
"Vin, siapa gadis ini?" Tanya Anya ragu-ragu.
Vino tersenyum pada Anya, membuat Anya menatapnya bingung.
"Dia adalah ......"
"Dia siapa Vin?" Anya kembali bertanya.
"Dia adalah colan istriku, namanya Caca." Jawab Vino sekaligus memperkenalkan Caca pada Anya.
Tidak tanggung-tanggung Vino memperkenalkan Caca sebagai calon istrinya, betapa terkejutnya Caca mendengar jawaban sang kekasih. Sungguh tidak terduga oleh dirinya.
"Calon istri." Gumam Caca dalam hatinya.
Anya terdiam dia masih tidak percaya kalau gadis yang ada di hadapannya ini adalah calon istrinya Vino, hatinya berusaha menolak pengakuan dari Vino.
"Bukannya setelah mantan kekasih Vino meninggal dunia Vino tidak dekat gadis manapun," tanya Anya pada hatinya.
Anya kembali duduk, dia terus melihat Caca kali ini tatapan Anya begitu tidak suka pada Caca.
"Kalian, mau pesan makanan apa? Oh iya kenalkan aku Anya dulu aku sangat dekat dengan Vino," Anya mengulurkan tangannya dengan begitu bangga.
"Saya Caca." Caca membalas jabat tangan Anya.
Kini mereka bertiga memesan makanan, setelah memesan makanan mereka bersama-sama menikmati makanan pesanan mereka.
"Vin, kamu ingat tidak? Dulu kita sering jalan bareng bahkan kita beberapa kali nonton film romantis berdua," celoteh Anya berharap Caca akan cemburu.
"Itu hanya dulu, sudahlah jangan membahas masa lalu! Lagian kita dulukan teman jadi wajar sering kemana-mana bareng," tandas Vino dia tidak mau ambil pusing. Tangannya meraih tangan Caca lalu menggenggamnya dengan erat.
"Jangan berpikir macam-macam! Karena saat ini dan seterusnya aku hanya akan mencintai kamu sayang," tegas Vino matanya begitu lembut menatap mata Caca.
Sekilas Caca tersenyum, tapi Anya menatap dengan tatapan tidak suka.
"Rasanya pingin muntah dengernya, Vino kenapa sih? Kamu harus suka dengan gadis biasa seperti Caca? Lihat penampilan dia saja tidak semodis diriku," gerutu Anya dalam hatinya.
"Iya aku tahu sayang," Caca tersenyum simpul sambil menatap Vino dengan tatapan begitu lembut.
Anya semakin tidak suka menatap Caca, rasanya tidak terima sekali jika gadis biasa seperti Caca itu menjadi calon istrinya Vino menurut Anya dirinyalah yang lebih pantas untuk bersanding dengan Vino.
Setelah selesai makan, Vino berpamitan dengan Anya untuk pergi duluan, makanan juga sudah Vino bayar.
Vino mengandeng tangan Caca dengan mesra.
"Vin, kamu tidak mau mengantarku ke kantorku?" Tanya Anya, berharap Vino mau mengantarkan dirinya lebih dulu.
"Maaf An, aku tidak bisa." Vino dan Caca berlalu pergi dari hadapan Anya.
Anya berdecak kesal niatnya untuk mendekati Vino, ini malah harus menerima kenyataan pahit. Bahkan Vino juga bersikap cuek pada dirinya.
Sambil berjalan pulang ke kantornya Anya hanya bisa diam, dalam hatinya hanya ada rasa kecewa yang begitu dalam.
"Apa aku masih bisa mendapatkan Vino?" Gumamnya dalam hatinya.
*****
Jam menunjukkan pukul 5 sore, Kinan dan Sanjaya duduk di taman halaman rumahnya sambil menikmati teh buatan Kinan.
"Nak, kakek bahagia sekali kamu akan melahirkan calon pewaris Group Sanjaya." Kata Sanjaya, terukir senyum bahagia di sudut bibirnya.
"Kinan juga bahagia kek, sebentar lagi Kinan akan menjadi seorang ibu." Sambung Kinan, senyum bibirnya tidak kalah lebar dari sang kakek.
Keduanya sama-sama mengambil cangkir yang berisi teh, lalu menyeruputnya dengan pelan.
Kinan tersenyum, sekilas dia mengingat waktu dulu membuatkan teh untuk Aftar untuk pertama kalinya. Waktu itu Aftar meminta teh yang rasanya tidak terlalu tapi juga tidak terlalu pahit, Kinan saja bingung bagaimana cara membuat teh seperti itu?
Langkah sepatu terdengar menuju menghampiri mereka yang sedang duduk.
