
"Dasar, mas mandi dulu ya. Nanti kita kangen-kangenan," bisik Aftar dengan manja.
Kinan hanya menganggukkan kepalanya dan Aftar langsung pergi menuju ke kamar mandi.
Sambil menunggu suaminya mandi Kinan berbaring di atas tempat tidur sambil membaca novel kesukaannya.
PERJODOHAN KARENA HUTANG 2
Kinan senyam-senyum sendiri, iya dia merasa baper dengan isi cerita novel yang dia baca.
Aftar yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dia terlihat bingung kenapa dengan istrinya itu? Bisa-bisanya dia senyam-senyum sendiri.
"Ada apa dengan Kinan? Apa jangan-jangan dia ketularan Vino?" Tanya Aftar pada dirinya sendiri, Aftar berjalan menuju ke ranjang tempat tidur lalu dia duduk di sebalah sang istri.
"Apa yang membuatmu senyam-senyum?" Tanya Aftar dengan nada lembut, Kinan menoleh lalu kembali tersenyum. "Aku sedang baca novel kesukaanku mas, ini bab terakhir dan ceritanya begitu bagus mas, aku suka banget." Jawab Kinan sambil tersenyum.
"Judulnya apa novelnya?" Tanya Aftar penasaran.
"Perjodohan Karena Hutang 2, kamu baca deh mas bagus kok ceritanya!" Jawab Kinan.
"Iya nanti mas baca, tapi malam ini bukannya kita mau kangen-kangenan?" Bisik Kinan, dia begitu jail pada istrinya bahkan bukunya yang ada di tangan Anin sudah di ambil oleh Aftar.
"Bacanya lain kali lagi! Sekarang, tugas kamu itu melayani mas!" Aftar menjatuhkan buku novel itu di lantai, lalu bibirnya langsung mencium bibir Kinan membuat mulut Kinan terbungkam.
Semakin lama ciuman Aftar semakin dalam, tangan Kinan juga sudah melingkar di leher Aftar, ciuman mereka semakin panas hingga keduanya sama-sama larut dalam buain yang begitu nikmat.
Malam semakin larut, belai-belaian di rasakan oleh Kinan dari suaminya. "Mas, kamu itu ya nakal sekali," lirih Kinan suaranya agak mendesah karena Aftar mer*m*s-r*m*s gunung kembar miliknya.
"Memangnya kenapa? Aku nakal pada istriku sendiri. Kamu tahu, mas dari kemarin sangat merindukanmu." Bisik mesra Aftar di telinga Kinan.
Kinan hanya tersenyum dan mereka kembali melanjutkan pergulatannya di atas ranjang tempat tidur dengan begitu nikmat. Dengan penuh erangan, desahan, kini keduanya akhirnya sama-sama mencapai puncaknya.
Setelah lelah dengan bergulatan mereka di atas ranjang tempat tidur, mereka sama-sama masuk ke dalam selimut dan menyelimuti tubuh mereka yang sudah polos seperti toples. Pokoknya malam ini Aftar sungguh menikmati rasa kangen bersama istrinya.
****
Pagi hari seperti biasanya Aftar berangkat kerja sedangkan Kinan hanya diam di kamar karena badannya terasa pegal gara-gara ulah sang suami semalam.
"Mas Aftar itu, sudah tahu aku sedang hamil dan kehamilanan sudah mau berjalan 7 bulan, tapi dia malah membuatku kerja keras tadi malam," kata Kinan. Sambil berbaring di atas ranjang Kinan terus mengoceh sendirian.
Mengingat kehamilannya sudah mau mencapai 7 bulan. Kinan beranjak dari tempat tidurnya lalu dia pergi menuju kamar mandi, dia mandi setelah selesai mandi Kinan bersiap-siap untuk pergi ke kantor suaminya.
"Aku mau membicarakan acara 7 bulanan sama Mas Aftar. Aku ajak kakek tidak ya? Tapi tidak usahlah, nanti kalau sudah bicara sama Mas Aftar baru aku bicara sama kakek." Kinan berbicara sendiri, dan dia berlalu keluar dari dalam kamarnya.
"Kamu mau kemana rapi sekali nak?" Tanya Sanjaya yang sedang membaca koran di kursi yang berada di atas teras depan rumahnya.
Kinan menghentikan langkah kakinya, lalu menoleh ke arah Sanjaya. "Kakek, Kinan mau ke kantor Mas Aftar." Jawab Kinan dengan nada lembut.
"Iya nak, kamu hati-hatilah! Ingat, jangan terlalu kecapean ya, jaga kandunganmu dengan baik ya!" Tutur Sanajaya, tentu saja dirinya merasa kawatir pada cucu menantu nya itu apalagi kehamilannya sudah mau 7 bulan.
