
Pagi menujukan pukul 6, Aftar sudah bangun terlebih dahulu sedangkan Kinan masih tidur dengan nyenyak. Mungkin karena semalam Kinan habis berperang dengan Aftar jadi ya wajar kalau Kinan kelelahan.
Aftar menatap wajah cantik Kinan, jari-jarinya memainkan hidung mancung Kinan dengan lembut.
"Hanya ingin di lamar, kamu sampai merajuk. Dasar istriku yang manja."
"Aturan kamu bilang saja sayang, sudah tahu kalau suamimu ini tidak terlalu peka dalam urusan wanita."
Tatapan Aftar semakin lekat, rona sinar bahagia terpancar di wajah tampannya.
"Untung istri cuma satu, kalau lebih pasti kepalaku sudah pusing tujuh keliling."
Kinan tiba-tiba membuka matanya, ternyata dari tadi dia sudah bangun hanya saja dia tidak bilang pada Aftar.
"Memangnya, mas mau mau punya istri berapa banyak?" Tanya Kinan, matanya membulat sempurna bibirnya juga sudah manyun lima senti.
Aftar meringis penuh salah, selalu saja mulutnya ini tidak bisa di jaga. Baru semalam berbaikan dan sekarang sudah membuat ulah lagi.
"Jangan sampai Kinan merajuk lagi atau akan tidur di sofa lagi," batin Aftar dalam hatinya.
"Hanya satu sayang, istri mas hanya kamu." Jawab Aftar, dengan lembut Aftar mencium bibir Kinan.
"Awas saja jika mas punya wanita lain atau mas mau punya istri lebih dari satu." Tatapan Kinan penuh ancaman.
"Tidak akan, tapi kalau kamu menyuruh mas buat nambah istri akan mas pikirkan," canda Aftar dan langsung di tatap garang oleh Kinan rasanya pingin sekali mencakar-cakar sang suami.
"Mas Aftar.....!!!
"Tidak sayang, hanya bercanda." Aftar langsung memeluk Kinan sebelum Kinan mengamuk.
Kini Kinan merasa nyaman di pelukan suaminya, dengan penuh kasih sayang Aftar mencium kening Kinan dengan lembut.
"Mas hanya mencintaimu, Kinanti Alisya." Kata Aftar dengan sorot mata penuh rasa tulus.
Aftar hendak kembali mencium bibir Kinan kembali, tapi tiba-tiba ponselnya berdering. Aftar mendengus kesal, lalu dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya.
"Siapa mas?" Tanya Kinan.
"Vino sayang, sebentar ya mas angkat dulu." Aftar menggeser tombol hijau yang ada di layar ponselnya.
"Selamat pagi, bos......" sapa Vino dengan begitu antusias.
"Aish, kamu itu menganggu saja. Inikan hari libur, aku juga masih di atas kasur." Omel Aftar, tapi Vino malah tertawa dari seberang sana.
"Malah tertawa, katakan ada apa?" Tanya Aftar agak jutek.
"Bos, tidak lupa dengan taruhan kita kan?" Vino mengingatkan Aftar.
"Aku sampai lupa, aku kalah dan salah satu mobilku harus menjadi milik Vino." Gumam Aftar dalam hatinya.
"Iya iya aku tidak lupa dengan taruhan kita, siang ini datanglah ke rumah! Ajak juga Caca, biar aku percaya kalau kamu itu benar-benar di terima lamarannya," kata Aftar dan dia mematikan saluran teleponnya.
Vino terlihat begitu girang, sungguh pagi ini dia seperti habis memenangkan undian.
"Aku menang, aturan aku minta bos untuk membiayai pernikahanku dengan Caca saja. Tapi sudah terlanjur," sesal Vino. Bukannya kemarin meminta hal itu ini malah meminta salah satu mobil bosnya.
"Tapi tidak apa-apalah rejeki nomplok, aku mandi dululah. Terus jemput Caca, lalu pergi ke rumah bos Aftar." Vino bergegas dari atas tempat tidurnya, lalu dia pergi ke dalam kamar mandi.
Kinan yang masih nyaman di dada bidang suaminya, dia enggan bangun.
"Mas, kalian taruhan apa?" Tanya Kinan, jari-jarinya memainkan wajah tampan suaminya.
"Ada deh sayang, bangunlah bersihkan tubuhmu atau mas akan menggarapmu lagi?" Aftar tersenyum mesum, dan Kinan buru-buru bangun karena tidak mau kalau suaminya barulah lagi.
