
"Kak, ini ada surat...." Kalandra mengambil surat dari dalam laci nakas dekat tempat tidur sang buyut.
"Ini surat apa?" Tanya Kenzo, dan akhirnya mereka membuka surat itu bersama-sama.
"Kalandra, Kenzo, kalian adalah cicit-cicit kesayangannya papa besar. Harapan papa besar sebelum pergi untuk selamanya, hanya ingin kalian menikah dan mempunyai rumah tangga yang bahagia. Ken, Kalan, carilah istri secepatnya! Papa besar juga merasa kalau Melly cantik itu akan cocok untuk salah satu dari kalian, papa besar tahu kalian seperti apa selama ini? Kadang Ken yang suka diam-diam memperhatikan Melly, dan Kalandra yang lebih jelas memberikan perhatian pada Melly, papa besar berharap di antara kalian ada yang benar-benar menyukai Melly, agar Melly bisa menjadi cicit menantuku."
Kenzo dan Kalandra hanya bisa bersama-sama menghela nafas pelan. Kini mereka saling tatap menatap, tapi Melly hanya menatap mereka dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Apa kak, isi surat dari papa besar?" Tanya Melly yang merasa penasaran.
Kenzo dan Kalandra sama-sama menatap Melly, mereka tidak bingung haruskah mereka memberitahu isi dari mendiang bututnya pada Melly? Sedangkan mereka saja masih sama-sama bingung dengan hati mereka? Apalagi saat ini keduanya juga sama-sama belum ingin menikah sama sekali.
"Bukan apa-apa Mell, ayo kita pergi temui mama dan papa. Pasti mereka sangat sedih akan kepergian papa besar untuk selamanya," ajak Kenzo sengaja mengalihkan pembicaraan Melly.
Mereka sama-sama keluar dari dalam kamar Sanjaya, lalu mereka berjalan menuju ke ruang keluarga. Di ruang keluarga hanya ada keheningan dan tentunya semuanya masih kalut dengan kepergian Sanjaya yang begitu mendadak.
Kinan Sanjaya masih menangis di pelukan suaminya, Caca juga menangis di pelukan Vino, para Art juga semuanya menangis mengingat Sanjaya begitu baik selama ini pada mereka.
Herlin menghampiri kedua cucunya yang baru saja keluar dari dalam kamar almarhum sang buyut.
"Ken, Kalan, Melly, ajak orang tua kalian makan! Mereka hanya menangis dari tadi. Nenek sudah pesankan makanan untuk mereka," tutur Herlin dengan nada lembut.
Mereka bertiga mengangguk dengan kompak tentu saja mereka tahu, apa yang di maksud oleh neneknya ini.
"Iya nek, kalau belum makan. Sebaiknya nenek juga makan dulu!" Sambung Melly dengan nada lembut, Herlin tersenyum pada Melly.
"Melly tumbuh menjadi gadis yang cantik dan dia sangat sopan pada orang yang lebih tua. Apa Ken dan Kalandra tidak ada yang menyukainya?" Tanya Herlin dalam hatinya.
Herlin menganggukkan kepalanya, dia menuju ke meja makan. Sedangkan Ken, Kalandra dan Melly, merdeka pergi untuk mengajak orang tua mereka untuk makan.
"Mama, papa, ayo makan! Nanti kalian sakit," kata Kenzo dan Kalandra pada mama dan papanya.
"Iya ma, mama dan papa juga makan. Kasian nenek sudah menyiapkan makanan untuk mereka," kata Melly pada kedua orang tuanya.
Aftar, Kinan, Caca dan Vino sama-sama beranjak dari tempat duduknya lalu mereka pergi ke meja makan.
Di meja makan semuanya menikmati makanannya dengan malas, apalagi hati mereka semua sedang bersedih karena orang yang begitu menyayangi mereka semua sudah pergi untuk selamanya.
Kenzo, Kalandra, Melly, mereka saling menatap satu sama lain. Kali ini mereka hanya bisa berharap, mudah-mudahan orang tua mereka tidak larut dalam kepedihan. Karena kasian Sanjaya di surga sana.
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 🤗
Maaf baru update, hari ini sibuk banget karena sedang melakukan proses insyaallah menuju halal. Jadi benar-benar sibuk banget 🙏🙏