Menikah Kontrak 100 Hari

Menikah Kontrak 100 Hari
Kado dari Vino


Malam menunjukkan pukul 10 malam, Aftar dan Kinan sudah sampai rumah. Vino dan Caca juga sudah pulang setelah mengantarkan Aftar dan Kinan sampai rumahnya.


Kinan duduk di tengah-tengah ranjang tempat tidur sambil memegangi pinggangnya karena merasa sakit.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Aftar, dia terlihat kawatir melihat Kinan meringis seperti sedang menahan rasa sakit.


"Mas pinggang aku sakit, mungkin karena kelelahan." Jawab Kinan kemudian Aftar membantu Kinan berbaring.


Kinan tidur dengan posisi membelakangi suaminya, tangan kekar Aftar mengusap-usap pinggang Kinan berharap bisa mengurangi rasa sakit yang sedang Kinan rasakan.


Dalam hati Aftar, ternyata jadi wanita itu sangat sulit mereka harus hamil, mereka harus melayani suami mereka dengan baik, bahkan mereka bisa menjadi apa saja dalam rumah tangganya sedangkan laki-laki hanya kerja mencari uang dan mencukupi istrinya. Terimakasih sayang, aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbananmu menjadi seorang istri dan itu bisa aku jadikan pedoman untuk tidak bermain wanita lain.


"Bagaimana?" Tanya Aftar tangannya masih terus mengusap-usap pinggang isterinya.


Kinan tidak menyahuti suaminya bertanya, Aftar mengecek Kinan. Ternyata Kinan sudah lelap tertidur.


"Ternyata sudah tidur," tangan Aftar menghentikan kegiatannya lalu dia memeluk Kinan dari belakang.


Aftar tersenyum karena tubuh sang istri yang dulu begitu mungil dan sangat mudah di peluk seperti bantal guling. Sekarang tidak apalagi selama masa kehamilan berat badan Kinan naik hampir 10 kg, pipi Kinan saja terlihat begitu tembem.


"Aku mencintaimu." Aftar mencium pucuk rambut Kinan dengan lembut.


Malam semakin larut, Aftar juga sudah terlelap dengan pulas.


******


Di sebuah hotel mewah, Karin dan Reno berada di salah satu kamar hotel itu. Di malam yang begitu larut Karin dan Reno juga masih sama-sama terjaga.


"Kamu lelah, sayang?" Tanya Reno, tangan kekarnya mengusap pipi mulus Karin.


"Kaki aku pegal, mas." Jawab Karin, membuat Reno tersenyum simpul.


Dulu waktu belum menikah Karin memanggil Reno dengan sebutan Pak Reno. Tapi setelah sah menjadi suami-istri Reno meminta Karin untuk memanggil dirinya dengan sebutan Mas Reno.


Reno duduk di sebelah Karin, lalu kedua tangannya meraih kaki Karin dan Reno mulai memijat kaki Karin dengan lembut. "Jangan terlalu kecapean, kasian anak kita yang sedang kamu kandung." Tutur Reno dengan nada lembut.


Seketika mata Karin berkaca-kaca, betapa tulusnya Reno pada dirinya dan anak yang sedang Karin kandung.


"Mas, terimakasih sudah menerimaku dan anakku dengan iklhas." Karin meneteskan air matanya, rasa haru kali ini menyelimuti hatinya dan perasaannya.


Reno tersenyum, lalu menghentikan kegiatannya dan kini dia membawa Karin masuk ke dalam pelukannya.


"Anak kita sayang, aku janji akan menyayangi kamu dan anak kita selamanya." Reno tersenyum, dengan lembut Reno memberikan kecupan di kening Karin dengan hangat.


"Sudah malam, kamu istirahatlah!" Kata Reno, tapi Karin menggelengangkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Reno.


"Mas, tidak mau minta jatah malam pertama?" Tanya Karin dengan jail.


"Kamu sedang hamil, tadi kecapean karena repsesi jadi malam ini kita istirahat saja," jawab Reno sambil tersenyum. Dia tidak mau kalau anak dalam kandungan Karin itu terlalu kelelahan.


"Tapi mas...." rengkek Karin dengan manja.


Tiba-tiba pintu kamar hotel mereka ada yang mengetuk. "Sebentar sayang!" Reno beranjak dari ranjang tempat tidur lalu membukakan pintu kamar hotelnya.


"Selamat malam, pak?" Sapa Reno dengan sopan.


"Pak ada paket, buat Nyonya Karin." Kata pelayan hotel sambil memberikan paket yang ada di tangannya.


Reno menerima paket itu dan dia kembali ke kamar.