"Semalam saja masih terasa pegelnya, ini masih pagi-pagi sudah menyebalkan," batin Kinan dalam hatinya.
"Dasar mesum.....!!
Kinan langsung masuk ke dalam kamar mandi, kini dia sedang mandi tapi seperti biasanya Aftar menyusul akhirnya pagi ini mereka mandi berdua. Aftar dan Kinan juga sama-sama keramasan di pagi hari.
"Sabar Aftar, sebentar lagi jagoan kecil kamu akan lahir ke dunia ini." Batin Aftar dalam hatinya.
Setelah beberapa lama akhirnya mereka selesai mandi, mereka sama-sama berganti pakaian setelah selesai mereka langsung menuju ke meja makan.
Sanjaya sudah berada di meja makan menunggu kedua sejoli kesayangan ini.
"Pagi-pagi sudah pada mandi basah, dasar Aftar istri sedang hamil besar saja masih terus mengajaknya bermain-main," Sanjaya tertawa dalam hatinya.
"Kalian sarapanlah, Kinan cucu kakek tersayang. Kamu juga harus makan yang banyak ya, pasti suamimu ini sudah membuat kamu kelelahan." Kata Sanajaya, tatapannya begitu kesal pada Aftar.
"Awas saja kamu Aftar, nanti aku suruh kamu tidur di kamarku saja. Daripada cicitku kenapa-kenapa gara-gara mamanya terlalu kelelahan," batin Sanajaya dalam hatinya.
Sanjaya terlihat begitu kawatir, takut Kinan terlalu kelelahan karena ulah Aftar di atas ranjang. Jika Kinan kelelahan, nanti bagaimana dengan calon cicitnya? Pikiran Sanjaya sungguh traveling kemana-mana dia takut cicitnya kenapa-kenapa.
"Kakek, Kinan tidak apa-apa kok kek." Jawab Kinan malu-malu, tapi Aftar malah senyam-senyum.
"Kakek seperti tidak pernah mudah saja," batin Aftar dalam hatinya.
Mereka menikmati sarapan pagi mereka dengan begitu nikmat. Sanjaya juga lagi-lagi menyendokan nasi ke piring Kinan.
"Kamu harus makan yang banyak nak, kamu tidak boleh sakit!" Kata Sanyaja dengan penuh perhatian.
Kinan mengangguk pelan, dalam hatinya terus menggerutu rasanya ingin sekali menjewer telinga suaminya.
"Gara-gara Mas Aftar, lagian salah aku kenapa pagi-pagi sekali sudah keramasan. Aturan nanti malam saja," batin Kinan dalam hatinya.
Pagi ini Kinan harus makan banyak karena sang kakek yang memintanya.
Setelah selesai sarapan Kinan dan Aftar duduk di sofa sedangkan Sanjaya berjalan-jalan di halaman rumah.
"Mas, aku ke kenyangan gara-gara kamu." Kata Kinan, sambil mengelus-elus perutnya.
"Salah kamu, keramas pagi-pagi." Aftar tertawa kecil, padahal sendirinya juga keramasan.
"Dasar kamu itu mas," omel Kinan pelan.
"Sayang, lagian kakek tahu-tahuan ya semalam kita habis ehem-ehem," kata Aftar tawanya agak keras tapi Kinan langsung mencubit lengan tangannya. "Pelankan, suaramu mas!" Omel Kinan.
Mereka berdebat kecil gara-gara masalah keramasan di pagi hari.
"Tok...tok..." suara ketukan pintu.
"Ada orang, siapa pagi-pagi sudah bertamu." Kata Kinan, beranjak dari tempat duduknya.
"Vino sama Caca," cetus Aftar.
Kinan dan Aftar pergi membukakan pintu rumahnya dan ternyata itu benar Vino dan Caca.
"Kak Caca," Kinan memeluk Caca.
"Sayang, hati-hati dengan perutmu!" Pinta Aftar dan Kinan melepaskan pelukannya dari tubuh Caca.
"Pak Aftar, saya menang taruhan." Kata Vino mengedip-ngedipkan matanya.
"Taruhan apa?" Tanya Caca.
"Aku juga tidak tahu kak," jawab Kinan sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa kalian macam-macam di belakang kita?" Tanya Caca dan Kinan dengan kompak.
Aftar dan Vino saling menatap, kini wajah keduanya sulit di artikan.
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🤗