Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Aftar melamar wanita lain


Matahari pagi menembus gordeng kamar Kinan dan Aftar, Kinan dan Aftar yang masih nyenyak berbaring di dalam selimut perlahan-lahan Kinan membuka matanya.


"Jam berapa sekarang, mas?" Tanya Kinan sambil megucek-ucek matanya.


Aftar hanya bergulat tanpa membuka matanya, tangannya masih memeluk istrinya dengan erat seperti memeluk bantal guling.


"Achhh.... Mas bangunlah! Tangan kamu berat, kasian anak kita."


Aftar membuka matanya lalu menyingkirkan tangannya dengan hati-hati dari atas perutnya Kinan.


"Sayang, mas hari ini libur kita tidur sebentar lagi ya!" Aftar merengek manja, tapi Kinan menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Dasar kamu ini mas, aku mau membersihkan tubuh aku dulu! Kamu juga mandi dulu, baru tidur lagi!" Kata Kinan, Kinan keluar dari dalam selimut lalu pergi menuju ke kamar mandi.


Tidak lama kemudian Aftar juga menyusul Kinan masuk ke dalam kamar mandi, mereka akhirnya mandi bersama di dalam bathtub, pagi ini mereka bak pengantin baru bahkan mereka saling bergantian menyabunni tubuh mereka.


Setelah selesai mandi, Kinan dan Aftar sama-sama berganti pakaian. Setelah selesai Aftar kembali menuju ke tempat tidur dia masuk lagi ke dalam selimut.


"Mas, kok malah tidur lagi?" Tanya Kinan.


"Masih ngantuk, kata kamu kalau sudah mandi boleh tidur lagi," protes Aftar mengingat kata- kata Kinan tadi.


Akhirnya Kinan kalah dan membiarkan suaminya tidur lagi.


Karena suaminya tidur lagi, Kinan keluar dari kamar.


"Kinan, mana suamimu?" Tanya Sanjaya yang sedang membaca koran dan menikmati teh paginya.


"Mas Aftar tidur lagi kek, katanya masih mengantuk." Jelas Kinan, dia duduk di sofa dekat Sanjaya.


Sanjaya menaruh korannya di atas meja, lalu dia melihat Kinan sambil tersenyum.


"Kamu mau jalan-jalan pagi? Biar kakek temenin," tanya Sanjaya dengan nada lembut.


"Boleh kek, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman depan?" Jawab Kinan dengan antusias.


Aturan Kinan pingin ditemani oleh suaminya, tapi mungkin suaminya sangat lelah jadi Kinan membiarkan suaminya tidur lagi.


Sanjaya dan Kinan berjalan-jalan ke taman yang tidak jauh dari rumahnya. Seperti biasanya Sanjaya memakai kursi roda dan Kinan mendorongnya.


Mereka menelusuri jalanan sambil menghirup segeranya udara pagi.


Sesampainya di taman Kinan duduk di kursi taman.


"Kakek mau makan sesuatu? Biar Kinan belikan," tanya Kinan sambil melihat-lihat banyaknya tukang makanan di taman itu.


"Kakek pingin bubur ayam," jawab Sanjaya.


Kinan membeli satu porsi bubur ayam, lalu dia menyuapi Sanjaya dengan telaten. Sanjaya terlihat begitu bahagia dia bersyukur karena Kinan sangat menyayangi dirinya.


Aftar bergulat, pelan-pelan dia membuka matanya karena tidak bisa tidur Aftar beranjak dari tempat tidur lalu keluar dari dalam kamar.


"Padahal masih ngantuk, tapi ini matanya diajak merem tidak mau mulu." Aftar berjalan gontai menuju ruang makan.


Di ruang makan terlihat sepi, istrinya juga tidak ada kakeknya juga tidak ada.


"Kemana Kinan dan kakek?"


"Sayang, mas sudah bangun."


"Kamu dimana?"


Aftar true mencari ke setiap sudut ruangan tapi Dia menemukan istrinya.


"Kinan kamu membuat mas kawatir, pagi-pagi seperti ini kamu kemana lagi?"


"Apa Kinan pergi jalan-jalan pagi?"


Aftar buru-buru keluar dari dalam rumahnya, dia langsung berlari menuju ke taman yang tidak jauh dari rumahnya.


Sesampainya di taman Aftar terus mencari-cari sosok istrinya dan kakeknya. Aftar tersenyum melihat Kinan sedang duduk di kursi taman sambil menyuapi Sanjaya.


"Akhirnya, aku menemukannya." Gumam Aftar dengan lirih.


Aftar menghampiri istrinya dan kakeknya.


"Mas," Kinan terkejut melihat suaminya tiba-tiba datang.


"Sedang apa disini?" Tanya Aftar.


"Hanya jalan-jalan pagi mas, duduklah! Mas mau makan bubur ayam?" Jawab Kinan, sambil menyuapkan bubur ayam ke mulut Sanjaya.


"Mau, tapi mas juga mau di suappin sama kamu seperti kakek." Aftar merengek manja, Dasar Aftar demen banget di manja sama Kinan.


"Mas kan sudah besar, makan sendirilah!" Tolak Kinan, sungguh rasanya ingin menjewer telinga sang suami manja sekali padahal disitu ada sang kakek.


