Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Vino diam-diam kepo


"Caca....." Panggilnya dan dia sudah turun dari dalam mobilnya.


Seketika Caca langsung mengembangkan senyum termanisnya.


Entah siapa yang datang?


Sosok laki-laki yang tinggi dan tampan berjalan menghampiri Caca sambil tersenyum bahagia. Caca juga yang tadinya merasa kesal seketika rasa kesal itu hilang begitu saja.


"Ternyata Ronal bukan seorang pembohong," batin Caca dalam hatinya.


"Caca, maaf ya aku terlambat tadi ada meeting dulu soalnya," Ronal merasa bersalah karena sudah terlambat menjemput Caca.


Caca tersenyum dengan begitu manis. "Tidak apa-apa, aku juga baru keluar." Jawab Caca, dengan perasaan yang begitu bahagia.


Ronal adalah gebetan baru Caca dia bekerja di salah satu perusahaan dan jabatannya itu sebagai Direktur di perusahaan kecil, tapi kehidupan Ronal sudah cukup mapan.


Seorang laki-laki yang sedang berdiri di ambang pintu kantor dia terlihat jelas melihat Caca dan Ronal dengan tatapan tidak suka.


"Siapa laki-laki yang bersama gadis sapu itu?" Batin Vino dalam hatinya.


"Iya Ca, aku jadi merasa tidak enak. Bagaimana sebagai permintaan maaf ku padamu aku ajak kamu makan berdua ya," tanpa menunggu persetujuan dari Caca, Ronal sudah menggenggam tangan Caca dengan erat.


Caca terlihat bahagia dia terus memandangi tangannya yang saat ini sedang di genggam oleh Ronal.


Vino yang dari memperhatikan mereka berdua tatapannya semakin garang, hatinya bertanya-tanya siapa laki-laki yang bersama Caca?


"Apa gadis itu sudah punya kekasih? Tapi bukankah waktu itu dia bilang dia belum punya kekasih? Sungguh dasar gadis sapu pembohong," batin Vino dalam hatinya.


Setelah Caca berlalu pergi dan sudah tidak terlihat, entahlah dedemit apa yang merasuki Vino tiba-tiba dia masuk ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya dan tanpa dia sadari dia mengikuti mobil yang di naikin Caca dan Ronal.


"Dasar gadis pembohong," cetus Vino dia terus menyetir mobilnya dengan begitu hati-hati dan mobil Vino tidak jauh dari mobil Ronal dan Caca.


Di dalam mobil Ronal hanya terjadi keheningan, Caca juga masih merasa canggung karena kenal dengan Ronal juga baru dua bulanan dan kali ini Ronal baru punya keberanian menjemput Caca di kerajaannya.


"Caca, kamu sukanya makan apa?" Tanya Ronal, raut wajahnya tampak gugup.


"Emm aku sukanya, aku suka makan apa saja." Jawab Caca, raut wajahnya tampak gugup.


"Sungguh, aku gugup sekali." Batin Caca dalam hatinya.


Ronal kembali terdiam dia terus melajukan mobilnya menuju ke restoran yang bisa di datangi. Berharap Caca akan suka dengan restoran pilihannya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa lama akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Ronal turun lebih dulu dari dalam mobil, lalu dia membukakan pintu mobilnya untuk Caca.


"Dia seorang Direktur apa aku akan pantas untuk bersanding dengan dirinya?" Tanya Caca dalam hatinya.


Setelah turun dari dalam mobil Ronal, Ronal kembali mengandeng tangan Caca dengan mesra. Iya mereka seperti pasangan baru, Caca tidak sadar kalau dari tadi Vino terus mengikuti dirinya dan Ronal.


"Mereka, mau makan berdua?" Vino mematikan mesin mobilnya, lalu dia turun dari dalam mobilnya.


Sungguh hari ini Vino seperti penguntit, karena dia terus mengikuti Caca dan Ronal diam-diam.


Kini mereka sudah berada di dalam restoran, Vino juga sudah di meja yang tidak terlalu jauh dari tempat duduk Caca dan Ronal.


Caca dan Ronal sedang menikmati makanan pesanan mereka, bahkan Ronal dan Caca terlihat begitu mesra.


"Caca, ada sesuatu yang menempel di sudut bibir kamu." Kata Ronal, dia tersenyum melihat Caca.


Tangan Caca ingin membersihkan sesuatu yang ada di sudut bibirnya, tapi dia tampak kesusahan.


"Biar aku saja!" Ronal mengambil satu lembar tisu, lalu dia mengarahkan tangannya ke sudut bibir Caca.


