Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Pergi shopping


"Tok..tok..." suara ketukan pintu.


"Sebentar pak, masuklah!" sahut Vino dari dalam ruangannya.


"Ceklek.....!"


Caca membuka pintu ruangan Vino, lalu dia melangkahkan kakinya menuju ke meja kerja Vino. "Ada apa?" Tanya Vino dengan ketus.


Dalam hati Caca, apa dia harus bersikap sejutek ini? "Ini pak, saya mau mengantarkan kopi buat bapak," Caca menaruh secangkir kopi yang ada di tangannya di meja kerja Vino.


Vino tersenyum kecil, dalam hatinya ada angin apa tiba-tiba Caca membuatkan kopi untuk dirinya? Padahal Vino tidak meminta Caca untuk membuatkan dirinya kopi.


"Tumben?" Cetus Vino, kembali jutek.


"Apa ini wanita itu?" Cetus Aftar, matanya menatap Vino dengan tatapan penuh tanda tanya?


Raut wajah Vino berubah menjadi merah, ingin rasanya menghajar sang bos apalagi bos-nya ini bertanya di saat yang tidak tepat.


Caca menatap Aftar dengan tatapan bingung? Dia berpikir apa yang di maksud pertanyaan Aftar?


"Iya pak, hanya kopi tidak apa-apa. Saya permisi dulu ya pak." Jawab Caca sambil tersenyum.


"Iya, terimkasih kopinya." Jawab Vino, Dan Caca berlalu pergi dari ruangan Vino.


Setelah Caca keluar dari ruangannya, Vino melihat Aftar yang masih duduk di kursi dan tatapannya masih meminta penjelasan pada Vino.


"Katakan, apa wanita itu yang sudah membuatmu seperti orang gila?" Aftar kembali bertanya sambil mengedipkan satu matanya.


"Haruskah aku jujur pada Pak Aftar? Lagian Pak Aftar kepo sekali," Vino berbicara dalam hati.


"Tentu saja bukan pak, dia itu adalah gadis yang menyebalkan mana mungkin aku mau dengannya," elak Vino dia tidak mau jujur dengan Aftar karena tidak mau menjadi bahan olok-olokan sang bos.


Aftar tersenyum dia tahu kalau Vino itu sedang berdusta pada dirinya.


"Dasar bodoh, terlihat jelas di matamu kalau kamu mengagumi gadis itu. Tapi bukankah itu sahabatnya Kinan?" Batin Aftar dalam hatinya.


"Hati-hati dengan ucapanmu! Saat ini bilang menyebalkan, kita tidak tahu esok apa yang akan terjadi." Tutur Aftar, sambil cengar-cengir pada Vino.


Vino hanya tersenyum simpul, rasanya ingin mengakui perasaannya tapi dia juga masih ragu akankah Caca akan menerima dirinya nanti?


"Apasih pak, sekarang ada meeting ayo pak ke ruang meeting sekarang!" Ajak Vino sengaja mengalihkan pembicaraan Aftar.


Aftar dan Vino langsung pergi ke ruang meeting.


***


Jam menunjukkan pukul 9 pagi, Kinan, Sanajaya, Ijah dan Arif sudah pulang dari taman.


Kinan duduk di sofa, Sanjaya juga ikut duduk di sofa. "Kinan, mau makan sesuatu tidak nak?" Tanya Sanjaya dengan nada lembut.


"Tidak kek, Kinan tidak pingin makan apa-apa," jawab Kinan dengan senyum manisnya.


Sanjaya tersenyum, bahagia sekali melihat Kinan yang terus tersenyum bahagia.


"Apa kamu mau jalan-jalan nak? Ayo kita pergi shopping!" Ajak Sanjaya dengan antusias.


Kinan yang merasa jenuh di rumah akhirnya dia mau di ajak shopping oleh Sanjaya. Arif dan Ijah juga ikut dengan mereka ke mall.


Di perjalanan menuju mall, Sanjaya dan Kinan terus mengobrol.


"Kakek ingin sekali membeli perlengkapan bayi untuk calon cicit kakek," tutur Sanjaya. Membuat Kinan tertawa kecil.


"Lihat nak kakek buyutmu begitu antusias padahal kamu masih kecil di dalam perut mama. Tapi kakek sudah ingin membelikan perlengkapan bayi," batin Kinan dalam hatinya.