"Siap kakek, Kinan ke kantor Mas Aftar dulu ya kek." Kinan menyalami tangan Sanjaya lalu mencium punggung tangannya.
Sanjaya tersenyum, lalu Kinan berlalu pergi dari hadapan Sanjaya. Kinan pergi dengan di antar supir pribadi keluarga Sanjaya.
****
Di kantor Aftar, Aftar sedang sibuk dengan laptopnya karena ada kerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.
Vino juga berada di ruangan Aftar, Vino juga sedang sibuk dengan laptopnya.
"Lancar pak, harga saham disana juga naik dratis pak." Jawab Vino, Aftar mengangguk pertanda mengerti.
Kini mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
*****
Kinan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor Aftar, tangannya juga penuh dengan tentengan yang berisi makanan dan berbagai kopi hangat siap minum untuk semua teman-teman kerjanya dulu waktu dia masih menjadi cleaning servis. Dan sekarang Kinan sudah menjadi istri pemilik perusahaan tempat dirinya kerja dulu.
Melihat kedatangan Kinan ke dapur teman-temannya ternganga tidak percaya, mereka berpikir untuk apa Kinan datang ke dapur? Padahalkan jika Kinan butuh sesuatu Kinan bisa saja menyuruh salah satu cleaning servis di kantor suaminya.
"Nyonya Kinan," sapa para cleaning servis yang dulu satu kerajaan dengan Kinan dan mereka sekarang memanggil Kinan dengan sebutan Nyonya.
"Kalian, cukup panggil aku Kinan saja seperti dulu! Oh iya aku bawakan makanan dan kopi hangat buat kalian semuanya, makanlah dulu! Aku ke ruangan suamiku dulu ya," pamit Kinan setelah menaruh semua makanan dan kopi di atas meja dapur tempat biasa mereka makan bersama.
Semuanya merasa senang dan mengucapkan terimakasih pada Kinan, mereka juga bahagia biarpun Kinan sudah menjadi istri dari bos mereka tapi Kinan masih sangat ramah dan tidak sombong.
Kinan menuju ke ruangan Aftar, dia bertemu dengan Caca yang sedang berjalan ke dapur.
"Kak Caca," sapa Kinan sambil melihat Caca yang terlihat bahagia.
"Kak Caca sepertinya bahagia sekali, ramuan apa yang diberikan sekretaris Vino padamu?" Tanya Kinan penuh selidik, Kinan yakin pasti telah terjadi sesuatu di antara Caca dan Vino.
Caca melebarkan senyumnya. "Ya ramuan apalagi lagi, kalau bukan ramuan cinta dari Vino." Jawab Caca sambil senyam-senyum. "Sudahlah Kin, aku lanjutkan pekerjaanku dulu ya!" Caca berlalu pergi begitu saja.
Kinan geleng-geleng kepala, sungguh kali ini dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya ini? Gara-gara sekretaris Vino Caca menjadi seperti orang yang tidak waras.
"Sudahlah, aku ke ruangan suamiku saja." Kinan berbicara sendiri dan dia berjalan menuju ke ruangan suaminya.
Kinan melangkahkan kakinya, bahkan pegawai-pegawai Aftar yang melihatnya mereka dengan sopan menyapa Kinan.
"Dulu mana pernah, aku di sapa oleh mereka semua? Apalagi aku hanya seorang cleaning servis, sekarang aku begitu di hormati. Sungguh bahagia sekali," batin Kinan dalam hatinya.
Sesampainya di ruangan Aftar, Kinan langsung masuk ke dalam ruangan Aftar.
"Tok..tok.." Kinan mengetuk pintu.
"Masuklah!" Sahut Aftar dari dalam ruangannya.
Kinan membuka pintunya lalu dia melangkahkan kakinya ke ruangan kerja suaminya.
"Sayang, ada apa? Tumben datang ke kantor menelponku dulu." Tanya Aftar yang terlihat agak kawatir.
"Ada yang mau aku bahas dengan kamu mas." Jawab Kinan dia berjalan menuju suaminya duduk lalu duduk di pangkuan sang suami. Tenang saja Vino sudah keluar dari ruangan Aftar dari tadi.
"Kamu mau bahas apa? Apa semalam tusukan dari mas masih kurang?" Tanya Aftar dengan jail.
"Mas, kamu ihhh!! Ada hal yang lain yang mau aku bahas denganmu," kata Kinan agar sang suami tidak berbuat macam-macam di dalam ruangannya.
"Baiklah, katakan!" Pinta Aftar.
BERSAMBUNG 😁
Terimakasih para pembaca setia 🤗
Maaf baru up, baru selesai acara. 🙏