
Kini Karin buru-buru keluar dari rumahnya dan buru-buru menaiki mobilnya, ntah mau kemana Karin pagi-pagi seperti ini?
Arga dan Vira.
Arga dan Vira, pagi ini mereka terlihat akur Arga juga sudah tidak sedingin biasanya sekarang Arga terlihat begitu hangat dan memperlakukan Vira dengan baik.
Kini mereka masih di kamar Arga sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja dan Vira sedang merapikan tempat tidur mereka.
"Farel, itu siapa?" Tanya Arga tiba-tiba, Vira yang sedang makan hampir saja tersedak mendengar nama Farel.
"Farel itu...." Vira menghentikan perkataannya karena merasa ragu.
"Vira katakan dengan jujur! Apa, kamu menjalin hubungan dengan laki-laki lain di belakangku?" Tegas Arga matanya terus menatap mata Vira dengan lekat.
"Farel itu sahabatnya Rasyah dan dia suka denganku dari dulu." Jawab Vira dengan jujur.
"Mana ponselmu?" Tanya Arga raut wajahnya tampak kesal.
Vira mengambil ponselnya yang ada di atas nakas meja, lalu memberikannya pada Arga. "Ini ponselku." Kata Vira ragu-ragu.
"Apa yang mau dia lakukan dengan ponselku?" Tanya Vira dalam hatinya.
Arga menggeser layar ponsel milik Vira, lalu mencari nama Farel yang ada di ponselnya Vira. Setelah menemukannya Arga langsung memblokir nama Farel dari ponsel Vira.
"Dasar laki-laki tidak tahu diri. Seenaknya saja dia menelpon istriku, apa dia sudah bosan hidup?" Batin Arga dalam hatinya.
"Ini ponselmu, aku mau berangkat kerja dulu. Ingat jangan biarkan dia menelponmu lagi!" Arga memberikan ponsel Vira pada Vira kembali.
"Memangnya kenapa? Bukankah setelah beberapa lama, kita akan berpisah." Vira menerima ponselnya, lalu menaruh kembali di atas meja dekat tempat tidurnya.
Arga mendengus kesal, rasanya ingin sekali menyentil jidat Vira. Tapi Arga tidak melakukannya karena tidak mau berdebat dengan istrinya itu.
"Aku tidak akan menceraikanmu!" Arga mencium kening Vira. "Aku berangkat kerja dulu, ingat jangan menerima telpon dari laki-laki lain lagi!" Kata Arga matanya di penuhi dengan ancaman untuk Vira.
"Kamu, tidak sarapan dulu?" Tanya Vira biarpun kesal, tapi Vira cukup perhatian dengan suaminya.
"Aku sarapan di kantor saja." Jawab Arga dan langsung berlalu pergi dari dalam kamarnya.
Setelah suaminya pergi, Vira hanya terdiam sambil memikirkan Arga.
"Arga, bilang saja kalau kamu cemburu." Vira tertawa dalam hatinya.
Sambil menyetir mobil, Arga mengoceh sendiri rasanya dia sangat tidak rela jika ada laki-laki lain menelpon istrinya.
Di kantor Aftar.
Melihat Karin datang, salah satu pegawai kantor Aftar ternganga tidak percaya bahkan satpam juga sudah mencegahnya masuk, tapi karena satpamnya masih baru dan Karin bilang kalau dirinya ini kekasihnya Aftar seketika langsung di perbolehkan masuk. Tentu saja satpam itu takut jika melarang Karin masuk, apalagi Karin bilang dia kekasih Aftar.
Dengan gaya sombong dan sok cantiknya, rambut panjang yang terurai, dress cantik di atas lutut, sungguh penampilan Karin agak terbuka, bahkan dia berani memakai dress yang sedikit memperlihatkan belahan dadanya.
Sesampainya di ruangan Aftar, Karin mengetuk pintu ruangan Aftar. "Tok..tok.."
"Masuk, pintunya tidak di kunci!" Jawab Aftar dari dalam ruangan.
"Ceklek." Suara gagang pintu dan Karin langsung masuk ke dalam ruangan Aftar.
Melihat Karin yang datang, Aftar tampak kesal. "Ada apa?" Tanya Aftar agak ketus.
Karin berjalan menuju ke tempat Aftar duduk, lalu dia mengalungkan tangannya ke leher Aftar. "Aku tahu, kamu sangat merindukanku, aku juga tahu kalau kamu marah gara-gara aku terus sibuk dengan karirku. Tapi aku mohon jangan bersikap cuek seperti ini sayang, aku akan tebus kesalahanku selama ini." Karin mencoba membujuk Aftar.