Kalau sudah seperti ini, Kinan bisa apa? Hanya mengalah karena dia mau berdebat di hadapan sang kakek kesayangannya.


"Dasar manja, makan sendiri!" Sanjaya mengomeli Aftar dengan tatapan garang.


"Kakek juga di suappin." Aftar menjulurkan lidahnya seolah-olah meledek sang kakek.


Kinan hanya menggeleng pelan, dia berjalan membeli satu porsi bubur lagi untuk suaminya yang begitu manja.


Setelah membelinya Kinan kembali membawa satu porsi bubur, dan sekarang gantian nyiapin suaminya.


"Kakek mau makan lagi tidak?" Tanya Kinan dengan nada lembut.


"Kakek sudah kenyang nak, kamu suappin saja suamimu!" Jawab Sanjaya, dalam hatinya begitu bahagia. Sebentar lagi keluarga kalian akan menjadi keluarga yang lengkap.


Kinan menyuapi suaminya dengan sabar, mungkin jika di kamar atau tidak ada sang kakek pasti mereka sudah berdebat.


Setelah selesai dan hari juga sudah mulai siang, matahari semakin tinggi Kinan, Aftar dan Sanjaya pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, liburan hari ini Aftar dan Kinan hanya di dalam kamar. Sedangkan Sanjaya memilih jalan-jalan bersama supir pribadinya.


*****


Kinan hanya diam sambil membaca buka novel, sedangkan Aftar sibuk main game karena merasa bosan Aftar menaruh ponselnya di atas nakas tempat tidurnya.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, ternyata dari Vino.


"Hallo Vin, ada apa kamu menelponku di saat libur kantor?" Tanya Aftar.


"Pak, saya mau bicara dengan Nona Kinan. Apakah boleh?" Jawab Aftar meringis takut, apalagi bosnya ini pencemburu hebat.


"Hey, mau apa kamu bicara dengan istriku? Bicara saja padaku! Nanti aku sampaikan," jawab Aftar tentu saja dia tidak rela Kinan berbicara dengan laki-laki lain.


"Hanya sebentar, satu menit saja pak!" Kata Vino memohon.


"Baiklah," jawab Aftar jutek.


Aftar mengeraskan suara telponnya agar dia juga mendengar obrolan sekretaris dengan istrinya.


"Sayang, Vino mau bicara padamu." Kata Aftar dan di anggukin oleh Kinan.


"Ada apa sekretaris Vino?" Tanya Kinan dengan nada lembut.


"Nona, saya mau tanya jika melamar seorang perempuan aku harus bawah cincin sama apa ya? Haruskah aku menyiapkan kejutan mewah?" Tanya Vino.


Kinan tersenyum kecil. "Bunga atau boneka. Tidak usah menyiapkan kejutan mewah, karena Kak Caca itu wanita yang sederhana." Jawab Kinan.


"Baiklah Nona, terimakasih Nona. Saya tutup telponnya dulu, doakan saya hari ini mau melamar Caca mudah-mudahan di terima," kata Vino begitu semangat.


"Baiklah, semangat!" Jawab Kinan sambil mematikan saluran teleponnya.


Vino jingkrak-jingkrak di atas tempat tidurnya, sungguh Vino sudah seperti orang kesurupan tidak jelas.


"Aku hari ini akan melamar Caca, Nona Kinan terimakasih. Setidaknya anda tidak seperti suami anda yang bisanya hanya meledek," celoteh Vino sambil terus berjingkrak-jingkrak.


Vino buru-buru keluar dari dalam kamarnya, dia hari ini langsung pergi menuju ke mall untuk membeli cincin berlian untuk Caca.


Aftar terus menatap Kinan, sungguh dia merasa tidak berguna. Padahal yang bosnya Vino adalah dirinya, tapi Vino malah minta saran pada istrinya.


"Dasar bocah sialan!" Celetuk Aftar dengan kesal.


"Aturan dia bertanya pada mas, tapi ini dia malah bertanya sama kamu." Aftar terus mengomel.


"Mas ini, sekertaris Vino kan hanya bertanya. Mungkin dia juga tahu kalau bosnya ini tidak pernah melamar seorang wanita, jadi ya wajar kalau dia ragu mau bertanya padamu." Kinan menjulurkan lidahnya, kali ini dia merasa suaminya ini seperti anak kecil.


Aftar senyam-senyum, membuat Kinan menatapnya dengan geli.


"Kata siapa mas tidak pernah melamar seorang perempuan?" Aftar tertawa kecil, membuat Kinan menatapnya kesal.


"Memangnya siapa yang pernah mas lamar?" Tanya Kinan penasaran, tapi tatapannya begitu sinis.


Aish, Aftar hanya bisa mengutukti mulutnya yang tidak bisa di jaga ini. Sungguh lemes sekali mulutnya, sudah benar di rahasiakan rapat-rapat ini pagi-pagi malah cari perkara.


"Aftar, siap-siap tidur di sofa!" Gumam Aftar dalam hatinya.


"Mas, jawab!" Tatapan Kinan semakin sinis.


"Mas pernah......"


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 😘