
Sesampainya di rumah Vino, langsung buru-buru membawa Caca ke rumah sakit.
Sambil menyetir mobil Vino terlihat begitu kawatir, apalagi sebelumnya Vino tidak pernah melihat Caca seperti ini.
"Sayang, kamu itu salah makan apa?" Tanya Vino sambil terus menyetir mobilnya.
"Makan apa? Aku tidak makan apa-apa, makan nasi saja tidak sudah beberapa hari ini," jawab Caca sambil terus berpikir, apa dia salah makan sesuatu?
Vino mendengus kesal, apa-apaan istrinya ini? Kebutuhan pokok, uang belanja, bahkan semua keperluan Vino siapkan semuanya dengan baik tapi bisa-bisanya Caca tidak makan nasi selama beberapa hari ini? Dan bodohnya Vino sampai tidak tahu karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Bukannya makan, jadi sakit kan!" Omel Vino dengan nada agak membentak.
Seketika hati Caca merasa sedih bahkan air matanya tiba-tiba menetes mendengar omelan dari Vino yang agak membentak dirinya.
Sesampainya di rumah sakit, Vino memarkirkan mobilnya. Lalu dia melihat ke arah Caca, Vino merasa bersalah karena buliran air mata sudah membasahi pipi mulus istrinya.
"Sayang, maafkan mas. Sungguh mas sangat kawatir padamu," tutur Vino dia memegang tangan Caca lalu menciumnya dengan hangat.
Vino melepaskan pegangan tangannya, lalu dia menghapus air mata di pipi Caca.
"Sudahlah, kamu tidak boleh menangis! Ayo kita periksa kesehatan kamu dulu." Vino melihat Caca dengan penuh kasih sayang.
Kini Vino turun dari mobil lebih dulu, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Caca.
Setelah keduanya sama-sama turun dari dalam mobil, Vino memapah Caca masuk ke dalam rumah sakit.
Kini Caca sedang melakukan pemeriksaan, sedangkan Vino sedang duduk menunggu Caca selesai di periksa. Terlihat wajah Vino sangat kawatir, dia takut Caca kenapa-kenapa karena terus muntah-muntah dari tadi pagi.
Setelah selesai pemeriksaan, Dokter langsung menemui Vino yang sudah menunggu dari tadi, Caca juga sudah duduk di sebelah Vino.
"Dok, istri saya kenapa?" Tanya Vino, terlihat begitu kawatir.
"Istri bapak baik-baik saja, dan sekarang istri bapak sedang hamil," jawab Dokter sambil tersenyum.
"Hamilll?!"
"Aku hamil mas?!"
Caca dan Vino saling menatap satu sama lain, lalu Dokter menganggukkan kepalanya.
"Sudah berapa bulan Dok?" Tanya Vino antusias.
"Sudah jalan 2 bulan, dan kandungan harus di jaga dengan baik. Istri anda juga tidak boleh terlalu kecapean," jelas Dokter pada Vino.
Vino menganggukkan kepalanya dengan begitu semangat, Dokter memberikan resep obat pada Vino untuk Caca minum selama masa kehamilannya dan untuk mengurangi rasa mualnya.
Setelah selesai pemeriksaan Vino langsung pulang, tidak lupa dia membeli resep dari sang Dokter yang tadi di berikan pada Vino.
Setelah beberapa lama akhirnya Caca dan Vino sampai di rumah, Vino langsung menyuruh Caca untuk berbaring di atas ranjang tempat tidur bahkan Vino juga melarang Caca turun dari tempat tidur karena takut Caca kelelahan.
"Tetaplah berbaring, jagalah benih mas dengan baik!" Pinta Vino dengan nada lembut.
"Mas, jika aku terus berada di atas ranjang aku akan merasa sangat bosan," protes Caca tapi Vino kekeh dan tetap menyuruh Caca berbaring saja.
Vino duduk di tepi ranjang, bahkan saat ini dia sedang memijat kaki Caca dengan lembut. Caca hanya diam dia tidak melakukan protes lagi, karena percuma jika protes juga Vino pasti tidak akan mendengarkannya.
Vino sangat bahagia, karena akhirnya istrinya hamil dan ternyata resep yang di berikan oleh para sahabat koplaknya ini cukup topcer dalam membuat adonan.
