
Jam menunjukkan pukul 2 siang, seperti biasanya Kenzo sudah pulang sekolah dari tadi, karena hari ini sang papa libur kerja Kenzo terus berglendotan dengan papanya, bahkan di suruh tidur siang yang biasanya mau juga kalau ada papanya pasti manja banget, inilah Aftar yang selalu memanjakan jagoan kecilnya.
Kinan hanya diam sambil menonton televisi, dia membiarkan Kenzo bermanja-manja dengan sang papa.
"Ken, kamu tidur dulu nak." Kata Aftar, tapi Kenzo menggeleng manja.
"Tapi ini waktunya tidur siang," tutur Aftar dengan begitu sabar, Kenzo lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
Kinan hanya melirik mereka berdua, sekilas Kinan tersenyum kecil.
"Inilah mas, akibatnya kamu terlalu memanjakan Ken selama ini," batin Kinan dalam hatinya.
"Papa, ayo kita pergi ke taman bermain!" Kenzo merengek-rengek manja, tangannya berglendotan di leher Aftar.
"Panas nak, tunggu nanti kalau sudah tidak panas ya." Bujuk Aftar, berharap Ken menurut.
"Papa...papa, Ken mau pergi ke taman bermain pokoknya." Kenzo mulai menangis Bombay, inilah andalan Ken kalau papanya menolak kemauannya.
Aftar melihat ke arah Kinan, dia memberikan isyarat pada Kinan agar Kinan membujuk Ken, karena kalau Kinan yang bilang biasanya Ken akan menurut.
Kinan menggeser duduknya, kini dia sudah berada di dekat suaminya. Dengan lembut Kinan menatap putra kesayangannya.
"Sayang anak mama, ini masih panas dan juga ini waktunya tidur siang, kalau masih jam segini taman bermain juga belum buka nak, jadi Ken harus bobok siang dulu. Nanti mama dan papa janji akan mengajak Ken ke taman bermain," tutur Kinan. Sorot matanya yang begitu lembut, membuat Ken langsung mengangguk pelan.
"Kalau sama mamanya aja langsung mengangguk, dasar Ken untung papa sayang sama kamu, kalau tidak sudah papa jewer kamu nak," batin Aftar dalam hatinya.
"Baik mama, tapi janji ya mama!" Ken menyodorkan jari kelingkingnya, lalu Kinan melakukan hal yang sama, kini mereka saling mengaitkan jari kelingking mereka. "Janji," mereka sama-sama mengucapkan hal yang sama.
Ken turun dari pangkuan sang papa, lalu dia langsung berlari ke kamarnya untuk tidur siang sesuai perintah dari sang mama.
Aftar menatap Kinan, lalu dia menarik Kinan masuk ke dalam pelukannya. "Istriku, paling pandai jika cara membujuk anaknya," kata Aftar dengan begitu senang.
"Salah mas, terlalu memanjakan Kenzo." Omel Kinan, terdengar suaranya agak kesal.
"Apa salahnya sayang, kita manjain anak kita? Kan mereka memang butuh semua itu," Aftar tidak terima, dia melawan istrinya.
"Mas, boleh manjain anak tapi jangan berlebihan!" Tandas Kinan, sering sekali mereka memperdebatkan hal yang sama.
Tapi tetap saja, Aftar tidak mendengarkan Kinan bicara yang Aftar tahu, memanjakan anak itu salah satu cara dia menunjukkan kalau dia sangat menyayangi anaknya dan yang membuat Aftar melakukan itu, karena Aftar tidak pernah mendapatkan semua itu dari kedua orang tuanya, orang tua Aftar meninggal dari Aftar masih kecil. Jadi Aftar tidak mau kalau Kenzo sampai tidak mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari dirinya.
"Sayang, kamu bawel." Aftar mencium bibir Kinan dengan lembut, untung Kenzo sudah masuk ke dalam kamarnya.
Kinan mencubit perut suaminya dengan keras, membuat Aftar langsung melepaskan ciumannya.
"Sayang ih sakit," omel Aftar. Dasar bapak anak satu ini nafsuan banget bawaanya.
"Mas, jangan sembarangan melakukan hal seperti tadi. Apalagi tidak di dalam kamar, bagaimana jika Ken melihatnya?" Protes Kinan, dengan raut wajah yang semakin kesal.
