Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Kado untuk Kinan


Pagi yang cerah kini telah datang, seperti pagi biasanya Kinan selalu melakukan tugasnya sebagai seorang istri dengan baik.


Aftar yang sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya, tapi Kinan masih berbaring di atas tempat tidur tertutup selimut.


"Mas, aku males sekali bangun." Lirih Kinan dengan begitu manja. Aftar melangkahkan kakinya menuju ke tepi ranjang lalu dia duduk disana. "Istirahatlah, jangan kecapean ingat jaga kesehatan dan anak kita!" Jawab Aftar tangannya membelai rambut Kinan yang masih terlihat berantakan gara-gara bangun tidur.


Kinan menganggukan kepalanya, lalu sebelum dirinya berangkat ke kantor dia pasti mencium kening sang istri dengan hangat.


"Mas berangkat kerja ya, kamu jangan turun dari tempat tidur! Jika kamu butuh sesuatu panggil saja bibi," tutur Aftar raut wajahnya terlihat begitu kawatir.


"Semua pekerja di rumah pasti cutti mas. Kan kakek yang menyuruhnya cutti," jawab Kinan.


Aftar baru ingat kalau kakeknya menyuruh semua pekerja di rumahnya untuk senang-senang dengan ATM yang dia berikan.


"Apa aku ini terlalu manja mas?" Tanya Kinan sambil tersenyum simpul.


"Tidak sayang, biarpun kamu manja tidak ada salahnya karena kamu manja dengan suami kamu sendiri," Aftar mengecup sedikit bibir Kinan dengan lembut.


Setelah beberapa lama Aftar melepaskan ciumannya. "Mas, aku belum gosok gigi," Kinan tersenyum malu-malu.


"Dasar kamu ini, sudahlah mas berangkat kerja dulu. Mas sarapan di kantor," Aftar berlalu pergi dari dalam kamarnya.


Sanjaya juga sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya. "Kakek, mau kemana?" Tanya Aftar melihat kakeknya sangat rapi.


"Kakek ada urusan, sekalian mau membeli hadiah buat Kinan karena dia sudah mau mengandung calon cicit kakek," Sanjaya berlalu pergi begitu saja dari hadapan Aftar.


Aftar tersenyum, kakeknya saja membeli hadiah tapi dia malah tidak terpikirkan untuk membeli hadiah untuk istri tercinta.


"Aku juga mau membeli hadiah buat kamu sayang, Kinan ingin sekali bertemu dengan ibunya. Aku harus menyuruh orang suruhan aku untuk mencarinya," batin Aftar dalam hatinya.


Aftar berjalan keluar dari dalam rumahnya dia langsung pergi menuju ke kantor.


Sesampainya di kantor, Aftar langsung menuju ke ruangan Vino seperti biasa Aftar main masuk saja tidak mengetuk pintu lebih dulu.


"Pak Aftar," sapa Vino agak terkejut.


"Punya bos gini amat, selalu saja tidak mengetuk pintu lebih dulu kalau masuk ke dalam ruanganku. Untung saja tidak ada Caca di ruangku," gumam Vino dalam hatinya.


"Vin, aku aku ingin mencari ibunya Kinan." Kata Aftar, dia duduk di kursi yang terhalang oleh meja kerja Vino.


Vino terdiam, bukankah Kinan hanya hidup sebatang kara? Tapi bosnya ini tiba-tiba ingin mencari ibunya Kinan. Vino semakin tidak mengerti otaknya terus berputar.


"Maksudnya pak?" Tanya Vino.


"Ibunya Kinan masih hidup, kamu carilah dia! Suruh semua anak buahmu mencarinya dan ingat temukan ibu mertuaku secepatnya!" Jawab Aftar dengan tegas.


Vino mencerna kata-kata Aftar dan dia akhirnya paham. "Baik pak, saya akan mencari ibunya Nona Kinan. Jika sudah ada informasi saya akan sampaikan pada bapak," jawab Vino yang tidak kalah tegas.


Aftar menganggukan kepalanya, lalu dia beranjak dari tempat duduknya. "Ingat Vin, segera halalin Caca jangan pacaran terlalu lama! Karena yang ketiga adalah setan," tutur Aftar sambil tersenyum jail pada Vino.


Vino menganggukan kepalanya malas, sungguh bosnya ini suka sekali meledek dirinya.


"Dasar Pak Aftar, mentang-mentang sudah punya Nona Kinan." Gumam Vino dalam hatinya.


