maaf.
"Lain kali hati-hatilah, kalau kerja itu lihat-lihat," ketus Vino. Caca terdiam rasanya begitu takut karena ini pertama kalinya Vino marah.
Caca mendengus kesal. "Cuma kena gagang sapu aja, ketus banget." Gerutu Caca yang ternyata di dengar oleh Vino.
"Aku mendengarnya, sudahlah kamu buatkan saya kopi antar ke ruangan saya!" Suruh Vino.
Vino berlalu pergi ke ruangannya dia sudah terlalu malas untuk pergi ke dapur. Apalagi Caca sudah membuatnya kesal.
Setelah Vino pergi Caca mendengus kesal, dia menatap punggung Vino hingga Vino tidak terlihat.
"Dasar sekalinya bertemu dengan sekertaris Pak Aftar, dia memang tampan tapi begitu ketus," batin Caca dalam hatinya.
Caca berjalan menuju ke dapur untuk membuat kopi buat Vino. Setelah selesai Caca langsung pergi ke ruangan Vino untuk mengantarkan kopi buat Vino.
Caca mengetuk pintu ruangan Vino dengan hati-hati. "Tok...tok...tok..." suara ketukan pintu.
"Masuk, pintunya tidak di kunci." Sahut Vino.
Caca membuka pintu ruangan Vino, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Vino.
"Pak ini kopinya," Caca menaruh secangkir kopi itu di atas meja kerja pintu.
"Terimakasih," cetus Vino dengan raut wajah juteknya.
"Sama-sama pak, saya permisi ya pak." Caca berlalu dari ruangan Vino.
Vino terus menikmati kopinya hingga tidak tersisa.
Di ruangan Aftar.
Jam menunjukkan pukul 12 siang dan Aftar keluar dari dalam ruangannya.
Aftar melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Vino. "Ceklek, Vin ayo makan siang!" Ajak Aftar.
Vino yang sedang sibuk dengan laptopnya menghentikan aktivitasnya, lalu dia berjalan menghampiri Aftar.
"Mau makan siang dimana, pak?" Tanya Vino.
"Makan siang di kantin kantor saja," ajak Aftar.
Aftar dan Vino sama-sama keluar dari dalam ruangan Vino, belum sempat melangkahkan kakinya ke kantin. Tiba-tiba ada sosok yang begitu cantik membawa tentengan di tangannya.
"Pak, itu Nona Kinan." Vino melihat ke arah Kinan, Aftar mengikuti arah mata Vino dan dia langsung tersenyum manis.
"Vin, aku tidak jadi makan siang sama kamu, aku mau makan siang bersama istriku saja," Aftar berlalu pergi meninggalkan Vino, sungguh Vino hanya bisa geleng-geleng kepala. Seperti inikah nasib seorang jomblo.
Aftar menghampiri Kinan. "Sayang," panggilnya dengan begitu lembut.
Kinan tersenyum sambil berjalan menuju ke tempat Aftar berdiri. "Mas Aftar, aku bawakan makan siang buat kamu. Oh iya ajak Vino sekalian mas!" Kinan melihat ke arah Vino yang sedang berdiri.
"Tidak usah sayang, kasian dia itu jomblo nanti dia ngiler lagi lihat kemesraan kita," Aftar melihat Vino lalu menjulurkan lidahnya dengan jail, kini Aftar langsung mengajak Kinan masuk ke dalam ruangannya.
Vino hanya bisa nyengir paksa, melihat Aftar dan Kinan sudah masuk ke dalam ruangannya.
"Kapan, aku punya istri?" Tanya Vino dalam hatinya.
Vino hendak melangkahkan kakinya menuju ke kantin kantor, tiba-tiba dia melihat Caca sedang berjalan.
"Hey gadis sapu," panggilnya.
Caca menoleh dengan tatapan bingung?
"Pak Vino, memanggil siapa? Gadis sapu?" Batin Caca dalam hatinya.
Caca terdiam, tapi Vino melambaikan tangannya. "Bapak, memanggil saya?" Tanya Caca dengan penuh hati-hati.
"Iyalah, lagian siapa lagi? Disini kan tidak ada siapa-siapa lagi," Vino menatap Caca dengan tatapan penuh kesal.
Caca berjalan menghampiri Vino, tatapannya juga tidak suka dengan Vino.
Biarpun mereka satu kantor Vino itu jarang melihat Caca, karena Caca di tugaskan di bagian gudang jadi Vino jarang sekali melihat Caca.
"Ada apa, pak?" Tanya Caca lembut.
"Temani aku makan siang!" Ajak Vino, tanpa menunggu persetujuan dari Caca. Vino sudah menarik tangan Caca begitu saja.
"Lepaskan saya pak!" Pinta Caca dengan suara lirih.
Tapi Vino tidak memperdulikannya, Vino terus menarik tangan Caca hingga sampai ke kantin kantor.
Sesampainya di kantin kantor, Vino langsung memesan makanan dia juga memesankan makanan buat Caca. Siang ini Vino dan Caca makan siang bersama.
Banyak mata yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Apa, Caca menjalin hubungan dengan Pak Vino?"
"Aku tidak tahu."
"Sudahlah jangan bergosip."
"Wajarlah dia dekat dengan Pak Vino, dia kan sahabat dekatnya Kinan."
Banyak yang bergosip dan menduga-duga tentang kedekatan Vino dan Caca.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😘
Maaf ya baru sempat up, seharian ini sibuk sekali karena ada acara keluarga. 🙏