*****
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Kinan terdiam sendirian di kamar karena Kenzo juga sudah tidur.
"Keadaan Kak Caca, bagaimana ya? Aku telpon dia sajalah." Kinan mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya. Lalu menekan no ponsel Caca.
Caca yang sedang berbaring di atas tempat tidur sambil membaca novel, dia mengangkat telepon dari dari Kinan.
"Hallo Kak, Kak Caca bagaimana? Tadi sudah ke Dokter kan?" Tanya Kinan kawatir.
"Sudah Kin, aku hamil Kin dan kandungan aku sudah berjalan mau dua bulan." Jawab Caca dengan begitu bahagia.
"Syukurlah kak, kamu banyakin istirahat ya kak jangan terlalu kecapean!" Tutur Kinan dengan nada lembut.
"Ceklek....." suara gagang pintu.
"Sayang, aku pulang." Kata Aftar, matanya terlihat curiga pada Kinan.
"Malam-malam seperti ini, Kinan telpon siapa?" Tanya Aftar dalam hatinya.
"Sudah dulu ya kak, suamiku pulang." Kinan menutup saluran teleponnya.
Kinan beranjak dari tempat tidurnya, lalu dia menghampiri suaminya yang sedang melepaskan sepatunya.
"Kamu habis telpon siapa?" Tanya Aftar, dia takut Kinan menelpon laki-laki lain.
"Menurut mas siapa?" Goda Kinan, dia membantu Aftar melepaskan dasinya.
"Suamimu bertanya, haruskah kamu balik bertanya?" Aftar menatap Kinan tajam.
Kinan tahu pasti suaminya ini berpikir kalau dirinya menelpon laki-laki lain di belakangnya.
"Aku habis telpon Kak Caca, oh iya mas mau makan malam dulu?" Jawab Kinan, kini Kinan hendak berjalan menaruh dasi di keranjang tempat pakaian kotor tapi tangan kekar Aftar tiba-tiba menariknya hingga Kinan jatuh tepat di pangkuannya.
Kini mata mereka saling bertemu satu sama lain, tatapan mereka seperti biasanya begitu dalam dan penuh dengan cinta.
"Kenapa menelpon Caca malam-malam? Bukannya kalau siang kamu bermain ke rumahnya?" Tanya Aftar penuh selidik.
"Apa mas, sedang mencurigaiku? Ingat kita sudah punya ekor satu, jangan berpikir macam-macam!" Omel Kinan, menjitak jidat suaminya dengan pelan.
"Dasar kamu ini, sudah mulai berani ya sama mas," Aftar tersenyum mesum.
Kinan juga ikut tersenyum lalu dengan manja Kinan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Mas yang mulai, cemburuan mas yang tingkat dewa masih saja tidak hilang!" Kinan memainkan jari-jarinya di dada bidang suaminya.
"Sayang, istriku begitu cantik. Mana mungkin aku tidak cemburu jika laki-laki lain berusaha merebut kamu dari hidupku," protes Aftar tidak mau mengalah.
Kinan hanya diam, bahagianya punya suami seperti Aftar biarpun cemburuan tingkat dewa, tapi Aftar adalah suami terbaik bagi Kinan.
"Tidak ada akan yang merebut Kinan dari hidup mas," Kinan meyakinkan Aftar. Apalah Kinan ini yang sudah sepenuhnya memberikan hidupnya untuk Aftar Sanjaya.
Aftar percaya, dia memeluk Kinan dengan erat dan menimbulkan rasa hangat di dalam pelukan manja itu.
"Mas tahu, jika ada yang berani maka mas akan menghancurkan laki-laki itu seperti debu." Tegas Aftar, dan Kinan hanya bisa memeluk suaminya lebih erat.
"Mas, jika ada wanita lain yang berusaha mengambil kamu dari hidupku, aku juga tidak akan rela." Batin Kinan dalam hatinya.
"Sayang, Kenzo sudah tidur?" Tanya Aftar dengan suara pelan.
"Sudah mas, kenapa mas?" Kinan balik bertanya, dan Aftar kembali tersenyum mesum.
"Bagus, tunggulah mas! Mas mandi dulu, kamu jangan tidur dulu!" Aftar menurunkan Kinan dari pangkuannya.
Kinan menatap Aftar dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Mas Aftar mau ngapain?"
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 😘