"Sayang," sapa Aftar yang baru saja pulang dari kantor. Di tangan Aftar penuh dengan paper-bag, membuat Kinan bingung. "Apa yang kamu bawah sebanyak ini mas?" Tanya Kinan penasaran.
"Ini adalah kado buat kamu," jawab Aftar.
"Memangnya kado apa yang akan kamu berikan pada istrimu? Kamu membeli banyak sepertinya, apa kamu juga membeli buat kakek?" Tanya Sanjaya, yang tidak kalah penasaran dengan Kinan.
"Baju wanita hamil kek, apa kakek juga mau baju untuk wanita hamil?" Tanya Aftar dengan tawa jail di bibirnya.
"Mana ada kado belum di buka, sudah di sebutkan isinya mas?" Celetuk Kinan, Aftar tersenyum simpul mau bagaimana lagi sudah terlanjur bilang.
"Tidak, dasar kamu ini cucu kurang ajar! Sudahlah kakek ke kamar dulu, Kinan ajak suamimu masuk." Sanjaya beranjak dari tempat duduknya lalu dia berlalu pergi dari hadapan Kinan dan Aftar.
Kinan mencubit lengan tangan suaminya, membuat Aftar merintih kesakitan. "Dasar kamu mas, suka sekali bercandain kakek," omel Kinan pada suaminya.
Aftar memegangi lengan tangannya yang tadi di cubit oleh istrinya. "Ayok ke kamar, buka kado dari mas!" Ajak Aftar dan mereka berdua langsung berjalan menuju ke kamar.
Sesampainya di kamar, Kinan membuka satu persatu paper-bag yang suaminya bawah tadi, dengan sabar Kinan mengeluarkan satu persatu isi dari dalam paper-bag itu.
"Baju hamil, baju hamil dan baju hamil. Mas kamu membeli baju hamil sebanyak ini? Di lemari juga masih banyak mas," Kinan melihat Aftar. Tatapan matanya meminta jawaban.
"Sayang, semakin hari perut kamu semakin besar jadi ini akan sangat bermanfaat, kamu juga harus tahu saat kamu sudah melahirkan nanti, kamu juga akan butuh banyak baju untuk menyusui dan baju-baju ini bisa kamu gunakan untuk menyusui." Jelas Aftar sambil tersenyum.
Kali ini Kinan setuju dengan suaminya, hanya saja suaminya membeli baju hamil berlebihan dan itu membuat Kinan agak kesal. Tapi ya mau bagaimana lagi? Aftar itu tidak pernah mau salah sedikitpun.
"Baiklah mas, kamu paling benar." Kinan tersenyum, sambil membereskan baju-baju hamil yang berserakan di atas kasurnya.
Aftar duduk di tepi ranjang sedangkan posisi Kinan berdiri sambil melipat baju-baju yang berserakan di atas kasur karena ulahnya.
"Sayang," Aftar membaringkan tubuhnya di atas kasur. "Sayang, kira-kira Caca dan Vino cocok atau tidak?" Tanya Aftar ragu-ragu.
"Cocok atau tidaknya pasangan itu tergantung mereka yang menjalani hubungan itu mas. Tapi kalau menurutku mereka akan cocok," jawab Kinan. Kedua tangannya masih sibuk dengan baju-baju hamil yang belum selesai dia bereskan.
"Aku menyuruh Vino agar segera menikahi Caca, lagian di kantor mereka pernah kepergok olehku. Kamu tahu, mereka hampir berciuman," tutur Aftar dia membenarkan posisinya menjadi duduk.
Kinan tersenyum, jari-jari Aftar sibuk memainkan perut Kinan iya seolah-olah mengajak calon jagoannya bermain-main.
"Dasar kamu ini mas, kita juga sering kepergok oleh Vino kalau di kantor mas." Jawab Kinan sambil tertawa, mengingat dirinya dan Aftar sering sekali kepergok oleh Vino jika sedang bermesraan di kantor.
"Kamu setuju tidak, jika Vino menikah dengan Caca?" Tanya Aftar.
"Aku setuju mas, yang penting mereka saling mencintai." Jawab Kinan.
Setelah selesai merapikan baju-baju yang berserakan di atas kasur. Kinan duduk di tepi ranjang, lalu dia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Mas, buat acara 7 bulanan nanti kamu sudah siapkan semuanya?" Tanya Kinan.
Aftar ikut membaringkan tubuhnya di samping Kinan dan posisinya miring jari-jari lentiknya memainkan wajah cantik istrinya.
"Aku akan siapkan semuanya sayang." Jawab Aftar dengan begitu yakin.
Kinan tersenyum, suaminya ini memang yang terbaik.
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😊