
"Maaf, jangan sentuh suamiku!" Melly menatap Tari dengan tatapan sengit.
Tari ternganga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Melly.
"Haahh suami?!"
Tari ternganga kaget, dia tidak percaya jika seorang pengusaha muda seperti Kenzo itu ternyata sudah menikah.
"Iya dia suamiku, kenalkan saya adalah Nyonya Kenzo Wijaya, mungkin saya disini hanya kerja sebagai sekretaris tapi saya adalah istri sah Bapak Kenzo Wijaya." Melly memperkenalkan dirinya dengan tegas.
Tapi Tari malah menatapnya tidak suka, bahkan Tari juga tidak mau menerima uluran tangan Melly yang hendak menjabat tangannya.
"Iya Bu Tari, Melly adalah istri saya." Sambung Kenzo sambil tersenyum pada Tari.
Tapi Tari malah membuang muka dan tanpa berpamitan Tari langsung pergi begitu saja dari ruangan meeting itu.
"Saya sudah tidak sudih bekerja sama dengan perusahaan anda, menyesal saya sudah datang ke perusahaan anda!" Tandas Tari sebelum meninggalkan ruangan meeting.
"Tidak apa-apa Bu, perusahaan ibu tidak bekerja sama dengan perusahaan suami saya, saya rasa itu akan lebih baik." Sahut Melly, dia nyengir lebar pada Tari.
Tari keluar dari ruangan meeting itu, lalu dia menutup pintu ruangan meeting itu dengan begitu kasar.
Melly langsung menatap Kenzo dengan kesal, biasalah bawaan ibu hamil ini moodnya kadang bagus kadang juga jelek.
"Mas, cari klien yang laki-laki!" Melly duduk di kursi sebelah suaminya.
"Untuk apa sayang?" tanya Kenzo, sambil menatap gemas Melly yang sedang manyun.
"Untuk menunjukkan pesonaku, biar tidak mas saja yang bisa tebar-tebar pesona di hadapan wanita lain," sahut Melly dengan raut wajah terlihat kesal.
Kenzo tersenyum dalam hatinya, dia tahu pasti istrinya ini sedang cemburu pada dirinya.
"Sayang, kecantikan kamu hanya milik mas dan tidak boleh kamu tebar-tebar pesona pada laki-laki lain, karena hanya mas yang bisa menikmati kecantikan kamu." Tegas Kenzo, dia beranjak dari tempat duduknya.
Kenzo mengangkat tubuh Melly, lalu menaruh Melly di atas meja meeting.
"Mas mau apa? Jangan macam-macam! Ini di ruangan meeting!" Melly menahan wajah Kenzo agar tidak melakukan lebih.
Kenzo hanya cuek, dia mengambil sebuah remote kecil, lalu menekan kodenya dan ruang meeting itu seketika tertutup rapat bahkan pintu juga terkunci.
"Mas ini apa?" tanya Melly bingung.
"Setelah resmi menikah dengan kamu, mas mengubah ruangan agar bisa menjadi tertutup karena biar mas bisa berbuat m*s*m dimana saja, termasuk di ruangan meeting ini." Tutur Kenzo, sungguh ini membuat Melly merasa geli.
Ternyata otak m*s*m suaminya ini lebih-lebih dari yang Melly bayangkan.
"Mas, kamu ini ih, sebentar lagi kamu akan punya ekor, jika kamu berbuat seperti ini di depan anakmu, entah apa yang akan terjadi di masa depan nanti?" Melly geleng-geleng kepala, tapi Kenzo tersenyum senang.
"Sayang, yang namanya buah itu tidak akan jatuh jauh dari pohonnya, jadi kamu terima saja jika anak kita nanti memiliki sifat sepertiku," jawab Kenzo sambil mengedipkan satu matanya.
Melly mengangguk, terserah Kenzo saja karena dimana-mana Kenzo lah yang paling benar dan dia juga tidak akan mau mengalah.
"Apa kamu sudah setuju?" tanya Kenzo, yang sudah tidak tahan ingin sekali memakan Melly.
"Setuju apa mas?" Melly balik bertanya dengan tatapan bingung.
Tanpa berbicara lebih, Kenzo dengan kasar langsung ******* bibir Melly, Melly terlihat gusar karena belum siap dengan serangan suaminya ini.
Nafas Melly mulai engap-engapan tapi nafas Kenzo begitu memburu, Kenzo melepaskan ciuman itu sejenak, kini dia membiarkan Melly bernafas lega.
"Mas jangan main nyosor seperti soang dong!" Omel Melly, sambil mengelap bibirnya dengan tangannya.
Kenzo tersenyum jail. "Sembarangan, suami setampan ini kamu bilang seperti soang, Melly sayang seperti mas harus memberikan cinta yang lebih buat kamu!" Kenzo tersenyum begitu m*s*m.
Melly terdiam, dia paham apa yang di maksud cinta yang lebih oleh suaminya.
