Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Obat tidur


"Karin.....!"


Aftar memalingkan wajahnya dengan kasar, Karin merasa kesal karena Aftar menolaknya.


"Kenapa? Kita ini sepasang kekasih." Karin melihat Aftar dengan tatapan tidak suka.


"Ini tempat umum, cepat masuklah ke dalam mobil. Kamu itu seorang artis jadi jangan sampai nama baikmu tercoreng, bukankah kamu sangat mencintai karirmu selama ini." Aftar meninggalkan Karin tanpa membukakan pintu mobil untuk Karin lebih.


Karin berdecak kesal, dia membuka pintu mobil Aftar dengan kasar dan dia masuk, dia juga menutup pintu mobil Aftar kembali dengan kasar.


Setelah Karin masuk ke dalam mobil, Aftar menyalakan mesin mobilnya dan langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah Karin.


"Kamu, nanti menginap di rumahku ya! Aku mau tidur sambil di peluk sama kamu," Pinta Karin dengan begitu manja.


"Aku tidak bisa, karena kamu bukan istriku." Tolak Aftar dengan tegas.


"Sayang, janganlah kamu terlalu kuno seperti itu. Apa harus menjadi suami istri dulu baru boleh tidur bersama?" Tanya Karin tidak percaya.


Karin sudah terpengaruh kehidupan di luar negeri, jadi wajarlah kalau pikiran dia sangat jauh berbeda dengan Aftar.


"Iya, hanya laki-laki dan perempuan yang sudah menikah yang bisa tidur bersama." Jawab Aftar dengan tegas.


"Ayo kita menikah kalau gitu." Ajak Karin penuh dengan semangat.


Aftar menggelengang kepalanya, tentu saja secara tidak langsung dia menolak Karin untuk menikah dengan dirinya.


"Sayang...." Kata-kata Karin terpotong.


"Kamu teruskan saja karir yang kamu cintai itu dan untuk hubungan kita aku tidak mau membahasnya saat ini." Sambung Aftar, yang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Aftar, pelankan laju mobilnya!" Karin tampak ketakutan, tapi Aftar tidak perduli.


Rasanya Aftar ingin segera sampai di rumah Karin dan dia ingin sekali cepat-cepat pulang.


Kinan


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Aftar belum juga pulang. Bahkan malam ini Kinan juga tidak makan malam karena terlalu malas hanya makan sendirian.


"Sudahlah, aku tidur saja!" Kinan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


Kinan gulang-guling malam ini tidurnya tidak nyenyak, bahkan lagi-lagi Kinan terbangun.


Kinan mengambil ponselnya yang ada di nakas meja dekat tempat tidurnya, lalu dia melihatnya.


Kinan melihat ada pesan masuk dan itu dari Ziyan Malik.


"Hay cantik, kamu masih mengingatku?" Dengan emoticon senyum.


Melihat pesan yang ada di ponselnya tiba-tiba Kian tersenyum.


"Setelah sekian lama, akhirnya kamu mengirim pesan padaku." Kinan tidak percaya.


Kinan membalas pesan.


"Tentu saja, aku masih ingat dengan Ziyan Malik cowok populer waktu kita SMA dulu." Balas Kinan dengan emoticon meledek.


Melihat balasan pesan dari Kinan, Ziyan tersenyum bahagia.


*Ziyan membalas pesan Kinan.


"Ternyata ingatanmu bagus juga. Kinan aku akan pulang dari luar negeri, nanti ketemu ya aku merindukanmu." Balas Ziyan*.


*Balas Kinan.


"Ingatan aku memang bagus dari dulu. Kamu kapan akan pulang?"


Balas Ziyan.


"Saat aku pulang, aku akan mengabarimu nanti*."


Kinan membaca balasan pesan dari Ziyan sekali-kali Kinan tersenyum.


Kinan menaruh ponselnya di atas nakas meja dekat tempat tidurnya, lalu dia memejamkan matanya dan tidur dan memilih untuk tidak memikirkan Aftar yang belum pulang dari kantornya.


_____


Aftar sedang di rumah Karin, karena Karin meminta di temenin makan malam jadi Aftar belum pulang.


Aftar sedang duduk di ruang tengah sambil menunggu Karin yang sedang menyiapkan makan malam.


