Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Melysa Permata


Beberapa bulan telah berlalu, hari yang begitu cerah Caca tiba-tiba merasakan mules pada perutnya, Vino yang sedang memakai bajunya dia langsung panik dan menghampiri Caca yang terus memegangi perutnya sambil terus merintih kesaktian.


"Mas.....sakit sekali."


"Kamu kenapa sayang?"


"Mas perut aku sakit sekali, sepertinya mau melahirkan."


"Sayang, tahanlah! Kita ke rumah sakit sekarang!"


Vino langsung mengangkat tubuh Caca masuk ke dalam mobil. Lalu Vino membaringkan Caca di jok belakang.


"Tahan sayang!" Vino begitu kawatir, dia langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat.


"Sakit mas, achh....."


Mendengar suara rintihan sang istri, rasanya Vino ingin sekali buru-buru sampai di rumah sakit.


"Sstt...." Vino menghentikan mobilnya dan buru-buru membawa Caca masuk ke dalam rumah sakit.


Caca sudah di taruh di atas bankar. "Pak, silahkan di tunggu ya!" Kata salah satu suster.


"Apa saya tidak boleh masuk ke dalam ruangan persalinan?" Tanya Vino, dia ikut mendorong bankar itu sampai di depan ruang persalinan.


"Maaf pak, tidak bisa." Jawab sang suster dengan sopan.


Vino menganggukkan kepalanya pertanda mengerti, kini dia menunggu Caca sambil duduk. Hati dan perasaannya begitu takut dan sangat kawatir.


"Sayang, berjuanglah. Mas mencintai kamu," batin Vino dalam hatinya.


Di dalam ruangan persalinan Caca sedang berjuang melahirkan anak pertamanya, dengan kuat dan usaha Caca terus mengikuti apa yang di katakan oleh Dokter.


Nafas Caca ngap-ngapan, kini dia terus berusaha dengan kuat dan setelah beberapa lama akhirnya tangisan seorang bayi keluar.


Betapa leganya Caca, rasa sakitnya seketika menjadi rasa bahagia dalam hatinya.


"Tunggu sebentar ya Nona," kata suster tapi Caca tiba-tiba memejamkan matanya, mungkin karena kelelahan.


Vino masih gusar, tiba-tiba ponselnya berdering dan ternyata itu telpon dari Aftar. Vino mengangkat telepon dari Aftar.


"Vin, kamu dimana?"


"Aku di rumah sakit bos, istriku sedang melahirkan."


"Caca sudah melahirkan?"


"Masih di dalam ruangan persalinan, bos."


"Baiklah, kamu urus istri kamu saja untuk kerjaan nanti aku urus dengan yang lain."


"Baik bos, terimakasih."


Aftar mematikan saluran teleponnya dan dia kembali fokus dengan kerjaan, sedangkan Vino masih gusar menunggu kabar dari dalam ruang persalinan.


Kini Dokter keluar memberikan kabar bahagia untuk Vino.


"Suami ibu Caca?"


"Saya Dok, bagaimana anak dan istri saya Dokter?" Vino terlihat begitu kawatir, hatinya masih belum tenang.


"Semuanya baik-baik saja Pak, dan anak anda perempuan pak."


Vino tidak tahu harus berkata apalagi? Yang jelas saat ini hatinya begitu bahagia dan hanya rasa syukur yang bisa dia ucapkan.


"Saya, permisi dulu Pak. Oh iya nanti anak dan istri bapak akan dipindahkan ke ruang rawat." Kata Dokter sebelum berlalu pergi dari hadapan Vino.


"Terimakasih Dok." Vino tersenyum, kali ini hatinya begitu tenang.


Kini Vino dan Caca sudah berada di ruang rawat, Caca begitu bahagia melihat putri kecilnya yang begitu cantik yang saat ini sedang dia pangku. Bayi yang masih merah itu seperti sedang mencari p*t*ng Caca.


"Sayang, cantik sekali anak kita, lihat hidungnya sangat mirip denganku!" Vino tersenyum, dia begitu bahagia bahkan tidak tahu mau berkata apalagi?


"Iya mas, mau di kasih nama siapa mas anak kita?" Tanya Caca pada Vino.