Kali ini mereka terlihat begitu romantis, sungguh Vino tiba-tiba merasa kesal. Dia merasa kalau Caca itu seorang pembohong.


"Dasar gadis pembohong, lihat sekarang kamu bahkan bermesraan dengan laki-laki itu. Dan kamu bilang kamu belum punya kekasih," Batin Vino dalam hatinya.


Kini Caca dan Ronal melanjutkan makan berdua mereka, sungguh Vino hanya bisa ngiler melihat keakraban dan kemesraan Ronal dan Caca.


Aftar dan Kinan.


"Jam berapa sekarang?" Tanya Kinan pada dirinya sendiri, dia mengucek - ucek matanya dengan kedua tangannya.


Kinan membenarkan posisinya menjadi duduk, lalu dia melihat jam beker yang ada dinakas dekat tempat tidurnya.


"Sudah hampir jam 7 malam, Mas Aftar bangunlah!" Aftar menggoyangkan tubuhnya suaminya.


Perlahan-lahan Aftar membuka matanya, lalu dia tersenyum dan kembali menarik Kinan masuk ke dalam pelukannya.


"Mas, sudah jam setengah 7 malam loh." Kata Kinan, tapi Aftar semakin mempererat pelukannya pada Kinan.


"Mas, bangun!" Pinta Kinan, dia agak merengek manja.


Aftar membuka matanya, lalu Kinan bangun dari pelukan Aftar dan Aftar juga membenarkan posisinya menjadi duduk.


"Hoek...hoek...." Aftar berlari ke dalam kamar mandi, karena rasanya kembali mual.


Kinan tidak tahu suaminya ini kenapa?


"Mas Aftar dari tadi terus mual-mual, aku harus membawa Mas Aftar ke rumah sakit," batin Kinan dalam hatinya.


Kinan beranjak dari tempat tidurnya lalu dia menyusul Aftar masuk ke dalam kamar mandi untuk mengecek keadaan Aftar.


Kini Aftar sedang bersandar di tembok, raut wajahnya semakin pucat dan tubuhnya juga terlihat semakin lemas.


"Sayang, aku pusing sekali. Rasa mualnya tidak hilang-hilang," keluh Aftar dengan suara lirih.


Kinan tampak kawatir, sebenarnya suaminya ini kenapa? Kalau hanya masuk angin tapi kenapa terus merasakan mual, Kinan cek perutnya juga baik-baik saja tidak kembung.


"Kita ke Dokter saja ya mas, aku takut mas kenapa-kenapa," kata Kinan dengan begitu kawatir.


Aftar menganggukkan kepalanya, mereka langsung mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Setelah beberapa lama akhirnya mereka siap dan mereka langsung pergi menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Aftar dan Kinan langsung bertemu dengan Dokter pribadi Aftar. Aftar sedang di periksa dan Kinan duduk sambil menunggu Aftar di periksa.


Setelah selesai sang Dokter tersenyum pada Kinan dan Aftar, membuat Kinan menatap sang Dokter dengan tatapan begitu bingung.


"Dok, suami saya kenapa?" Tanya Kinan sambil menatap sang Dokter dengan tatapan begitu serius.


"Suami Nyonya baik-baik saja, tapi apa Nyonya sendiri ada tanda-tanda kehamilan seperti mual atau muntah?" Tanya sang Dokter, membuat Kinan semakin bingung.


"Saya, tidak ada keluhan apapun Dok." Jawab Kinan dengan begitu yakin.


Dokter menganggukkan kepalanya pertanda mengerti. "Boleh saya periksa Nyonya sekalian?" Tanya sang Dokter.


"Sayang, kamu periksalah!" Pinta Aftar.


"Apa Kinan hamil? Lalu aku yang mengalami mual-mual?" Aftar bertanya-tanya dalam hatinya.


Akhirnya Dokter memeriksa Kinan, Aftar sekarang sudah duduk sambil menunggu Kinan selesai di periksa.


Setelah melakukan pemeriksaan Kinan kembali duduk di sebelah Aftar.


"Dok, kenapa istri saya harus di periksa? Kan dia sehat Dok," tanya Aftar dia tampak bingung.


"Iya pak, karena istri anda ternyata sedang hamil." Jawab sang Dokter, sambil tersenyum.


Aftar ternganga tidak percaya. "Hamil?!" Aftar masih tidak percaya.


BERSAMBUNG 😘


Terimakasih para pembaca setia 😊


Selamat lebaran semua para pembaca setiaku bagi yang menjalankan, mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏


Salam saya dari Author buat semuanya 🤗