"Karin, jagalah sikapmu ini di kantor!" Aftar melepaskan tangan Karin dari lehernya.
Karin tampak terkejut, sungguh dirinya tidak habis pikir kalau Aftar bahkan akan berkata seperti saat ini.
"Sejak kapan Aftar bersikap aneh seperti ini? Bukannya dari dulu dia tidak pernah mempermasalahkan semuanya?" Tanya Karin pada hatinya.
"Aku sedang bekerja, jika ada urusan denganku nanti saja setelah pulang kerja!" Kata Aftar tiba-tiba, sungguh Karin tidak habis pikir karena ini pertama kalinya Aftar bersikap seperti ini pada dirinya.
Di rumah Sanjaya.
"Kinan, tolong antarkan berkas ini ke kantor Aftar ya nak. Nanti supir akan mengantarkan kamu." Sanjaya membawa berkas dari dalam kamarnya, lalu memberikannya pada Kinan.
"Baiklah kek," Jawab Kinan dan langsung berlalu pergi dari hadapan Sanjaya.
Kinan menuju ke kantor Aftar di antar oleh supir.
Di kantor Aftar.
Sesampainya di kantor Aftar, Kinan langsung masuk ke dalam menuju ruangan Aftar.
Belum sampai di ruangan Aftar, tiba-tiba ada suara yang sangat Kinan Kenal memanggil dirinya.
"Kinan..." Panggilnya dan Kinan menoleh. "Kak Caca?" Kinan tersenyum lalu Caca menghampiri Kinan. "Apa, aku boleh memelukmu? Pak Aftar tidak akan memecatku kan jika aku memeluk istrinya?" Kata Caca sambil bercanda.
"Kak Caca, tentu saja tidak." Kinan langsung memeluk Caca.
Setelah beberapa lama Kinan melepaskan pelukan dari tubuh Caca.
"Kak, aku ke ruangan suamiku dulu ya." Pamit Kinan dan di anggukin oleh Caca.
Kinan meninggalkan Caca yang masih berdiri menatap Kinan sedang berjalan.
"Sungguh nasib kamu sangat bagus Kin, bisa menikah dengan bos besar seperti Pak Aftar." Batin Caca dalam hatinya.
Di ruangan Aftar.
Karin masih berdiri dia masih setia menunggu Aftar yang sedang sibuk dengan kerjaannya.
"Sayang, kenapa kamu berubah sekali?" Tanya Karin dengan nada manja.
"Karin, diamlah aku sedang berkerja!" Kata Aftar dengan begitu dinginnya.
"Dasar wanita tidak tahu diri, aktingmu sangat bagus." Batin Aftar dalam hatinya.
Lagi-lagi Karin di buat tercengang dengan sikap Aftar yang begitu dingin.
"Aku yakin, Aftar sedang menyembunyikan sesuatu dariku." Batin Karin dalam hatinya.
"Sayang...." Karin kembali mengalungkan tangannya di leher Aftar.
"Tok.. tok....." Suara ketukan pintu.
"Masuklah, pintunya tidak di kunci!" Jawab Aftar dari dalam ruangan.
"Ceklek..." Kinan membuka gagang pintu ruangan Aftar, lalu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Aftar.
"Sayang, jangan jutek terus. Aku sangat merindukanmu," Karin mulai berglendotan manja di bahu Aftar.
Melihat Kinan yang datang dengan cepat, Aftar bangun dari tempat duduknya membuat kepala Karin juga tersingkir dari bahu Aftar.
"Mas...eh maksud saya Pak Aftar. Pak Aftar ini kakek bapak menyuruh saya mengatarkan berkas ini pada bapak." Karin menaruh berkas yang ada di tangannya di meja kerja Aftar.
"Apa dia wanita yang selama ini Pak Aftar tunggu? Sungguh, dia sangat cantik sekali." Batin Kinan dalam hatinya.
"Kinan, duduklah tunggu aku selesai kerja kita pergi makan siang bersama!" Aftar berjalan menghampiri Kinan dan tiba-tiba tangannya meraih tangan Kinan lalu menggemnya dengan erat.
Kinan berusaha melepaskan tangannya dari tangan Aftar. Tapi Aftar malah mempererat genggaman tangannya.
Tatapan mata Karin seketika berubah menjadi begitu garang, bahkan dia menatap Kinan dengan tatapan tidak suka.
"Sayang, gadis itu siapa?" Tanya Karin.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