Caca mengangguk, dia setuju dengan nama pemberian dari Vino. "Di panggilnya Melly," ujar Caca sambil tersenyum.


Jam menunjukkan pukul 5 sore, Kinan dan Aftar, Vira dan Arga dan anak-anak mereka pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Caca dan bayinya yang baru lahir.


Aftar dan Kinan sudah sampai di rumah sakit, Arga dan Vira juga sama sudah sampai di rumah sakit, karena mereka janjian jadi sampai di rumah sakit bersamaan.


"Calon mantu mama, lihat cantik sekali." Kinan menyentuh lembut pipi Kimmy.


"Ken juga sangat tampan, lihat nak calon suamimu di masa depan," kata Vira dia terlihat begitu antusias.


Aftar dan Arga saling melempar tatapan perang, mereka masih tidak setuju dengan ide-ide konyol istri-istri mereka.


"Sudahlah, ayo masuk!" Aftar mengandeng tangan Kinan, dia juga mengambil Kenzo dari gendongan Kinan.


Arga dan Vira mengikuti langkah kaki mereka, Aftar menghentikan langkah kakinya dia bertanya pada salah satu suster, Caca berada di ruangan mana?


"Ruangan X1 no 1."


Aftar dan yang lainnya langsung menuju ke ruangan Caca. Kini mereka sama-sama masuk ke dalam ruangan Caca..


"Kak Caca."


"Caca....."


Vira dan Kinan sama-sama memeluk Caca dengan hangat.


"Selamat ya kak, bayinya lucu sekali." Kata Kinan dan Caca mengangguk pelan.


"Akhirnya launching, selamat ya Ca. Anaknya laki-laki atau perempuan?" Tanya Vira, dia begitu antusias melihat bayi yang masih merah di pangkuan Caca.


"Perempuan Vir," jawab Caca. Membuat Vira terdiam. "Jadi anak-anak kita harus bersaing mendapatkan Kenzo," gumam Vira pelan.


Caca mengangguk penuh semangat, Kinan hanya diam sambil menahan tawanya.


"Masih saja memikirkan masalah bayi-bayi ini," Kinan tertawa dalam hatinya.


Vira melihat ke arah Kinan, Kinan juga membalas Vira dengan tatapan penuh tanda tanya?


"Kin, katakan kamu mau besanan dengan siapa?" Tanya Vira antusias, Kinan masih bengong.


"Besanan dengan Vino, aku tidak mau besanan dengan mantan dari istriku." Sahut Aftar yang mendengar pertanyaan Vira.


"Aish, siapa juga yang mau besanan dengan kamu Aftar." Arga menggelengkan kepalanya.


Vino senyam-senyum penuh kemenangan, dia bahagia jika Aftar meminta dirinya sebagai besannya. Hanya saja dia tidak tahu, akan seperti apa takdir anaknya nanti?


"Takdir tidak ada yang tahu," ujar Vino sok bijak seperti biasanya.


"Sudah-sudah, biarkan anak-anak kita yang menentukan jodoh masing-masing. Kalau aku besanan dengan siapa saja mau," tandas Kinan agar tidak sampai terjadi perdebatan di antara mereka semua.


Vino ikut bergabung duduk di sofa bersama Aftar dan Arga.


"Tumben, mau duduk bersebelahan. Apa kalian sudah berbaikan?" Goda Vino dengan jail.


"Tentu saja tidak ada kata baikan antara aku dan manusia ini," tandas Arga.


"Apalagi aku," sambung Aftar tidak mau mengalah.


Ketiga istri-istri mereka sama-sama menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Lihat suami-suami kita!" Kata Caca mendengus kesal.


"Sudahlah, mereka memang sama-sama somplak." Sambung Kinan malas, dia tahu suaminya ini pencemburu berat jadi mending diam saja.


Pada hari ini akhirnya Caca melahirkan anak pertamanya yang diberi nama Melyssa Permata. Vino dan Caca juga sangat bahagia, karena yang di nantinya selama ini akhirnya lahir ke dalam dunia ini.


Kian, Aftar, Arga, Vira, Kimmy dan Kenzo juga turut hadir di tengah-tengah kebahagiaan keluarga kecil Caca dan Vino.


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 😘