"Biar Aftar tidur disini, aku harus memberikan dia obat tidur. Tapi janganlah nanti kalau dia tahu yang ada akan jadi masalah." Batin Karin dalam hatinya.


Karin kembali menaruh obat tidur yang ada di tangannya.


Aftar tampak gelisah, dia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 10 malam lewat.


"Aku harus cepat pulang, pasti Kinan sedang menungguku." Batin Aftar dalam hatinya.


Aftar beranjak dari tempat duduknya. "Karin, aku pulang dulu. Karena kakek menyuruhku pulang," Aftar pergi begitu saja.


Karin langsung berlari dari dapur mengejar Aftar, lalu tangannya langsung menarik tangan Aftar dengan kuat. "Apakah, tidak bisa pulang nanti?" Tanya Karin penuh harap.


"Maaf Karin, ini sudah malam. Kamu tidurlah, aku akan pulang dulu." Jawab Aftar, dia melepaskan tangannya dari tangan Karin.


Aftar pergi meninggalkan Karin begitu saja, betapa geramnya Karin bahkan kedua tangannya sudah mengepal dengan sempurna dan rasanya sangat marah sekali.


"Aku yakin, Aftar pasti menyembunyikan sesuatu dariku." Karin menduga-duga, apalagi sikap Aftar sudah banyak berubah.


Aftar langsung menaiki mobilnya, lalu dengan cepat mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasanya ingin sekali buru-buru sampai di rumah.


"Karin, aku tahu semuanya. Apa yang kamu lakukan di luar negeri sana aku tahu. Bahkan kamu tidur dengan laki-laki lain aku juga tahu semuanya." Batin Aftar dalam hatinya.


"Suatu saat aku akan membongkar semuanya, tapi tidak untuk saat ini." Aftar menghela nafasnya dengan pelan.


Waktu Vino bilang Karin sudah bahagia dengan laki-laki lain, Aftar terus kepikiran akhirnya Aftar menyuruh orang suruhannya untuk mematai-matai Karin disana.


Waktu melihat fakta-fakta yang di kirimkan oleh orang suruhannya. Aftar sangat kecewa dan marah sekali, tapi Aftar tidak ambil pusing Aftar menyikapi semuanya dengan tenang bahkan Aftar berusaha menyembunyikan rasa sakit hatinya di hadapan semua orang.


Terlebih kalau sedang bersama Kinan, seketika Aftar bisa melupakan semuanya tentang betapa menjijikkannya seorang Karin, wanita yang selama ini dia cintai, dia banggakan ternyata tega mengkhianatinya di belakangnya.


Aftar sengaja tidak membongkar semuanya itu saat ini. Aftar ingin Karin mengakui kesalahannya sendiri di hadapan Aftar. Tapi semua itu lihat nanti, akan kan Karin mengakui perbuatannya di hadapan Aftar sedangkan Karin selalu menyembunyikan semua itu dari Aftar.


___


Sesampainya di rumah, Aftar langsung masuk ke dalam rumah. Rumah sudah sangat sepi mungkin karena sudah begitu malam.


"Kinan, pasti dia sudah tidur." Aftar berjalan menuju ke kamarnya.


Dengan langkah pelan karena tidak mau membangunkan istrinya yang sudah tidur, Aftar akhirnya sampai di kamar.


Aftar melihat Kinan sudah tidur dengan begitu pulas. "Maaf, aku sudah menyeret kamu masuk ke dalam kehidupanku yang rumit ini," Aftar menatap wajah cantik Kinan yang sedang lelap tertidur.


Aftar berjalan menghampiri Kinan, lalu dia mengusap pucuk rambut Kinan dengan tangannya.


"Ternyata, kamu sangat cantik." Puji Aftar dalam hatinya.


Aftar tersenyum, ntahlah hatinya begitu bahagia melihat Kinan yang ada di atas ranjang tempat tidurnya malam ini.


"Tidurlah yang nyenyak!" Aftar diam-diam mencium kening Kinan dengan lembut.


Kinan hanya bergulat membuat Aftar kaget dan langsung buru-buru menjauh dari Kinan tidur.


"Aftar apakah kamu sudah gila?" Tanya Aftar pada dirinya sendiri dan Aftar menggelengang kepalanya, lalu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Aftar berganti pakaian dengan baju tidur. Lalu dia membaringkan tubuhnya di sofa.


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