Aftar hanya tertawa kecil, lalu dia mengendong Kinan masuk ke dalam kamarnya. Kini mereka sudah berada di kamar, Aftar membaringkan Kinan di atas tempat tidurnya.
"Boleh di lanjutkan sayang?" Tanya Aftar dengan tatapan mesum.
"Kunci pintu kamar dulu!" Suruh Kinan agak manyun.
"Sudah tahu anaknya suka tiba-tiba masuk kamar tanpa mengetuk pintu dulu, tapi papanya sukanya seperti ini main nyosor, sudah seperti soang saja," batin Kinan dalam hatinya.
Setelah mengunci pintu kamarnya, akhirnya Aftar melanjutkan aksinya di atas ranjang tempat tidur. Padahal masih siang, tapi apalah Aftar yang penting bisa ehem-ehem sama istri tercintanya.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, Caca sedang menemani Melly yang sedang bermain di taman belakang rumahnya.
Melly main sepeda-sepedaan, Caca terus mengawasi Melly karena takut Melly jatuh apalagi Melly adalah anak satu-satunya, jika Melly kenapa-kenapa pasti Caca akan sangat kawatir.
"Melly, hati-hati main sepedanya goesnya jangan kencang-kencang, nanti jatuh nak," dengan begitu bawelnya Caca terus memberikan Melly arahan agar anaknya hati-hati dalam bermain sepeda.
"Mama, Melly bisa ma. Mama jangan takut, Melly tidak akan jatuh." Jawab Melly, Caca terlihat begitu bahagia.
"Jadilah wanita yang kuat ya nak, apapun yang terjadi di masa depan kamu harus menjadi Melly yang kuat!" Harapan Caca dalam hatinya.
Vino yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, dia mencari-cari sosok anak dan istrinya. "Kemana mereka? Tumben sepi, biasanya mereka begitu akur bermain boneka di ruang tengah, ini malah tidak ada." Vino terus mengoceh sendiri, sambil terus mencari anak dan istrinya.
"Istriku, anakku, kalian dimana?"
Vino terus berjalan menelusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumahnya, tapi tidak kunjung menemukan anak dan istrinya dimana-mana, satu yang belum di datangi adalah taman bermain belakang rumah.
"Aku yakin, pasti mereka ada disana." Vino buru-buru berjalan ke taman belakang rumah, dan benar anak dan istrinya berada di taman.
Vino begitu bahagia melihat Melly bermain, sekilas dia ingat Caca ingin punya anak lagi tapi Vino hanya bisa menahan rasa sedihnya, karena rahim Caca sudah di angkat dan mereka tidak mungkin untuk punya anak lagi.
"Caca, maafkan aku sayang. Aku memutuskan hal yang begitu penting, tanpa bicara padamu dulu, tapi aku hanya kamu sehat jadi aku memilih dokter mengangkat rahim kamu," Vino menangis dalam hatinya.
"Ahh mama....." Melly terjatuh dari sepeda, kini dia menangis membuat Caca sangat panik.
"Melly........!!!!"
Caca dan Vino sama-sama berlari untuk menolong Melly, dengan cepat Vino menggendong Melly. Lalu Caca membenar kan sepeda Melly. "Cup..cup... sayang, anak papa." Vino berusaha menenangkan Melly yang sedang menangis.
"Sakit papa..." Kata Melly, dia terus menangis melihat darah ada dengkul kakinya.
Caca buru-buru mengambil alat p3k. Kini Caca langsung mengobati luka di dengkul Melly.
"Mama kan bilang nak, pelan-pelan naik sepedanya." Kata Caca, dia tidak mengomel tapi terlihat begitu panik.
"Mama perih...mama perih," rengek Melly dia masih menangis.
Caca mengoleskan obat merah, lalu dia menempelkan hansaplas di luka Melly.
"Sudah selesai, sini anak mama. Jangan menangis, bagaimana kalau kita ajak Kak Kenzo, ke taman bermain?" Hibur Caca, agar Melly berhenti menangis.
"Benar mama?" Tanya Melly, kini langsung tersenyum begitu senang.
"Benar nak," sahut Caca sambil tersenyum.
"Ayo mama, kita jemput Kak Kenzo!" Rengek Melly, dia sungguh tidak sabaran.
Akhirnya mereka bertiga langsung menuju ke rumah Kenzo.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
Belum Author tamatin, soalnya Author masih lancar buat menghalunya 🙏