"Kek, nanti saja kalau mau membeli perlengkapan bayi. Lagian kan ke hamilan Kinan baru beberapa minggu kek," jawab Kinan dengan nada lembut.


"Baiklah, hari ini kamu boleh membeli apa saja yang kamu mau nak!" Kata Sanjaya dan Kinan menganggukan kepalanya.


Kini mereka sedang mengitari mall dan akhirnya Kinan meminta berhenti di toko pakaian laki-laki.


"Kok ke toko pakaian laki-laki, nak?" Tanya Sanjaya sambil melihat Kinan.


"Kinan ingin membelikan baju buat Mas Aftar kek, bolehkan kek?" Kinan melihat Sanjaya sambil tersenyum.


"Tentu saja nak boleh, ayo kita pilihkan yang cocok untuk suamimu." Sanjaya membalas senyum Kinan.


Kini Kinan memilih pakaian untuk Aftar dan Arif mendorong kursi roda Sanjaya.


"Kakek, ini bagus tidak?" Tanyak Kinan dia memperlihatkan jas setelan warna abu-abu yang dia pilih pada Sanjaya.


"Bagus nak," jawab Sanjaya. Matanya terus memperhatikan Kinan yang begitu antusias memilihkan pakain untuk suaminya.


Kinan memilih dua setelan jas warna abu-abu dan warna biru dongker untuk suaminya, dia juga membelikan beberapa dasi baru untuk sang suami.


Setelah selesai membeli pakaian untuk suaminya, Kinan juga memilihkan baju kemeja untuk sang kakek.


Setelah Kinan memilih pakaian kakeknya dan suaminya, Sanjaya langsung pergi ke kasir untuk membayar belanjaan Kinan.


Kini mereka kembali melanjutkan perjalanan dan Sanjaya meminta berhenti di toko baju hamil. Sanjaya membelikan banyak baju hamil untuk Kinan, karena dia tahu pasti semakin hari perut Kinan akan semakin besar jadi menurut Sanjaya baju hamil itu akan sangat di butuhkan oleh Kinan nantinya.


Akhirnya mereka selesai berbelanja dan kini mereka langsung pulang ke rumah, karena Kinan juga sangat lelah sekali.


****


Di kantor Aftar, Aftar dan Vino sudah selesai meeting. Kini mereka sedang berada di dalam ruangan Aftar, Aftar dan Vino duduk di sofa.


"Vin, apa kamu sudah siap untuk mengakhiri masa jomblo kamu? Sudahkan kau melupakan masa lalumu?" Tanya Aftar penuh selidik.


"Entahlah pak, tapi gadis itu sungguh membuat aku tertarik." Jawab Vino dengan begitu santai.


"Jika kamu tertarik dengannya, maka kerjalah! Lupakan masa lalumu," tutur Aftar sok bijak.


Aftar juga sebenarnya merasa kesal karena Vino terus mengingat masa lalunya, bukan Aftar tidak menghargai masa lalu Vino tapi untuk apa terus mengingat? Orang yang sudah pergi untuk selamanya, bukankah itu tidak baik. Apalagi masa depan Vino itu masih sangat panjang.


"Tapi aku tidak yakin, apakah gadis itu mau denganku?" Vino tidak yakin dengan hatinya.


"Aku tidak tahu, tapi kalau kamu berusaha mungkin gadis itu akan lulu dengan sendirinya," Aftar meyakinkan Vino.


Sejenak Vino terdiam mencerna perkataan Aftar, menurut Vino perkataan Aftar itu benar juga.


"Mungkin saja pak, akan saya coba nanti!" Jawab Vino dengan begitu yakin, dia terus meyakinkan hatinya untuk mengerjar cinta Caca.


Tiba-tiba ponsel Aftar berdering, ternyata telpon dari Kinan.


"Kinan, menelpon."


Aftar mengangkat telpon dari Kinan dengan begitu bahagia.


"Hallo sayang," sapanya Aftar dengan begitu manis.


"Sayang, cepat pulang! Aku merindukanmu," Kata Kinan dengan begitu manja.


"Baiklah, aku akan segera pulang." Jawab Aftar sambil mematikan saluran ponselnya.


Tanpa menunggu lama Aftar langsung pulang ke rumah.


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


Maaf ya baru up, baru pulang dari acara reuni sekolah 🙏