"Paket, dari Vino ini tulisannya. Siapa Vino?" Tanya Reno, matanya terlihat curiga bahkan hatinya diselimuti rasa cemburu.


"Vino, yang tadi datang bersama kekasihnya. Mungkin itu kado dari dia. Sini biar aku buka," jawab Karin.


Reno memberikan paket itu pada Karin, Karin membukanya. Setelah melihat isinya Karin tertawa kecil.


"Dasar Vino, ternyata dia tidak sepolos apa yang aku kira. Bahkan dia tahu obat tahan lama," batin Karin dalam hatinya.


"Ini bukannya obat tahan lama," kata Reno sambil tersenyum. "Temanmu ini pintar sekali sayang, milikku tergoda, dia terus meronta-ronta pingin di puaskan!" Sambung Reno, tangannya terus memegangi miliknya yang terlihat menonjol dari dalam sana.


Karin menarik tangan Reno, hingga Reno terduduk. "Aku bisa menjadi j*lang yang nakal. Apa kamu mau mas?" Bisik Karin begitu menggoda.


Tanpa menunggu lama, Reno mendaratkan bibirnya di bibir Karin, kini keduanya sama-sama menikmati sensasi panas yang begitu nikmat. "Mas, mau di pakai tidak obatnya?" Tanya Karin dengan suara agak mendesah.


"Tidak sayang." Reno melepaskan ciumannya, lalu dia membaringkan tubuh Karin di atas kasur lalu Reno menindih tubuh Karin dengan pelan, tangannya sibuk melepaskan kancing baju tidur Karin. Reno mulai menanggalkan satu-persatu baju Karin lalu membuangnya ke sembarang tempat.


Kini tubuh Karin sudah sepolos toples, Reno mengarahkan bibirnya ke p*t*ng Karin lalu megh*s*pnya dengan pelan dan tangan yang satunya mer*m*s s*s* Karin yang satunya.


"Ahcc....mmmm" Karin menglinjang merasakan kenikmatan demi kenikmatan yang Reno berikan, desahan demi desahan keluar dari mulut keduanya.


Setelah puas dengan bagian g*n*ng k*mb*r milik Karin, Reno mengarahkan bibirnya ke bawah karena miliknya sudah sangat t*g*ng.


Reno membuka sl*k*ngan Karin dengan pelan, Reno tersenyum lalu mengarahkan miliknya ke dalam sana.


Reno mulai melepaskan celananya dan bajunya lalu membuangnya ke sembarang tempat. Dengan lembut Reno mengg*s*k-g*s*kkan miliknya ke milik Karin. Karin terus mendesah penuh kenikmatan, ternyata permainan Reno tidak kalah jago dari para laki-laki yang pernah tidur dengan Karin.


Setelah beberapa lama, Reno memasukkan miliknya ke dalam milik Karin. Tidak butuh waktu lama apalagi milik Karin yang sudah tidak pr*w*n lagi dan sering di masukin. Itu membuat Reno hanya melakukan dengan sekali hentakan saja.


Setelah beberapa lama akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncaknya, tapi malam ini Reno mengel*arkan ca*iran hangatnya di luar. Setelah puas Reno menjatuhkan dirinya di sebelah Karin.


Karin tersenyum, lalu Reno membawa dirinya masuk ke dalam pelukannya.


"Tidurlah, mas lelah!" Kata Reno, tidak lupa sebelum tidur Reno memberikan kecupan hangat di kening istrinya.


Biarpun bukan menjadi laki-laki yang pertama, tapi Reno tidak mempermasalahkan itu, Reno akan mencintai Karin selamanya.


*****


Pagi menujukan pukul 7, Vino dan Aftar sudah berada di kantor. Kini mereka sedang berada di ruangan Aftar.


"Vin, aku sudah menikah, Karin juga sudah. Lalu kamu kapan?" Tanya Aftar dengan nada meledek.


"Aku juga bingung pak, aku kapan?" Jawab Vino sembarangan.


"Dasar kamu ini, sudahlah menikah saja! Menikah itu senang kok tidur ada yang nemenin, pulang kerja ada yang nungguin." Celoteh Aftar, yang membuat Vino hanya diam sambil berpikir.


"Akan saya pikirkan pak." Jawab Vino singkat.


"Apa Caca sudah siap jika aku ajak menikah?" Batin Vino dalam hatinya.


"Keburu di ambil laki-laki lain Vin," Aftar tersenyum jail.


Vino terdiam, dia sedang memikirkan bagaimana cara melamar Caca?


BERSAMBUNG 🤣


Terimakasih para pembaca setia 🤗