Setelah Aftar keluar dari ruangannya, Vino kembali melanjutkan pekerjaannya. Vino mengambil ponselnya lalu menelpon anak buahnya untuk mencari tahu tentang ibunya Kinan. Setelah selesai Vino kembali menaruh ponselnya di atas meja tapi belum sempat menaruhnya tiba-tiba ponselnya berdering.


Vino kaget, lalu menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.


"Hallo Vin," sapanya dengan nada lembut.


"Iya An, ada apa?" Tanya Vino.


"Vin, bagaimana kalau siang ini kita pergi makan siang bersama? Kamu kerja di kantor Sanjaya Group kan? Aku juga kerja di kantor yang dekat denganmu, ayolah kita makan siang bersama dan aku tidak menerima penolakan darimu!" Kata Anya dengan begitu bawel.


"Tapi An..."


"Tidak ada kata tapi, kita sudah lama tidak bertemu jadi ayolah Vin!" Anya memohon.


"Baiklah." Jawab Vino singkat.


"Hanya makan siang saja," batin Vino dalam hatinya.


"Yes, aku tunggu di restoran xx ya!" Kata Anya dan langsung mematikan saluran teleponnya.


Anya begitu girang bahkan dia jingkrak-jingkrak tidak jelas di ruangan kerjanya. Sungguh kali ini dia merasa bahagia apalagi laki-laki yang selama ini dia sukai, menerima ajakan makan siang bersamanya.


Vino menghela nafas panjang, sebenarnya dia malas tapi mau bagaimana lagi? Hanya makan siang saja tidak macam-macam pikir Vino dalam hatinya.


Vino kembali melanjutkan pekerjaannya, dia sekali-kali melihat layar ponselnya tapi tidak ada pesan masuk. Padahal saat ini dia sangat berharap mendapat pesan dari Caca, tapi sepertinya Caca sedang sibuk dengan pekerjaannya.


*****


Di sebuah mall, Sanjaya sedang berjalan-jalan sambil mencari kado untuk Kinan. Hari ini dia berjalan-jalan sendirian karena para pekerja di rumahnya juga sedang bersenang-senang karena suruhannya, tapi tenang saja ada dua pengawal pribadi yang di siapkan oleh Aftar untuk menjaga kakeknya tanpa sepengetahuan sang kakek. Karena kakeknya ini selalu saja tidak mau di kawal, tapi karena rasa kawatir jadi Aftar tetap menyuruh pengawal untuk mengikuti kakeknya.


Untung biarpun Sanjaya punya penyakit dalam tapi tubuhnya masih terlihat kuat dan lincah, hanya sekali-sekali dia memakai kursi roda karena tidak boleh kelelahan.


Sanjaya terus menelusuri mall dengan tongkat yang ada di tangannya untuk membantu dia berjalan, jika dia lelah sekali-kali dia duduk untuk istirahat.


"Apa yang kado yang cocok untuk cucu menantuku? Apa aku belikan dia mobil baru saja? Tapi Aftar pasti tidak akan memberikan izin Kinan naik mobil sendirian," Sanjaya terus berbicara sendiri.


Sanjaya terus berpikir kado apa yang cocok untuk cucu menantunya itu?


"Satu set perhiasan saja, ya itu sajalah!" Sanjaya berbicara dalam hati.


Sanjaya menuju ke toko perhiasan, dia membeli satu set perhiasan yang menurut dirinya cocok untuk cucu menantunya.


Setelah selesai memilih satu set perhiasan Sanajaya tersenyum. "Sangat cantik," gumam Sanjaya lalu langsung membayar perhiasan pilihannya, tentu saja biarpun hanya satu set perhiasan Sanjaya harus mengeluarkan kocek yang cukup besar demi cucu menantu kesayangannya itu.


Sanjaya keluar dari toko perhiasan, tiba-tiba ada seorang wanita cantik menghampirinya.


Wanita itu tersenyum begitu manis pada Sanjaya. "Kakek....." Panggilnya dengan nada lembut.


Sanjaya menoleh lalu mencari sumber suara tersebut, Sanjaya ternganga tidak percaya melihat wanita yang ada di hadapannya.


"Kamu.....!"


"Iya ini aku kek, kakek masih ingat denganku kan?" Tanyanya lagi dengan nada lembut.


Kira-kira Sanjaya bertemu dengan siapa?


BERSAMBUNG 😂


Terimakasih para pembaca setia 😊