"Mas, ini masih di kantor, di rumah saja nanti!" Cegah Melly sebelum Kenzo melakukan lebih.
Tapi Kenzo tidak mau mendengarkan sama sekali, dia malah memulai aksi panasnya di atas meja meeting.
"Mas jangan seperti ini!" pinta Melly sambil menatap Kenzo.
Melly yang tadinya menolak juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan pakaikan Melly juga sudah entah tidak beraturan karena ulah suaminya.
Kini keduanya melakukan dengan begitu panas, Melly juga mulai menikmati permainan Kenzo.
"Sayang, jika kamu terus-terusan menjadi sekretaris mas, bagaimana mas bisa fokus kerja?"
"Melihat kamu saja mas tergoda, bahkan suka tidak kuat, menahan sampai rumah juga itu tidak akan mungkin sayang."
"Melly sayang, mas sangat mencintai kamu dan hanya ada kamu yang ada di hati mas!"
"Mas saja yang otaknya m*s*m!" Melly malah mengomeli Kenzo.
Kenzo terus menuturkan kata-kata mesra sambil terus melakukan aksinya, Melly juga hanya bisa mend*s*h manja merasakan sentuhan demi sentuhan dari suaminya.
Setelah beberapa lama melakukan pertempuran akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncaknya.
Kenzo langsung menjatuhkan tubuhnya di samping Melly, sungguh pakaian keduanya sudah entah kemana?
"Terimakasih istriku, mas itu tidak ada puasnya bersama kamu." Kata Kenzo, dengan lembut Kenzo mencium kening Melly.
"Mas kamu jadikan aku acak-acakan tidak jelas, sungguh kamu itu ya." Melly malah mengomel, tapi lagi-lagi Kenzo malah tersenyum senang.
"Tapi enakkan?"
"Mas juga mau di acak-acak sayang."
Kenzo malah menggoda Melly, sungguh Kenzo ini memang menyebalkan menurut Melly.
"Siapa juga yang mau ngacak-acak mas? Sudah bangun mas, ambilkan pakaianku!" Kata Melly dan Kenzo bangun.
Kenzo memungguti pakaian yang dia buang sembarangan, kini keduanya sama-sama memakai kembali pakaian mereka.
Di depan ruangan meeting, banyak pegawai yang sedang berdiri di depan sana karena ada meeting juga. Tapi mungkin Kenzo lupa dan dia malah main tempur-tempuran sama istrinya.
"Pak Ken, tidak ada di ruangannya." Kata salah satu pegawai.
"Kemana Pak Ken? Bukannya siang ini ada meeting, ini malah tidak tahu kemana?" sahut salah satu pegawai.
Kenzo dan Melly kini sudah memakai pakaian mereka, lalu mereka juga tidak lupa membereskan meja tempat pergelutan manja mereka tadi.
Setelah selesai mereka sama-sama keluar dari dalam ruangan meeting.
Betapa terkejutnya Kenzo dan Melly melihat di depan ruangan meeting begitu rame.
"Ada apa?" tanya Kenzo, agak gugup.
"Pak Ken, bukannya siang ini kita ada meeting dan Pak Ken...." pegawai itu tidak berani melanjutkan kata-katanya.
Kenzo mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sungguh kenapa bisa lupa sekali kalau siang ini ada meeting.
Betapa malunya Kenzo jika ketahuan habis ehem-ehem dengan istrinya, beruntung Kenzo sudah merubah semua ruangan meeting yang bisa menjadi ruangan pribadi untuk dirinya dan istrinya.
"Ahh saya tadi habis berdiskusi dengan istri saya, kalian ayolah masuk!" Jawab Kenzo, aish rasanya sungguh nano-nano.
"Diskusi ehem-ehem, aish bisa khilaf setiap hari aku kalau Melly terus-terusan menjadi sekretarisku," batin Kenzo dalam hatinya.
Salah satu pegawai lainnya menahan tawanya sambil melihat rambut Melly yang masih berantakan karena lupa di benarkan.
"Berdiskusi tapi rambut Bu Melly yang acak-acakan, sungguh diskusi apa yang mereka lakukan?" batin pegawai itu dalam hatinya.
Beberapa pegawai lainnya juga hanya bisa menahan tawanya, mereka tahu seperti apa Kenzo? Peraturan larangan pacaran saja dia buat dan di langgar sendiri. Mereka juga paham diskusi suami-istri ini tidak mungkin masalah uang atau kantor kan? Pasti diskusi ehem-ehem penuh cinta, itu yang ada di otak para pegawainya saat ini.
Kini semua pegawai itu masuk ke dalam ruangan meeting, Melly hanya diam sungguh rasanya seperti ke tangkap hansip di siang bolong, ini semua karena ulah suaminya yang tidak sabaran.
Akhirnya mereka melakukan meeting mereka di ruangan meeting itu.
BERSAMBUNG
Terimakasih para pembaca setia